Bacaini.ID, KEDIRI — Siapa yang tak kenal Jamu Cap Potret Nyonya Meneer? Semua orang mengenalnya terutama generasi baby boomers, gen X hingga milenial. Ikon jamu tradisional Jawa ini pernah menguasai pasar jamu di Indonesia bahkan Asia Tenggara.
Nyonya Meneer berhasil membawa citra pengobatan tradisional naik kelas. Brand herbal asli Indonesia ini bertahan selama beberapa dekade sebelum akhirnya diputus pailit oleh pengadilan niaga Semarang pada tahun 2017.
Pendiri Nyonya Meneer adalah Lauw Ping Nio, perempuan peranakan Tionghoa asal Sidoarjo Jawa Timur yang sejak kecil memiliki nama panggilan Menir.
Kemampun Menir meracik jamu Jawa diperoleh dari ibunya. Keluarga mereka adalah salah satu keluarga peranakan Tionghoa kelas menengah di Sidoarjo, Jawa Timur.
Kala itu, Sidoarjo merupakan daerah pertanian subur dengan tradisi yang masih kental. Rempah dan rimpang bisa didapatkan dengan mudah.
Baca Juga: Sejarah Jamu Jawa, Terpahat pada Relief Candi, Prasasti Hingga Karya Sastra
Sejarah Berdirinya Jamu Nyonya Meneer
Lauw Ping Nio lahir dari pasangan keturunan Tionghoa di Sidoarjo pada 19 September 1895. Ayahnya, pengusaha furniture dan papan kayu. Sementara Ibunya dikenal cakap dalam meracik jamu tradisional resep leluhur.
Konon, selama kehamilannya, ibu Lauw Ping Nio mengidam memakan beras sisa hasil penumbukan yang dalam bahasa Jawa disebut beras menir. Dari sinilah nama ‘menir’ ia dapatkan.
Banyak yang mengira, meneer merupakan kosa kata Belanda, padahal panggilan tersebut adalah asli dari kosa kata Jawa: menir.
Sejak kecil Lauw Ping Nio memiliki nama panggilan kesayangan ‘menir’ dan terus berlanjut hingga dewasa. Karena hidup di era kolonial Belanda, penulisan kata ‘menir’ sesuai dengan ejaan saat itu: meneer.
Besar dengan tradisi China-Jawa yang kental, Meneer kecil telah terbiasa dengan racikan jamu ibunya dan etos kerja keras dari ayahnya. Dua hal mendasar yang kelak membesarkan namanya.
Tahun 1912, Meneer menikah dengan Ong Bian Wan dan pindah mengikuti suaminya ke Semarang. Di sinilah cikal bakal berdirinya usaha jamu tradisional Nyonya Meneer.
Berawal dari suaminya yang sakit tak kunjung sembuh, Meneer akhirnya mencoba membuat jamu dari resep ibunya. Ternyata jamu racikannya berhasil membuat suaminya sembuh, dan ini menginspirasinya untuk terus membuat jamu tradisional secara kkomersil.
Jamu Sariawan Usus menjadi racikan legendaris pertama bagi Nyonya Meneer. Setelah jamu ini berhasil menyembuhkan suaminya yang sakit parah, masyarakat sekitar mulai berdatangan meminta tolong dibuatkan jamu.
Hingga pada tahun 1919, terciptalah produk jamu dengan nama Jamu Cap Potret Nyonya Meneer, dan memroduksi beberapa jenis racikan seperti Jamu Habis Bersalin, Jamu Awet Ayu, Jamu Sehat Badan dan tentu saja Jamu Sariawan Usus.
Logo yang digunakan merupakan foto asli Nyonya Meneer sendiri. Penggunaan wajah pada kemasan bertujuan sebagai jaminan kualitas dan bentuk tanggung jawab pribadi bahwa ramuan tersebut asli buatannya dan berkhasiat.
