Bacaini.ID, KEDIRI – Anggapan bahwa marahnya orang sabar lebih menakutkan, ada benarnya.
Emotional outbursts atau ledakan emosi seringkali terjadi kepada seseorang yang kerap memendam emosi dan bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaan.
Beberapa studi psikologi mengungkapkan, memendam emosi sama seperti menekan pegas.
Semakin dalam atau lama ditekan, semakin tinggi loncatan yang akan dihasilkan pada waktu yang tidak terduga ketika muncul trigger.
Bagi orang lain, seseorang yang mengalami emotional outbursts seperti menjadi pribadi lain. Terlihat sangat berbeda saat emosional.
Yang biasanya sabar dan lemah lembut, bisa berubah meledak, berteriak penuh kemarahan, atau menangis histeris tak terkendali dan bertindak brutal.
Ini adalah hasil dari perasaan yang lama terpendam dan disimpan sendiri.
Emotional outbursts merupakan luapan emosi negatif seperti marah, sedih atau sakit hati.
Hal ini terjadi ketika suatu kebutuhan atau harapan tidak terpenuhi terlalu lama.
Dikutip dari Psych Central, emotional outbursts dapat dialami oleh seseorang akibat dari stres kronis, kurang tidur, penggunaan zat terlarang, kadar gula darah rendah, efek samping obat-obatan dan manajemen emosi yang belum berkembang.
Emotional outbursts merupakan alarm dari otak agar kita mengelola emosi lebih baik lagi.
Sebelum emotional outbursts terjadi, berikut beberapa hal yang bisa membantu melepaskan stres agar tak sampai meledak.
Identifikasi pemicu
Kenali pemicu ledakan emosi. Perhatikan apakah ledakan emosi terkait dengan kurang tidur, konsumsi obat tertentu, atau kondisi tubuh yang lelah.
Jika sudah memahami siklus tersebut, kita bisa bersiap menghadapi hal-hal yang bisa memicu kemarahan dengan lebih tenang.
Belajar berbicara dengan tegas
Emosi yang terpendam biasanya terjadi karena seringkali kita mengabaikan perasaan kita. Tipe yang ‘tidak enakan’ atau takut menyinggung perasaan orang lain.
Belajar berbicara tegas bisa membantu menyederhanakan tuntutan emosional. Orang lain tidak akan tahu apa kebutuhan kita jika kita tidak berbicara.
Praktikkan teknik grounding dan relaksasi
Teknik grounding menggunakan stimulasi sensorik untuk membantu kembali ke keadaan tenang.
Jika mengalami emotional outbursts cobalah hentikan aliran emosi tersebut dengan teknik grounding seperti:
• menguyur air dingin ke tangan
• menutup mata dan menepuk dada
• menghitung mundur perlahan dari 100
• baca quotes favorit atau afirmasi positif
• melakukan meditasi
Menjauh
Jika kewalahan oleh emosi dan yakin akan bertindak tidak sehat, pertimbangkan untuk meminta maaf sejenak untuk menenangkan pikiran.
Menjauhkan diri dari sumber stres sudah cukup meredakan emosi.
Waktu dan jarak juga dapat memberikan perspektif. Berjalan kaki sebentar, atau keluar rumah menghirup udara segar.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif