• Login
Bacaini.id
Wednesday, June 17, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Lontong Cap Go Meh Bukan dari Tiongkok, Ini Sejarah Akulturasi Jawa-Tionghoa yang Unik

Tak banyak yang tahu, lontong cap go meh bukan dari Tiongkok, melainkan lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Indonesia

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
3 March 2026 23:42
Durasi baca: 3 menit
Lontong Cap Go Meh lengkap dengan opor ayam dan sambal goreng ati

Lontong Cap Go Meh menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Indonesia (foto AI/Bacaini)

Bacaini.ID, KEDIRI – Banyak yang mengira Lontong Cap Go Meh berasal dari Tiongkok. Faktanya, hidangan ini justru lahir di Indonesia sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Disajikan saat perayaan Cap Go Meh yang menjadi puncak rangkaian Tahun Baru Imlek, lontong cap go meh menyimpan sejarah panjang serta makna filosofis di setiap sajiannya.

Puncak perayaan Imlek, Cap Go Meh, jatuh pada hari Selasa 3 Maret 2026. Secara tradisi, perayaan ini dilakukan tepat 15 hari setelah Tahun Baru Imlek, yang tahun ini jatuh pada 17 Februari, sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan tahun baru.

Beberapa kota di Indonesia telah memulai festival lebih awal. Misalnya, puncak acara di Pulau Kemaro, Palembang berlangsung pada 1 Maret lalu, sementara kirab budaya di Bekasi dan berbagai daerah lainnya diadakan tepat pada 3 Maret 2026.

Baca Juga:

  • Februari 2026 Langka: Tiga Momen Suci Datang Beruntun

Perayaan Imlek tahun ini tergolong unik karena bertepatan dengan masa menjelang bulan Ramadan, sehingga di beberapa daerah seperti Padang, bazar perayaan digabung dengan nuansa Ramadan.

Cap Go Meh memiliki satu hidangan ikonik khas peranakan Tionghoa Indonesia: Lontong Cap Go Meh.
Di Tiongkok, hidangan khas untuk menutup Imlek adalah Yuanxiao atau Tangyuan. Lontong Cap Go Meh muncul sebagai hasil akulturasi budaya yang memiliki nilai historis. 

Asal-usul Lontong Cap Go Meh: Hidangan Ikonik Hasil Akulturasi Budaya

Lontong Cap Go Meh merupakan hidangan yang murni datang dari fenomena Peranakan Tionghoa-Jawa dan tidak ditemukan di Tiongkok maupun komunitas Tionghoa negara lain seperti Malaysia atau Singapura.

Tradisi Tionghoa dan Jawa, terasa sangat kental dalam hidangan ini. Lontong Cap Go Meh tercipta, bermula dari para pendatang laki-laki asal Tiongkok yang menikah dengan perempuan lokal.

Pernikahan campuran ini, menyatukan dua budaya berbeda tak terkecuali soal makanan. Sama seperti hidangan khas Imlek lainnya yang memiliki makna filosofis, lontong cap go meh juga mengandung arti dalam setiap komposisi atau kondimennya.

Lontong cap go meh berisi: lontong, opor ayam,  sayur lodeh labu siam, sambal goreng ati, telur pindang, bubuk koya dan pelengkap lainnya seperti sambal, acar dan kerupuk udang.

Konon, lontong digunakan untuk mengganti hidangan khas asli Cap Go Meh yuanxiao, bola nasi ketan atau bubur putih. Pada masyarakat Jawa, bubur dianggap sebagai makanan orang sakit, karenanya kemudian diganti dengan lontong.

Bentuk lontong yang panjang dianggap melambangkan panjang umur.  Sementara telur di lontong Cap Go Meh melambangkan keberuntungan. 

Kuah santan yang dibumbui dengan kunyit berwarna keemasan melambangkan emas dan keberuntungan, simbol kemakmuran dan kekayaan.

Wadah penyajian lontong Cap Go Meh harus terisi penuh, menjulang tinggi, dengan berbagai lauk dan kuah yang melimpah. Sajian hidangan yang penuh ini menandakan doa dan harapan untuk rezeki yang melimpah. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: lontong cap go meh
Via: imlek
Tags: akulturasi budayabudaya indonesiacap go meh 2026imlek 2026jawa tionghoakuliner imleklontong cap go mehtradisi peranakan
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Warga mengikuti tradisi Baritan dan ritual bulan Suro di wilayah Blitar Jawa Timur

Tradisi Bulan Suro di Blitar: Dari Baritan hingga Larung Sesaji, Masih Dilestarikan Warga

Ilustrasi perbedaan tampilan wajah carb face dan protein face akibat pola konsumsi karbohidrat dan protein

Carb Face vs Protein Face, Apa Pengaruh Makanan ke Wajah?

Satpol PP Tulungagung merazia 47 pelajar yang nongkrong di warung kopi saat jam sekolah

Pelajar Tulungagung Dilarang di Warkop, Terjaring Razia Dihukum Nyanyi Indonesia Raya

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In