Di masa itu, mencantumkan wajah di kemasan produk adalah hal yang sangat berani dan inovatif. Awalnya, jamu hanya dipasarkan dengan sistem getok tular, dari mulut ke mulut, dan berkeliling menggunakan bakul, sebelum akhirnya membuka toko kecil di Jalan Raden Patah, Semarang.
Kisah Sukses 98 Tahun Jamu Nyonya Meneer
Lauw Ping Nio atau Nyonya Meneer, memiliki 5 orang anak. Memiliki bisnis jamu yang sudah berkembang pesat di zamannya, ia pun dibantu oleh anak-anaknya.
Tahun 1940-an, atas saran anak perempuannya, Nonnie (Ong Djian Nio) yang telah tinggal di ibukota, Nyonya Meneer melakukan ekspansi bisnis dengan membuka toko di Jakarta.
Di Jakarta, Nyonya Meneer dibantu oleh dua anaknya Nonnie dan Hans Ramana (Ong Han Houw). Nonnie mengembangkan pemasaran produk dan Hans bertanggungjawab pada produksi. Bisa dibilang, Hans menjadi kaki tangan Nyonya Meneer.
Pabrik jamu baru-pun dibangun dengan lebih modern. Salah satu kunci kesuksesan jamu Nyonya Meneer adalah adaptif pada kemajuan teknologi.
Di tengah situasi negara yang sedang bergolak kala itu, eksistensi Jamu Cap Potret Nyonya Meneer layak diapresiasi. Alih-alih terpengaruh dengan kondisi sosial politik, mereka terus tumbuh berkembang.
Hal ini tak lepas dari sektor bisnis yang tepat digarap di eranya. Di saat obat-obatan medis sulit untuk didapatkan, mahal dan langka, jamu menjadi alternatif dan satu-satunya pilihan masyarakat. Semua kalangan, menjadi terbiasa dengan jamu tradisional: dari rakyat biasa hingga elit.
Bisnis Jamu Cap Potret Nyonya Meneer terus berkembang hingga generasi ketiga, cucu-cucu Nyonya Meneer.
Perusahaan mulai mengalami goyah ketika Hans Ramana, putra Nyonya Meneer yang selama ini menjadi orang kepercayaan, meninggal dunia pada tahun 1976.
Di usianya yang sudah senja dan mulai sakit-sakitan, Nyonya Meneer kembali menjadi pusat dari bisnis keluarga yang sudah tumbuh meraksasa. Orang yang dipercaya untuk menjadi penerusnya, berpulang terlebih dahulu.
Dua tahun kemudian, 1978, Lauw Ping Nio pemilik Jamu Cap Potret Nyonya Meneer, meninggal dunia meninggalkan warisan perusahaan jamu terbesar di Indonesia.
Perusahaan pun dilanjutkan oleh generasi ketiga Nyonya Meneer dan berjalan tidak mulus. Tidak adanya pemimpin yang menjadi patron, membuat generasi ketiga dari 5 keluarga keturunan Nyonya Meneer ini kurang serasi dan berjalan sendiri-sendiri yang pada akhirnya membuat perusahaan semakin goyah.
Perebutan kekuasaan dan sengketa ke pengadilan, mewarnai jalannya perusahaan Nyonya Meneer selama era 1984-2000. Bahkan pemerintah pun turun tangan mengingat ada ribuan nasib karyawan yang menjadi taruhan.
Hingga pada tahun 1991, Charles Ong Saerang akhirnya menjadi satu-satunya pemimpin perusahaan melalui akuisisi saham saudara-saudaranya demi perusahaan tak hancur karena konflik internal.
Ia merupakan generasi ketiga Nyonya Meneer, anak dari Hans Ramana. Dibawah kendali Charles, Jamu Nyonya Meneer mencapai puncak kejayaan global sebelum akhirnya dihantam badai keuangan yang berujung pailit pada tahun 2017.
Kini, meskipun perusahaannya sudah tidak ada karena telah diputus pailit oleh pengadilan, merk dagang jamu Nyonya Meneer masih bisa ditemukan karena hak mereknya telah dibeli atau berpindah tangan ke pihak lain.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





