Bacaini.ID, KEDIRI – Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengumunkan jika PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan dipimpin Luke Thomas Mahony.
Luke Thomas Mahony adalah sosok eksekutif tambang asal Australia yang baru saja ditunjuk sebagai CEO PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) pada 21 Mei 2026. Penunjukan ini menandai babak baru dalam pengelolaan ekspor komoditas strategis Indonesia, sekaligus menimbulkan perdebatan publik tentang peran eksekutif asing dalam sektor sumber daya alam nasional.
Mahony lahir dan menempuh pendidikan di Australia, dengan latar belakang akademik yang mengesankan. Ia meraih gelar Bachelor of Mining Engineering dari University of New South Wales (UNSW) pada 2002, kemudian melanjutkan dengan Master of Commerce in Finance pada 2004. Tidak berhenti di situ, ia memperdalam keahlian teknis dengan Master of Mining Engineering (2006) dan Master of Geomechanics (2009). Kombinasi pendidikan teknik dan keuangan ini memberinya keunggulan ganda: memahami aspek operasional tambang sekaligus strategi bisnis dan finansial.
Karier Mahony terbentang lebih dari dua dekade di industri pertambangan global. Ia memulai pengalaman awal di sektor konstruksi infrastruktur bersama Baulderstone Hornibrook, terlibat dalam proyek Cross City Tunnel di Sydney. Kemudian ia bergabung dengan Xstrata Coal, di mana fokusnya adalah evaluasi proyek internasional, due diligence investasi, dan benchmarking operasi tambang. Pada 2010, Mahony masuk ke BHP Billiton, perusahaan tambang multinasional Australia, dan menempati berbagai posisi strategis mulai dari geotechnical engineer hingga manager production projects.
Puncak karier internasionalnya terlihat saat bergabung dengan Vale Base Metals di Kanada pada 2014. Di sana ia menjabat sebagai Chief Technical Officer dan Direktur, dengan fokus pada inovasi teknologi dan keberlanjutan operasi tambang global. Pada 2024, ia kembali ke Indonesia sebagai Chief Strategy and Technical Officer PT Vale Indonesia Tbk, memimpin strategi teknis, mengelola teknologi tambang rendah karbon, serta mengawasi pengelolaan bendungan tailing dan digitalisasi operasi.
Mahony kemudian bergabung dengan Danantara pada September 2025 sebagai Senior Executive Vice President Business Performance & Optimization. Dalam posisi ini, ia mengoptimalkan kinerja bisnis dan mempersiapkan pembentukan PT DSI. Penunjukannya sebagai CEO DSI pada Mei 2026 menegaskan peran sentralnya dalam mengelola ekspor komoditas strategis Indonesia, mulai dari batu bara, sawit, hingga ferroalloys. Ia diharapkan mampu mengimplementasikan sistem ekspor satu pintu, meningkatkan transparansi, menambah nilai komoditas, dan mencegah kebocoran devisa yang selama ini mencapai US$150 miliar per tahun.
Namun, penunjukan Mahony tidak lepas dari kontroversi. Dukungan datang dari kalangan yang menilai pengalaman internasionalnya sebagai aset besar, membawa standar global dan praktik terbaik ke Indonesia. Di sisi lain, kritik muncul terkait isu kedaulatan ekonomi. Publik mempertanyakan mengapa posisi strategis ini tidak diisi oleh profesional lokal, serta menyoroti risiko ketergantungan pada eksekutif asing dalam pengelolaan sumber daya alam.
Tantangan yang dihadapi Mahony tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga strategis dan politik. Ia harus membuktikan bahwa sistem ekspor satu pintu bisa berjalan efisien tanpa menghambat bisnis, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global. Di ranah politik, ia dituntut membangun legitimasi di mata publik dan stakeholder domestik, membuktikan bahwa kehadirannya membawa kontribusi nyata bagi ekonomi nasional.
Penulis: Hari Tri Wasono





