Bacaini.ID, JAKARTA – 30 Januari 2026, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis dokumen terbesar dalam sejarah kasus Jeffrey Epstein. Perilisan ini mencakup lebih dari 3 juta halaman dokumen, 180.000 gambar, dan sekitar 2.000 video yang mengungkap jaringan elit global yang terlibat dalam skandal seks tersebut.
Perilisan ini merupakan implementasi dari Epstein Files Transparency Act, undang-undang yang disahkan dengan dukungan bipartisan dan ditandatangani Presiden Trump pada akhir 2025. Wakil Jaksa Agung Todd Blanche menyatakan bahwa ini merupakan tindakan kepatuhan final terhadap legislasi yang mewajibkan pengungkapan penuh semua materi investigasi yang dimiliki DOJ.
Tokoh-Tokoh Elite Global yang Terlibat
Donald Trump
- Dokumen berisi ratusan referensi tentang Trump, termasuk email investigator federal internal dari Agustus 2025
- Diskusi tentang kunjungan Epstein ke klub Mar-a-Lago setelah Natal 2012, meskipun Trump menyatakan mereka telah berhenti bersosialisasi bertahun-tahun sebelumnya
- Catatan penerbangan menunjukkan Trump pernah menggunakan jet pribadi Epstein pada 1990-an
- Trump membantah semua tuduhan dan menyebut pengawasan yang diperbaharui sebagai “tipuan Demokrat”
Bill Clinton
- Muncul dalam berbagai korespondensi dan catatan penerbangan
- Baik Clinton maupun Trump membantah mengetahui aktivitas kejahatan seksual Epstein
- Tidak ada yang pernah didakwa terkait kasus ini
Pangeran Andrew (Andrew Mountbatten-Windsor)
- Email menunjukkan Andrew mengundang Epstein ke Istana Buckingham untuk makan malam dengan “banyak privasi” bertahun-tahun setelah Epstein dihukum karena kejahatan seks
- Epstein menawarkan untuk memperkenalkan Andrew kepada seorang wanita muda Rusia yang digambarkan sebagai “pintar, cantik, dan dapat dipercaya”
- Foto-foto yang dirilis tampaknya menunjukkan Andrew dalam posisi yang bermasalah di atas seorang wanita
- Andrew telah menghadapi klaim sipil sebelumnya terkait Epstein
Sarah Ferguson (Duchess of York)
- Mengakui beberapa urusan keuangan dengan Epstein tetapi membantah asosiasi lebih lanjut
- Telah meminta maaf secara publik atas asosiasinya dengan Epstein
Elon Musk
- Email dengan Epstein menunjukkan Musk menanyakan tentang “pesta paling liar” di pulau Epstein
- Diskusi tentang kunjungan potensial pada 2012 dan 2013
- Musk membantah kesalahan, menyatakan dia menolak undangan berulang ke pulau Epstein dan pesawat “Lolita Express”
Bill Gates
- Terlibat dalam tuduhan perselingkuhan dalam email yang dikirim Epstein kepada dirinya sendiri
- Juru bicara Gates dengan tegas membantah klaim ini sebagai “absurd” dan palsu
- Menunjukkan Epstein mencoba menjebak dan memfitnah Gates
Howard Lutnick (Menteri Perdagangan Trump)
- Email menunjukkan dia mengunjungi pulau pribadi Epstein pada 2012 untuk makan siang
- Sebelumnya mengklaim telah memutuskan hubungan dengan Epstein
Ehud Barak (Mantan Perdana Menteri Israel)
- Mengakui kontak tetapi membantah pengetahuan tentang kesalahan
Peter Mandelson (Mantan Menteri Pemerintah Inggris)
- Terkait dengan Epstein melalui transaksi keuangan yang melibatkan suaminya
- Mengundurkan diri dari Partai Buruh dan perannya sebagai duta besar Inggris untuk AS
- Meminta maaf kepada korban Epstein, mengklaim ketidaktahuan tentang kejahatan Epstein
Miroslav Lajcak (Penasihat Keamanan Nasional Slovakia)
- Mengundurkan diri setelah namanya muncul dalam dokumen
Koneksi Indonesia dan Asia Tenggara
Dokumen mengejutkan juga menyertakan referensi lokasi seperti Bali, Indonesia. Foto-foto bertanggal 27-29 Mei 2002 menunjukkan Epstein dan Maxwell mengunjungi galeri patung di Batubulan, Gianyar, Bali. Hal ini memicu diskusi di media sosial dan pers internasional tentang perjalanan Epstein dan jaringannya yang meluas ke Asia Tenggara.
Meskipun perilisan ini masif, banyak pihak mengkritik DOJ karena menahan sekitar setengah dari total 6 juta halaman yang diidentifikasi. Redaksi juga ekstensif pada banyak dokumen. Sehingga Demokrat dan beberapa Republikan menuduh adanya “penyembunyian penuh” dan menuntut transparansi penuh.
Pelanggaran Privasi Korban
Advokat korban mengangkat keprihatinan tentang pelanggaran privasi karena kesalahan redaksi dalam dokumen yang dirilis, yang mengekspos identitas korban. Tindakan hukum telah dimulai untuk mengatasi pelanggaran privasi ini.
Respons Pemerintah Trump
Administrasi Trump telah menyatakan penyelidikan ditutup setelah perilisan ini, tetapi tokoh politik terus menyerukan transparansi penuh dan akuntabilitas. DOJ dan FBI menekankan bahwa banyak tuduhan dalam dokumen, terutama yang menargetkan Donald Trump, tidak terverifikasi dan tidak memiliki bukti pendukung.
Para penyintas perdagangan Epstein dan tokoh politik terus menuntut perilisan dokumen yang tersisa tanpa redaksi, akuntabilitas penuh untuk semua individu yang terlibat, dan transparansi dalam proses investigasi.
Perilisan dokumen ini mengungkap jaringan sosial dan politik yang luas yang terlibat dengan Epstein, menyoroti persimpangan kekuasaan, kekayaan, dan eksploitasi. Meskipun jutaan dokumen telah dibuka, banyak pihak menilai masih ada fakta penting yang belum sepenuhnya terungkap.
Skandal ini terus memicu perdebatan publik tentang keadilan dan akuntabilitas elit dalam skandal berprofil tinggi ini, dengan pengawasan yang berkelanjutan terhadap jaringan Epstein dan sejauh mana keterlibatan elit global dalam aktivitas ilegalnya.
Kasus Jeffrey Epstein tetap menjadi salah satu skandal paling signifikan dalam sejarah modern, mengungkap bagaimana kekuasaan dan kekayaan dapat digunakan untuk menutupi kejahatan serius dan melindungi pelaku dari konsekuensi hukum.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri Wasono





