• Login
Bacaini.id
Monday, June 29, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Kenapa Tetap Mengantuk Meski Minum Kopi? Ini Penjelasannya

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
29 June 2026 16:47
Durasi baca: 5 menit
Seseorang memegang secangkir kopi sambil mengantuk saat bekerja di depan laptop

Tak semua orang merasakan efek kopi yang sama. Genetik, toleransi kafein, dan kurang tidur dapat memengaruhi respons tubuh terhadap kopi (foto AI/Bacaini.id)

Poin Penting:

  • Kopi tidak menghasilkan energi, tetapi hanya menghambat sinyal kantuk yang dikirim adenosin di otak
  • Efek kopi berbeda pada setiap orang karena dipengaruhi faktor genetik, toleransi kafein, dan kondisi tubuh
  • Kurang tidur tetap tidak bisa digantikan kopi, sehingga istirahat cukup menjadi cara terbaik menjaga kewaspadaan

Bacaini.ID, KEDIRI – Banyak orang mengandalkan secangkir kopi untuk mengusir kantuk saat bekerja atau belajar. Namun, tidak sedikit yang justru tetap mengantuk meski baru saja menikmati kopi. Penelitian menunjukkan kondisi ini bukan semata karena tubuh kebal terhadap kafein, melainkan dipengaruhi faktor genetik, kebiasaan minum kopi, hingga kurang tidur.

BACA JUGA: Cara Menikmati Kopi dengan Seduhan Khas Indonesia yang Unik

Benarkah ada orang yang secara genetik ‘kebal’ terhadap kafein? Atau justru penyebabnya berasal dari kebiasaan sehari-hari? Sejumlah penelitian menunjukkan respon tubuh pada kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik hingga pola konsumsi.

Kafein Tidak Memberikan Energi, Hanya Menunda Rasa Kantuk

Banyak orang mengira kopi memberikan tambahan energi bagi tubuh. Padahal, cara kerja kafein sedikit berbeda.

Saat seseorang terjaga dalam waktu lama, otak secara alami menghasilkan senyawa bernama adenosin. Semakin lama seseorang tidak tidur, semakin banyak adenosin yang menumpuk. Zat inilah yang mengirim sinyal ke otak bahwa tubuh membutuhkan istirahat.

BACA JUGA: Cara Meracik Kopi Gayo Aceh Agar Sesuai Lidah Jawa

Menurut National Institutes of Health (NIH), kafein bekerja dengan cara menempel pada reseptor adenosin sehingga adenosin tidak dapat mengirimkan sinyal kantuk secara efektif. Akibatnya, seseorang merasa lebih waspada dan segar meski sebenarnya tubuh tetap membutuhkan tidur. Artinya, kopi bukan menghilangkan rasa lelah, melainkan hanya ‘menutupi’ sinyal kantuk untuk sementara waktu.

Mengapa Efek Kopi Berbeda pada Setiap Orang?

Meski mekanisme kerjanya sama, efek kopi bisa sangat berbeda pada setiap individu. Ada orang yang cukup minum setengah cangkir kopi sudah merasa berdebar dan sulit tidur. Sebaliknya, ada pula yang mampu menghabiskan beberapa cangkir dalam sehari tanpa merasakan perubahan. Perbedaan ini sebagian dipengaruhi oleh faktor genetik:

  • Gen CYP1A2

Salah satu gen yang paling banyak diteliti adalah CYP1A2. Gen ini mengatur produksi enzim di hati yang bertugas memecah sekitar 90–95 persen kafein yang masuk ke dalam tubuh. Orang dengan varian gen tertentu dapat memetabolisme kafein lebih cepat (fast metabolizer). Akibatnya, efek kopi cenderung lebih singkat sehingga mereka mungkin merasa perlu minum kopi lebih sering. Sebaliknya, mereka yang termasuk slow metabolizer memecah kafein lebih lambat. Efeknya dapat bertahan lebih lama, sehingga satu cangkir kopi saja sudah cukup membuat mereka sulit tidur atau mengalami jantung berdebar.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Pharmacogenetics and Genomics menunjukkan bahwa variasi pada gen CYP1A2 memang berpengaruh terhadap kecepatan metabolisme kafein.

  • Gen ADORA2A

Selain CYP1A2, ilmuwan juga menemukan peran gen ADORA2A. Gen ini berkaitan dengan reseptor adenosin di otak, yaitu tempat kafein bekerja untuk menghambat sinyal kantuk.

