Bacaini.ID, KEDIRI – Kalau bicara soal rokok ilegal, jangan buru-buru nyalahin warung kopi di pojokan kampung. Masalahnya jauh lebih kompleks dari sekadar bungkus rokok tanpa pita cukai yang dijual separuh harga.
Karena kalau mau jujur, yang bikin rokok ilegal tumbuh subur itu bukan cuma konsumen yang cari murah, tapi juga pemerintah yang rajin bikin kebijakan kayak eksperimen kimia. Niatnya menekan, hasilnya malah meledak.
Setiap tahun, cukai rokok naik. Alasannya klasik, demi kesehatan masyarakat dan menekan konsumsi.
Tapi di balik dalih mulia itu, ada aroma kebutuhan kas negara yang makin menipis. Tahun 2020 cukai naik 23 persen, 2021 naik lagi 12,5 persen, dan seterusnya. Pemerintah kayak orang yang kehabisan ide cari duit, akhirnya yang ditekan ya industri tembakau.
Padahal, dari sektor ini negara dapat pemasukan gede banget. Tahun 2021 saja, penerimaan cukai hasil tembakau tembus Rp188 triliun. Ironisnya, makin tinggi cukai, makin mahal rokok legal, makin subur rokok ilegal.
baca ini:
- Jaringan di Balik Rokok Murah Legal, Kebijakan Cukai Untuk Siapa
- Profil Haji Her Jejak Bisnis dan Relasi Kekuasaannya
Logika pasarnya sederhana, kalau harga naik, orang cari alternatif. Dan alternatif paling gampang ya rokok tanpa cukai, alias ilegal.
Di warung kopi, rokok ilegal bukan barang langka. Separuh harga, rasa mirip, bungkusnya keren. Dalam kondisi ekonomi yang seret, siapa yang mau beli rokok legal dua kali lipat lebih mahal? Pemerintah mungkin lupa, daya beli rakyat itu bukan variabel yang bisa dinaikkan lewat pidato.
Masalahnya, pemerintah sibuk menindak tapi nggak pernah introspeksi. Mereka bikin kebijakan yang menciptakan celah, lalu sibuk menutup celah itu dengan razia. Akibatnya, penindakan rokok ilegal jadi kayak main whack-a-mole, satu ditindak, dua muncul lagi.
Kenaikan cukai yang katanya untuk “mengendalikan konsumsi” malah menciptakan insentif ekonomi bagi pelaku ilegal. Ketika selisih harga makin lebar, pelanggaran jadi lebih menguntungkan. Dan di situ, aparat, politisi, dan pejabat mulai ikut nimbrung. Lengkap sudah, dari meja birokrasi sampai meja warung, semua dapat bagian asapnya.
Kalau pemerintah terus-terusan menekan industri tembakau, jangan kaget kalau yang tumbuh bukan kesadaran kesehatan, tapi pasar gelap. Karena rokok ilegal bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi cermin dari kebijakan yang pincang.
Mereka sibuk mengejar bayangan, padahal bayangan itu muncul dari lampu yang mereka nyalakan sendiri.
Selama pemerintah masih berpikir bahwa menaikkan cukai adalah solusi segala hal, maka rokok ilegal akan terus jadi bisnis yang menguntungkan. Pada akhirnya, yang rugi bukan cuma negara, tapi juga buruh linting, petani tembakau, dan kota-kota yang hidup dari industri ini.
Kalau begini terus, jangan-jangan nanti yang disebut “rokok legal” tinggal sejarah, sementara “rokok ilegal” jadi sponsor utama warung kopi.(htw/edt)




