Poin Penting:
- Bung Karno menjelaskan istilah “Komunisto Phobi” dalam pidatonya pada HUT ke-45 PKI di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 Mei 1965.
- Menurut Soekarno, istilah “komunis” sengaja digunakan dalam Nasakom untuk menghadapi ketakutan dan kebencian terhadap komunisme dan PKI.
- Dalam pidato tersebut, Bung Karno juga menjelaskan mengapa ia tidak menggunakan istilah Nasasos atau Nasamarx, serta menyinggung PSI dan BPS.
Bacaini.ID, JAKARTA – Empat bulan sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) tumpas oleh ‘operasi militer’ 30 September 1965 (G30S 1965), Presiden Soekarno atau Bung Karno berpidato soal komunisto phobi yang itu sekaligus menjelaskan alasan pemakaian terminologi komunis dalam Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis).
Kenapa tidak memakai terminologi Sos (Sosialisme), Nasasos, atau Marx (Marxisme), Nasamarx? Atau merujuk pada gagasan tahun 1926, yakni Nasionalis, Islam dan Marxisme. Tapi justru memilih menyatukan tenaga-tenaga progresif revolusioner dengan nama Nasakom.
Berpidato di depan ratusan ribu massa di acara HUT ke-45 PKI di Stadion Utama Gelora Bung Karno (Senayan) Jakarta 23 Mei 1965, Bung Karno mengatakan pemilihan term komunis dalam Nasakom karena alasan masih banyak orang-orang Indonesia yang phobia dengan komunis (Komunisto phobi).
Masih banyak ditemukan komunisto phobi di kalangan orang nasionalis, di kalangan orang agama dan di kalangan orang-orang angkatan bersenjata. Bung Karno ingin membersihkan semua ketakutan atau komunisto phobi itu. Karenanya ia sengaja memakai ‘kom’ dalam penggabungan nationale revolutionaire krachten.
“Phobi kepada “Kom” artinya takut kepada “Kom”, khususnya takut kepada PKI, benci kepada PKI, hendak menghancur-leburkan PKI,” kata Bung Karno seperti dikutip Bacaini.ID dari pidato Rapat Raksasa Ulang Tahun ke-45 PKI Selasa (29/9/2026).
Alasan lain memakai term komunis dalam Nasakom adalah PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang telah dibubarkannya bersama Partai Masyumi. Bung Karno tidak ingin gagasannya dicuri oleh orang-orang PSI yang telah dicapnya sebagai golongan kontrarevolusioner.
Ia berpandangan selama ini PSI sering membanggakan diri sebagai kaum Marxis. Padahal mereka, kata Soekarno merupakan golongan revisionis (kontra marxisme). Karenanya dipilihlah term ‘kom’ atau Nasakom ketimbang ‘marx’ atau Nasamarx.
“Kalau aku memakai perkataan Nasamarx, jangan-jangan nanti orang-orang PSI juga ikut-ikut di dalam Nasamarx ini saudara-saudara. Padahal mereka adalah kontra-revolusioner, padahal mereka adalah revisionis tulen, padahal mereka adalah pencoleng Marxisme!,” tegas Bung Karno.
Bung Karno juga menyinggung soal pejuang-pejuang gadungan. Tenaga-tenaga revolusioner gadungan. Marhenis gadungan. Marxis gadungan, yang itu tidak boleh dipersatukan dalam perjuangan anti imperialisme. Menurut Soekarno, tenaga-tenaga gadungan lebih berbahaya ketimbang imperialis sendiri.
“Itulah sebabnya tempo hari saya perintahkan, bubarkan BPS (Badan Pendukung Soekarnosime) dan semua antek-antek BPS,” kata Soekarno.
Di tengah riuh tepuk tangan ratusan ribu massa, Soekarno menyitir ulang ungkapan yang pernah dilontarkannya dalam pidato di Kongres PKI ke-VI. Memperlihatkan hubungan Soekarno dan PKI. Dudu sanak, dudu kadang, yen mati aku melu kelangan. Ungkapan itu direvisi sendiri olehnya menjadi, yo sanak yo kadang, yen mati aku kelangan.
Bung Karno menegaskan, sebagai Mandataris MPR dan juga Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, semua unsur progresif revolusiner harus dirangkulnya, termasuk PKI. Ia meyakini revolusi Indonesia tidak akan bisa selesai tanpa menggabungkan seluruh kekuatan tenaga progresif revolusioner.
“Siapa bilang ini soto sembarang soto. Soto ini dari babat. Siapa bilang aku ke Tokyo. Lebih senang tinggal di kalangan rakyat,” kata Soekarno yang menyelipkan pantun yang membakar semangat di pidato Rapat Raksasa Ulang Tahun ke-45 PKI. (sa/edt)