Variasi pada gen ADORA2A membuat sebagian orang lebih sensitif terhadap efek kafein. Mereka bisa mengalami gelisah, cemas, atau sulit tidur meski hanya mengonsumsi kopi dalam jumlah sedikit.

Sebaliknya, individu dengan variasi gen tertentu mungkin tidak terlalu merasakan efek stimulasi dari kafein sehingga kopi terasa ‘biasa saja’. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa bukan berarti otak mereka kebal terhadap kafein. Yang berbeda adalah tingkat sensitivitas tubuh dalam merespons zat tersebut.

Toleransi Kafein Bisa Membuat Kopi Terasa Tidak Lagi Manjur

Selain faktor genetik, ada penyebab lain yang jauh lebih umum, yaitu toleransi terhadap kafein. Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, konsumsi kafein secara rutin membuat tubuh beradaptasi. Otak dapat meningkatkan jumlah reseptor adenosin sehingga efek pemblokiran oleh kafein menjadi tidak sekuat sebelumnya.

Akibatnya, seseorang membutuhkan lebih banyak kopi untuk memperoleh efek yang sama seperti saat pertama kali mulai mengonsumsinya. Inilah sebabnya mengapa ada orang yang sebelumnya cukup minum satu cangkir kopi untuk tetap terjaga, namun kini merasa dua hingga tiga cangkir pun tidak banyak membantu.

Toleransi ini berbeda dengan faktor genetik. Gen sudah dimiliki sejak lahir, sedangkan toleransi berkembang karena kebiasaan mengonsumsi kafein dalam jangka panjang. Kabar baiknya, toleransi dapat berkurang jika konsumsi kafein dihentikan sementara selama beberapa hari hingga sekitar dua minggu, meski respons setiap orang bisa berbeda.

Selain itu, ada kondisi lain yang sering membuat seseorang menjadi ‘kebal’ pada efek kopi, yaitu ketika seseorang mengalami kurang tidur kronis. Jika tubuh mengalami sleep debt atau utang tidur, kadar adenosin yang menumpuk bisa sangat tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, efek stimulasi kafein mungkin tidak cukup kuat untuk mengimbangi rasa kantuk yang muncul. Akibatnya, seseorang tetap merasa lelah meski sudah minum kopi. Selain genetik dan toleransi, berikut sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi respons tubuh terhadap kopi:

  • Usia
  • Berat badan
  • Kondisi fungsi hati
  • Kehamilan, yang dapat memperlambat metabolisme kafein
  • Konsumsi obat-obatan tertentu
  • Kebiasaan merokok
  • Waktu minum kopi
  • Jenis kopi dan kadar kafeinnya

Sebagian orang memiliki variasi gen yang membuat tubuh memetabolisme atau merespons kafein secara berbeda. Namun, kebiasaan minum kopi setiap hari juga dapat membentuk toleransi sehingga efeknya terasa semakin lemah. Artinya, ketika seseorang tetap mengantuk setelah minum kopi, penyebabnya bukan hanya faktor genetik. Bisa jadi tubuhnya sudah terbiasa dengan kafein, kurang tidur, atau dipengaruhi kondisi fisiologis lainnya.

Secangkir kopi memang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan untuk sementara waktu. Namun, kopi tidak bisa menggantikan kebutuhan dasar tubuh akan istirahat yang cukup.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

BACA JUGA: Wawali Blitar Dukung Evaluasi Total MBG, Elim Tyu Samba: Bukan Dihentikan dan artikel lainnya di Rubrik BACAGAYA

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: kafeinKopiminum kopi
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Seseorang memegang secangkir kopi sambil mengantuk saat bekerja di depan laptop

Kenapa Tetap Mengantuk Meski Minum Kopi? Ini Penjelasannya

Wakil Wali Kota Blitar Elim Tyu Samba mendukung aksi damai yang menuntut evaluasi total Program Makan Bergizi Gratis di Kota Blitar

Wawali Blitar Dukung Evaluasi Total MBG, Elim Tyu Samba: Bukan Dihentikan

layanan streaming Spotify dengan siluet musisi Indonesia dan peta dunia yang menggambarkan mayoritas royalti berasal dari pendengar luar negeri

60% Royalti Musisi Indonesia dari Pendengar Luar Negeri

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In