Poin Penting:
- Blitar Selatan menjadi sasaran operasi militer pada 1968 setelah muncul dugaan adanya konsolidasi kembali sisa-sisa PKI.
- Operasi Trisula melibatkan kekuatan militer besar, termasuk pasukan Kostrad, RPKAD, PGT, artileri, zeni tempur, Kodim dan Koramil.
- Pagar Betis digunakan dalam operasi untuk mencari orang-orang PKI yang bersembunyi di hutan, ruba, dan gua-gua di Blitar Selatan.
Bacaini.ID, BLITAR — Pasca peristiwa 30 September 1965 atau G30S 1965, kawasan Blitar Selatan di wilayah Kabupaten Blitar Jawa Timur menjadi daerah operasi militer. Pangkopkamtip Jenderal Soeharto telah menerbitkan surat perintah operasi pembersihan pada 20 Februari 1968. Perintahnya, Partai Komunis Indonesia (PKI) di Blitar Selatan dan seluruh pengikutnya harus ditumpas sampai ke akar-akarnya.
Mengutip buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65, untuk operasi militer Blitar Selatan 1968 tersebut ABRI (sekarang TNI) mengerahkan kekuatan besar-besaran secara sistematis, mulai dari unit tempur, administrasi, perhubungan, peralatan angkutan, pemeliharaan rohani, penerangan hingga pasukan amphibi.
Sebanyak lima batalyon pasukan yang ditambah pasukan tiga Kodim dan delapan Koramil, diterjunkan ke Blitar Selatan, salah satunya Batalyon Infanteri Para (terjun payung) dari Kostrad. Juga dikerahkan satu kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) Angkatan Udara dengan kekuatan satu skuadron yang terdiri dari dua unit helikopter, dua unit pesawat pembom B-25 dan enam pesawat lain. Kemudian juga disiapkan satu batalyon Zeni tempur amphibi, satu batalyon altileri Medan, satu batalyon infanteri Para dan satu grup RPKAD.
Panglima Kodam VIII/Brawijaya Mayjen Jassin menegaskan tujuan operasi adalah penghancuran total PKI Blitar Selatan. “Operasi ini berpangkal tolak dari prinsip yang saya anut bahwa sebelum golongan komunis dapat bangun kembali sebelum kekuatannya pulih kembali, sebelum pengaruhnya makin meluas dan membesar mereka harus dipukul habis-habisan, harus ditumpas sampai ke akar-akarnya,” tegasnya seperti dikutip dari Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65.
Peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh Jenderal Angkatan Darat di Jakarta oleh sekelompok militer yang menyebut diri Dewan Revolusi pada 30 September 1965 telah menjadi titik awal hancurnya PKI. Imbas peristiwa di ibukota merembet ke daerah, ke desa-desa basis massa PKI. Menyusul nasib Ketua CC PKI DN Aidit, Njoto dan Lukman, banyak tokoh PKI dan ounderbow di daerah yang ditangkap, tidak sedikit kader serta simpatisan tersebut yang dibunuh.
Pasca G30S, Blitar Selatan menjadi tempat pelarian sejumlah tokoh PKI lapis kedua yang lolos dari operasi pembersihan di Jakarta. Blitar diketahui merupakan basis suara, selain Kediri dan Madiun. Menjadi salah satu daerah penyumbang suara terbesar untuk PKI pada Pemilu 1955. Sejumlah tokoh PKI dan PNI Ali-Surahman tidak sedikit yang bersembunyi di Blitar, Malang dan Surabaya.
Pembersihan total di Blitar Selatan diawali dengan pembentukan Satuan Tugas Trisula atau Satgas Trisula pada 5 Mei 1968, yang dipimpin oleh Kolonel Witarmin, Komandan Brigif Linud-18. Karena mayoritas warga Blitar Selatan dianggap pro PKI, gerakan pembersihan dimulai dengan mengganti camat, kepala desa serta pamong desa dengan anggota militer aktif. Tercatat sebanyak 234 pamong desa di Blitar Selatan telah dicaretaker.
Militer juga menggunakan seluruh kekuatan sosial politik anti PKI, termasuk di dalamnya organisasi kepemudaan. Penangkapan besar-besaran dalam waktu cepat berhasil dilakukan. Terlebih saat dipakai taktik Pagar Betis. Orang-orang PKI yang bersembunyi di hutan-hutan, ruba, dan gua-gua, semakin banyak yang diringkus. Tidak sedikit yang langsung dieksekusi di tempat.
Pada saat Operasi Militer di Blitar Selatan berakhir, semua anggota PKI dinyatakan telah ditangkap. Berhasil disita 37 senjata api yang terdiri dari 10 pistol, 13 bren, 2 senapan AK, 2 senapan Tjung, dan bermacam senjata tua peninggalan masa penjajahan Belanda. Narasi yang berkembang di masyarakat, PKI berusaha bangkit, namun berhasil ditumpas.
Rewang, salah satu tokoh PKI yang ditangkap dalam Operasi Militer di Blitar Selatan tahun 1967-1968 mengatakan, para pimpinan yang tersisa belum menentukan langkah. Mereka masih menunggu hasil konferensi nasional yang rencananya dihadiri seluruh pimpinan PKI di daerah.
Pada saat yang sama ada sejumlah kader yang tidak mengindahkan ajaran yang digariskan Mao Tse Tung, bahwa dalam situasi sulit, jalan yang ditempuh adalah pengabdian jangka panjang. Mereka terburu nafsu (avonturisme) balas dendam terhadap para algojo yang menghabisi kawan-kawan perjuangan. Keadaan itu diperparah oleh jiwa lemah sejumlah kader yang memutuskan menyerah (kapitulasi) dan khianat.
Munculnya beragam persoalan yang komplek tersebut yang kemudian tercium oleh militer, dan kemudian ditindaklanjuti dengan menggelar operasi pembersihan dengan narasi PKI mencoba bangkit di Blitar Selatan. “Ya, ini artinya kelemahan umum di kalangan gerakan orang-orang tertindas itu, tidak tahan mengadapi penindasan yang lama,” katanya. (sa/edt)




