Bacaini.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana menambah lapisan tarif cukai hasil tembakau (CHT). Kebijakan ini dimaksudkan untuk menarik produsen rokok ilegal agar masuk ke sistem legal dan mulai membayar cukai kepada negara.
Purbaya memperkirakan negara selama ini kehilangan potensi penerimaan hingga Rp60 triliun akibat maraknya peredaran rokok ilegal. Dengan penambahan lapisan tarif cukai baru tersebut, pemerintah berharap sebagian produsen beralih ke jalur resmi. “Kalau separuh saja yang masuk, penerimaan bisa sekitar Rp20 triliun sampai Rp30 triliun,” ujar dia di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu, 22 April 2026.
Menurut Purbaya, dari total peredaran rokok senilai sekitar Rp200 triliun, kebocoran akibat praktik ilegal ditaksir mencapai 30 persen. Meski potensi tambahan penerimaan negara dinilai tidak sepenuhnya menutup kebocoran itu, ia menegaskan tujuan utama kebijakan ini adalah menata pasar agar seluruhnya berada dalam sistem legal.
“Yang penting market-nya jadi market legal semua,” kata Purbaya. Ia menegaskan pemerintah tak akan ragu menindak produsen yang tetap bertahan di jalur gelap meski telah diberi ruang untuk beralih. “Kalau sudah dikasih ruang untuk masuk tapi tidak ikut, ya saya tutup.”
Purbaya mengaku awalnya telah mendelegasikan pembahasan kebijakan ini kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Namun, ia baru mengetahui bahwa Dewan Perwakilan Rakyat telah memasuki masa reses setelah rapat paripurna pada Selasa, 21 April 2026. “Dirjen saya rupanya tidak bisa beresin. Mulai saja enggak. Setelah masa reses, saya sendiri yang datang ke sana,” ujarnya.
Di tengah rencana tersebut, Komisi Pemberantasan Korupsi tengah mendalami dugaan aliran suap dalam pengurusan cukai rokok di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Temuan KPK menguatkan indikasi bahwa peredaran rokok ilegal berkaitan dengan praktik korupsi yang berdampak langsung pada penerimaan negara.
KPK menemukan sejumlah modus pelanggaran, mulai dari penggunaan pita cukai palsu hingga penyalahgunaan pita cukai yang tidak sesuai peruntukan.
Adapun penerimaan negara dari cukai rokok terus menurun sejak awal tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, realisasi penerimaan cukai tercatat Rp51 triliun atau turun 11,2 persen secara tahunan. Penurunan ini melanjutkan kontraksi pada Januari dan Februari yang masing-masing mencapai 14 persen.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri Wasono





