Bacaini.ID, BLITAR – Lahar Gunung Kelud tidak akan berani menyentuh kediaman Eyang Djojodigdo yang bertempat di Kota Blitar Jawa Timur.
Kelud meletus pada tahun 1901, 1919, 1965, 1990, 2008 dan terakhir 2014. Diyakini oleh sebagian masyarakat Blitar, lahar tidak berani dengan Eyang Djojodigdo.
Sehebat apapun erupsinya lahar Kelud tidak akan mendatangi Djojodigdan (Kediaman Eyang Djojodigdo). Maksimal hanya udan awu, hujan debu yang mengotori genting.
Eyang Djojodigdo memiliki cambuk atau cemeti berkekuatan metafisik. Cambuk yang mampu membuat lahar Kelud takut. Namanya Kiai Samandiman.
Ketika dilecutkan, gelegar suaranya membuat lahar Kelud berhenti mendekat, bahkan berbelok arah, menjauh. Semacam fungsi remote control yang mampu menggeser channel.
Ada cerita yang cukup populer. Pada suatu peristiwa erupsi Gunung Kelud, lahar panas telah mencapai pendopo Djojodigdan. Para pengungsi panik, merasa ajal sudah seujung rambut.
Namun lahar tiba-tiba beringsut dan membelok ke arah lain. Lahar terusir oleh bunyi gelegar cambuk Kiai Samandiman. Kediaman Djojodigdan aman dan warga selamat.
“Eyang (Eyang Djojodigdo) juga rutin menggelar ritual rampogan macan sebagai tolak balak amukan Kelud,” tutur Mbah Lasiman, penjaga pesarean Djojodigdan Kota Blitar kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Viral! Mbah Kirno Dikurung 20 Tahun di Ponorogo karena Ilmu Rawarontek, Polisi Ungkap Fakta ODGJ
Profil Eyang Djojodigdo
Raden Mas Ngabehi Pawadiman Djojodigdo atau dikenal dengan Eyang Djojodigdo merupakan Patih Kadipaten Blitar di masa kolonial Belanda.
Pawadiman Djojodigdo lahir 28 Juli 1827 di Kulon Progo, Yogyakarta di saat Perang Jawa (1825-1830) tengah berkecamuk.
Kartodiwirjo, ayah Djojodigdo seorang Adipati Nggetan, Kulon Progo yang bergelar Raden Mas Tumenggung (RMT). RMT Kartodiwirjo berafiliasi kepada Pangeran Diponegoro.
Penangkapan Pangeran Diponegoro membuat karir Kartodiwirjo di pemerintahan berakhir. Bahkan ia jadi buronan Belanda.
Pawadiman Djojodigdo yang masih umur belasan tahun, tumbuh mandiri. Menempa diri dengan menempuh laku riyadhoh (tirakat) serta berkelana.
Djojodigdo berguru pada orang–orang berkemampuan spiritual termasuk kepada Eyang Jugo atau Mbah Jugo atau Raden Mas Suryo Diatmojo, putra Kiai Zakaria, ulama besar Kraton Yogyakarta.
“Eyang Jugo merupakan guru Eyang Djojodigdo,” terang Mbah Lasiman.
Djojodigdo mendengar Blitar sebagai kawasan yang gawat. Di mana-mana berkeliaran begal, kecu, dan perampok. Bukan hanya jahat, mereka juga terkenal sakti.
Situasi sosial yang mencekam itu tidak mampu diatasi para punggawa Kadipaten Blitar. Prihatin dengan apa yang ada Eyang Djojodigdo menawarkan diri kepada Bupati Blitar Kanjeng Adipati Warso Koesoemo.
Menawarkan diri sanggup mengatasi gangguan keamanan yang terjadi. Oleh bupati diiyakan. Djojodigdo dikenal memiliki ajian Pancasona dan itu bikin nyali para penjahat ciut.
Mereka memilih menyingkir ketimbang bertarung dan binasa di tangan Djojodigdo. Pancasona atau Rawarontek merupakan kesaktian pilih tanding. Pemiliknya tak bisa dibunuh.
Acapkali mati pengamal Pancasona akan hidup lagi selagi jasadnya menyentuh tanah. Atas keberhasilannya Kanjeng Adipati Warso Koesoemo mengangkat Djojodigdo sebagai Patih Kadipaten Blitar.
Peristiwa pengangkatan sebagai Patih Blitar itu berlangsung pada 8 September 1877.
Patih Djojodigdo mangkat pada 11 Maret 1909 dan dimakamkan di pesarean Djojodigdan. Pesarean yang di Kota Blitar lebih dikenal dengan sebutan Makam Gantung.
Sebutan itu merujuk pada mitos tradisi pengamal ilmu Pancasona atau Rawarontek yang hidup kembali ketika jasad menyentuh tanah. Karenanya di lokasi pesarean terdapat keranda dalam posisi tergantung.
Menurut penuturan Mbah Lasiman, dari cerita yang ia ketahui, saat meninggal dunia jenazah Eyang Djojodigdo dimakamkan seperti pada umumnya pemakaman.
Penulis: Solichan Arif





