Bacaini.ID, KEDIRI – Memasuki ujung bulan Juli, grup WhatsApp RT di perumahan perkotaan mulai dibanjiri proposal kegiatan peringatan 17 Agustus. Namun tahukah kamu jika metode penggalangan dana di kawasan perkampungan padat dan perumahan cluster ternyata berbeda.
Di kawasan perkampungan padat, penggalangan dana kemerdekaan kerap mewujud dalam aksi fisik yang guyub. Panitia, yang biasanya diwakili pemuda Karang Taruna, berkeliling dari pintu ke pintu membawa buku iuran, bertukar sapa dengan pemilik rumah, hingga berbincang santai di teras.
Gotong royong di sini bersifat taktil dan presensial. Nominal iuran juga sering kali fleksibel, disesuaikan dengan kemampuan warga, dan kekurangan dana ditutup dengan kerja bakti. Membuat gapura dari bambu bekas atau memasang bendera bersama-sama hingga larut malam.
Sebaliknya, di perumahan cluster atau apartemen, proses ini berlangsung efisien dan kontraktual. Panitia menyebarkan dokumen PDF, mencantumkan nomor rekening atau kode QRIS, lalu menetapkan flat rate iuran per rumah.
Kerja bakti fisik digantikan oleh pelibatan vendor, gapura dirakit oleh tukang sewaan, panggung ditangani event organizer skala kecil, dan katering menggantikan tradisi bancakan atau tumpengan buatan ibu-ibu kompleks.
Digitalisasi pengelolaan dana melahirkan transparansi tinggi melalui spreadsheet yang bisa diakses publik. Namun, ada harga sosial yang dibayar. Ketika partisipasi ditakar dengan transfer bank, gotong royong berisiko bergeser menjadi sekadar pemenuhan kewajiban administrasi sosial. Warga merasa “tugas kebangsaan”-nya telah selesai begitu bukti transfer diunggah ke grup percakapan.
Meski demikian, bentuk gotong royong di perumahan modern tidak hilang, melainkan bertransformasi. Di era perkotaan yang serba cepat, waktu menjadi komoditas paling mahal. Bagi masyarakat pekerja di cluster, menyumbang dana secara cepat dan transparan adalah bentuk kepedulian paling rasional yang bisa mereka berikan agar perayaan bersama tetap bisa terwujud.(htw/edt)




