• Login
Bacaini.id
Thursday, March 19, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Sejarah Jamu Jawa, Terpahat pada Relief Candi, Prasasti Hingga Karya Sastra

ditulis oleh Editor
11 November 2024 05:00
Durasi baca: 3 menit
Sejarah Jamu Jawa, Terpahat pada Relief Candi, Prasasti Hingga Karya Sastra. (foto/Indonesia Gastronomy Network)

Sejarah Jamu Jawa, Terpahat pada Relief Candi, Prasasti Hingga Karya Sastra. (foto/Indonesia Gastronomy Network)

Bacaini.ID, KEDIRI – Jamu merupakan salah satu warisan nenek moyang Nusantara yang terkenal hingga kini. Masyarakat nusantara, khususnya Jawa mengenal jamu sejak era kerajaan Mataram kuno.  

Tradisi meracik dan mengonsumsi jamu sebagai minuman kesehatan, ramuan obat lulur atau kompres dan detoksifikasi tubuh, berkembang pada era Hindu- Buddha.

Dilansir dari Google Arts & Culture, jejak pengobatan tradisional Jawa ditemukan pada sejumlah panil relief Karmawibhangga.

Relief yang terdapat pada bagian bawah Candi Borobudur itu memperlihatkan sosok laki-laki yang sedang dipijat dari kepala hingga dada dengan menggunakan ramuan.

Dalam relief juga terlihat visual seseorang membawa wadah berisi ramuan jamu untuk diminum. Digambarkan suasana penghormatan dan rasa syukur pada kesembuhan seseorang.

Pada bagian lain, terdapat juga relief yang menggambarkan ilustrasi beberapa tanaman yang dikenal sebagai bahan baku ramuan jamu.

Relief dengan visual serupa juga ditemukan pada beberapa candi, di antaranya Candi Prambanan, Penataran, Sukuh dan Tegawangi.
Jejak sejarah jamu sebagai obat dan minuman kesehatan juga ditemukan pada masa Kerajaan Majapahit.

Bahkan Hayam Wuruk (Raja Majapahit) mengatur rinci syarat pengobatan: dilarang melakukan pengobatan hanya demi uang dan dianggap sebagai pencuri jika dilanggar.

Selain itu raja berhak menghukum mati seseorang yang mencoba menyembuhkan sakit brahmana Hindu, namun gagal dan berakibat kematian.

Pengobatan tradisional yang melibatkan ramuan atau jamu di dalamnya juga tercatat dalam sejumlah prasasti.

Prasasti Balawi (1305 M) pada era Majapahit misalnya, menyebut profesi “tuha nambi” (dukun), “kdi” (dukun perempuan), dan “walyan” (tabib).

Sementara Prasasti Bendosari (1360 M), menyebut “janggan” untuk tabib desa dan Prasasti Madhawapura menyebut peracik jamu dan penjualnya sebagai “acaraki”.

Pada masa itu, acaraki akan melakukan ritual khusus sebelum meracik jamu atau melakukan pengobatan.

Namun jauh sebelum itu, kata ” oesada” dan “jampi” sudah dipakai untuk menyebut jamu. Hal itu termuat dalam Kitab Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh yang hidup mas Raja Jayabaya, Kerajaan Kediri.

Raja Jayabaya tercatat berkuasa sebagai Raja Kediri pada tahun 1135-1159 M.

Kata ” oesada” bermakna kesehatan, sementara “jampi” representasi dari campuran berbagai tanaman obat untuk diminum maupun dioleskan pada tubuh disertai doa-doa kesembuhan. 

Sejarah Penulisan Resep Jamu

Resep jamu tertulis dalam Serat Centhini dan dipublikasikan tahun 1814. Di dalamnya mencatat sekitar 104 jenis tumbuhan tanaman obat sebagai bahan racikan 85 macam jamu untuk mengobati kurang lebih 30 jenis penyakit.

Jamu juga tertulis pada Serat Kawruh bab Jampi-Jampi Jawi, yang ditulis masa pemerintahan Pakubuwono V (1833).

Di dalamnya terdapat 1,166 resep pengobatan yang terdiri dari 922 resep racikan jamu dan 244 resep pengobatan berupa rajah, jimat, gambar-gambar, doa, rapal dan mantra.

Dalam serat juga menjelaskan kata “jampi” dipakai lingkup kerajaan atau bangsawan, dalam hal ini Keraton Surakarta. Untuk kalangan luar istana atau bukan bangsawan, menggunakan kata “jamu”.

Perkembangan jamu sebagai minuman obat dan kesehatan terus berlanjut hingga zaman kolonial.

Mengutip dari National Geographic Indonesia, pada abad ke-17 seorang ilmuwan bernama Jacobus Bontius menggunakan jamu untuk mengobati Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: candijamujamu jawakarya sastranusantaraprasastiresep jamusejarah jamu
Advertisement Banner

Comments 1

  1. Pingback: Jatim Beads, Manik-manik Kuno yang Pernah Kuasai Pasar Dunia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Penumpang kereta api di wilayah KAI Daop 7 Madiun saat mudik Lebaran 2026

Layanan KAI Daop 7 Madiun Selama Mudik Lebaran 2026

Kondisi jalur nasional Trenggalek–Ponorogo yang diberlakukan buka tutup karena rawan longsor saat arus mudik

Jalur Trenggalek-Ponorogo Berlaku Buka Tutup Saat Mudik Lebaran 2026

keluarga mudik lebaran bersama anak

Tips Mudik Lebaran Bersama Balita agar Nyaman, Aman, dan Anti Rewel

  • Bkami GM. Foto: istimewa

    Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar SPPG Nakal di Blitar yang Dihentikan BGN, 46 Lokasi di Kota dan Kabupaten

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pamer Hummer Listrik 4,5 M, “Rahasia” Ketenaran Gus Iqdam Dibongkar Netizen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jamaah Al Muhdlor Tulungagung Salat Ied 19 Maret 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In