Bacaini.ID, FILIPINA – Seorang konten kreator kuliner asal Filipina, Emma Amit (51), meninggal dunia setelah diduga mengonsumsi kepiting beracun.
Sebagian kalangan menyebut yang dilakukan konten kreator ini sebagai perbuatan mati konyol demi sebuah konten
Sebab di masyarakat lokal Filipina, kepiting yang disantap itu sudah terkenal sebagai ‘Devil Crab’ atau kepiting setan lantaran beracun.
Peristiwa tragis itu terjadi di wilayah pesisir Filipina pada awal Februari 2026.
Baca Juga:
- Racun Jadi Senjata Paling Mematikan 5 Hewan ini
- Ini Makanan Ekstrem di Dunia: Hanya Untuk yang Bernyali
Berdasarkan laporan media internasional, termasuk yang dimuat New York Post, insiden bermula pada Selasa, 3 Februari 2026, ketika Emma pergi ke kawasan hutan bakau bersama sejumlah rekannya untuk mencari ikan dan kepiting.
Dalam kesempatan itu ia menemukan kepiting yang diyakini berasal dari keluarga Xanthidae, kelompok kepiting yang diketahui mengandung racun berbahaya, seperti Tetrodotoxin.
Emma kemudian merekam aksinya saat mengonsumsi kepiting tersebut. Rekaman itu diduga dibuat sebagai konten uji nyali atau eksplorasi makanan ekstrem untuk diunggah ke media sosial.
Mulut Kebas Setelah Makan Kepiting
Masih pada sore hari yang sama, Emma mulai merasakan gejala awal berupa mati rasa di bibir dan lidah. Gejala tersebut dikenal sebagai tanda khas keracunan Tetrodotoxin, racun saraf yang dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kelumpuhan.
Menurut keterangan yang beredar, Emma sempat pulang ke rumah setelah merekam video tersebut.
Namun pada Rabu, 4 Februari 2026, kondisinya memburuk. Ia mengalami kejang-kejang dan kesulitan bernapas hingga akhirnya dilarikan ke fasilitas kesehatan setempat.
Meski sempat mendapatkan perawatan medis, nyawanya tidak tertolong. Emma dinyatakan meninggal dunia pada Kamis, 5 Februari 2026, atau dua hari setelah mengonsumsi kepiting beracun yang ia dapatkan.
Video Konten Jadi Petunjuk Awal Penyebab
Beberapa rekaman video dokumentasi yang dilakukan Emma untuk kebutuhan konten media sosialnya pada akhirnya menjadi petunjuk penting bagi keluarga dan otoritas setempat dalam mengidentifikasi jenis kepiting yang ia dikonsumsi.
Dalam videonya, terlihat momen saat Emma dan beberapa orang lainnya berburu ikan dan kepiting di hutan bakau, membersihkan hasil tangkapannya, hingga proses memasak. Dan salah satu video merekam aktivitas Emma saat ia menunjukkan kepiting ke arah kamera sebelum memakannya.
Laporan menyebutkan, sesaat setelah perekaman selesai, ia mulai mengeluhkan sensasi kebas di mulut, gejala awal yang konsisten dengan paparan racun saraf.
Video tersebut sempat beredar luas di media sosial dan menjadi viral, memicu peringatan keras dari otoritas kesehatan setempat agar masyarakat tidak mengonsumsi hewan laut beracun demi konten atau sensasi di dunia maya.
Kepiting Xanthidae Dikenal Beracun
Beberapa spesies dalam keluarga Xanthidae, seperti Zosimus aeneus dan Demania cultripes, diketahui dapat mengandung Tetrodotoxin, racun saraf kuat yang juga ditemukan pada ikan buntal.
Racun ini tidak hancur oleh proses memasak dan dapat menyebabkan kelumpuhan otot, gagal napas, hingga kematian.
Ironisnya, Emma disebut merupakan seorang nelayan berpengalaman. Keluarga dan tetangganya diketahui memahami bahwa jenis kepiting tersebut beracun. Namun, diduga demi membuat konten yang menarik perhatian publik, ia tetap nekat mengonsumsinya.
Otoritas kesehatan setempat kemudian mengeluarkan peringatan resmi kepada masyarakat agar tidak meniru tindakan berbahaya demi popularitas di media sosial.
Peristiwa ini kembali menyoroti fenomena konten ekstrem di platform digital, yang dalam beberapa kasus berujung pada risiko serius terhadap keselamatan pembuatnya.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





