Bacaini.ID, KEDIRI — Nastar dan kastengel menjadi dua kue kering yang hampir selalu hadir di meja tamu saat Lebaran. Di balik rasanya yang khas, ternyata kedua kue ini menyimpan sejarah panjang sebagai warisan kolonial Belanda yang telah beradaptasi dengan bahan dan selera lokal Indonesia.
Baca Juga:
Di balik rasanya yang familiar, nastar dan kastengel ternyata memiliki sejarah panjang yang berasal dari pengaruh kuliner Belanda, yang kemudian beradaptasi dengan bahan dan selera lokal.
Jejak kolonial melekat erat pada dua jenis kue kering ini. Resep pastry Eropa berakulturasi dengan bahan pangan lokal, menciptakan sajian baru.
Nastar: Dari ‘Ananas Tart’ ke Kue Lebaran
Kue nastar berasal dari kata Belanda ‘ananas’ (nanas) dan ‘taart’ (tart atau pai). Pada masa kolonial, masyarakat Eropa di Hindia Belanda terbiasa mengonsumsi pai buah seperti apel atau blueberry.
Namun, karena bahan-bahan tersebut sulit ditemukan di wilayah tropis, mereka menggantinya dengan buah nanas yang melimpah di Indonesia. Dari sinilah lahir ‘ananas tart’, yang kemudian mengalami penyesuaian bentuk lebih kecil, praktis, dan tahan lama.
Di negara asalnya, kue ini awalnya berbentuk pai besar khas pai Eropa yang diisi dengan buah-buahan subtropis seperti stroberi, apel, atau blueberry. Nastar pun berkembang menjadi kue kering berisi selai nanas dengan tekstur lembut dan rasa manis-asam khas.
Bentuknya pun berubah, dari lebar yang perlu dipotong-potong sebelum mengonsumsinya, menjadi bulat kecil sekali lahap yang bisa dimasukkan dalam toples.
Baca Juga:
- Cerita Ucapan Hari Raya Idul Fitri dari PKI Untuk Umat Islam Indonesia
- Daftar Ucapan Idul Fitri 2026 Paling Lengkap dan Tinggal Copas
Menurut sejumlah literatur kuliner, seperti yang dibahas dalam buku Indisch Kookboek pada awal abad ke-20, adaptasi resep Eropa dengan bahan lokal menjadi praktik umum di dapur Hindia Belanda.
Awalnya, kue ini hanya dinikmati oleh kaum elit Belanda dan bangsawan pribumi (priyayi) sebagai hantaran spesial saat Natal atau hari besar. Lambat laun, tradisi ini menyebar ke seluruh lapisan masyarakat dan menjadi sajian wajib saat Idulfitri.
Kastengel: ‘Batang Keju’ Belanda Versi Tropis
Berbeda dengan nastar yang manis, kastengel hadir dengan cita rasa gurih dan dominan keju. Nama kastengel sendiri berasal dari bahasa Belanda, yakni kaas yang artinya keju, dan stengels yang artinya batangan: ‘batangan keju’.
Di Belanda, kastengel awalnya dikenal sebagai camilan keju berbentuk stik yang renyah. Ketika masuk ke Indonesia, resep ini mengalami modifikasi, terutama dalam penggunaan bahan seperti margarin dan jenis keju yang lebih mudah didapat.
Kastengel asli berasal dari kota Krabbendijke di Belanda. Di sana, kue ini dulunya dibuat sangat panjang yang bisa sampai sepanjang 30 cm.
Kastengel versi Indonesia cenderung lebih kaya rasa, dengan tambahan topping keju parut di atasnya. Teksturnya pun dibuat lebih lembut dibanding versi aslinya yang cenderung keras dan kering.
Di masa kolonial, keju merupakan barang mewah yang cuma bisa dibeli orang Belanda dan kaum bangsawan. Karena itu, kastengel dulu jadi simbol status sosial tinggi.
Adaptasi ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal tidak hanya meniru, namun juga mengembangkan resep agar sesuai dengan preferensi rasa dan kondisi bahan di Indonesia.
Sama seperti nastar yang mengalami modifikasi bentuk, kastengel pun demikian. Dari batangan panjang stik keju yang lembut, menjadi pendek-pendek dan bertekstur renyah.
Dari Meja Kolonial ke Tradisi Lebaran
Baik nastar maupun kastengel merupakan contoh nyata dari proses akulturasi budaya melalui makanan. Awalnya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu pada masa kolonial, kini kedua kue ini justru menjadi simbol keramahan saat Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi menyajikan kue kering saat Lebaran sendiri berkembang sebagai bagian dari budaya menjamu tamu. Nastar dan kastengel dipilih karena tahan lama, mudah disajikan, dan disukai berbagai kalangan.
Menurut sejumlah kajian sejarah kuliner Nusantara, percampuran budaya dalam makanan seperti ini banyak terjadi di era kolonial, terutama di dapur rumah tangga yang mempertemukan teknik memasak Eropa dengan bahan lokal.
Kini, nastar dan kastengel tidak hanya sekadar makanan, namun telah menjadi bagian dari identitas kuliner Lebaran di Indonesia. Keduanya menjadi simbol kehangatan, kebersamaan, dan tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah banyaknya varian kue modern, eksistensi nastar dan kastengel tetap kuat, membuktikan bahwa rasa klasik yang lahir dari sejarah panjang masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





