• Login
Bacaini.id
Tuesday, May 26, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Kisah Cinta Pendiri Alfamart Dengan Tukang Baterei

ditulis oleh
15 August 2022 21:18
Durasi baca: 3 menit
Tan Lie (kiri) saat bekerja di perakitan baterei. Foto: Buku Dari Warung Menuju Alfamart

Tan Lie (kiri) saat bekerja di perakitan baterei. Foto: Buku Dari Warung Menuju Alfamart

Bacaini.id, KEDIRI – Lahir dari keluarga perantau asal Tiongkok pada 9 Februari 1950, Kwok Kwie Fo alias A Kwie hidup dalam keterbatasan. Tak ada gambaran sama sekali jika kelak pria bernama pribumi Djoko Susanto itu akan menjadi taipan pemilik ritel raksasa.

Dikutip dari Buku Dari Warung Menuju Alfamart, Perjalanan Inspiratif Djoko Susanto Mendayung Bisnis Ritel yang ditulis Alberthiene Endah, masa kanak-kanak hingga remaja A Kwie cukup keras. Ibunya Wong Sat Nyang sampai-sampai menjahitkan baju dari bahan blacu pembagian tentara Jepang untuk anaknya. A Kwie adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara.

Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana dengan kombinasi tembok dan bilik bambu di Jalan Persatuan Guru Nomor 39 Kawasan Petojo. Sumber penghasilan mereka adalah kios sederhana yang dibuka di teras rumah. Profesi yang banyak ditekuni perantau Tiongkok di Indonesia.

Kondisi itu mempengaruhi kepercayaan diri A Kwie dalam bergaul, terutama kepada lawan jenis. “A Kwie, kau tunggu apa lagi. Pekerjaan sudah ada, kau juga punya sepeda, apa lagi yang ditunggu untuk mencari pacar,” ledek teman-temannya di perakitan radio merek Oscar tempatnya bekerja tahun 1968.

Punya pekerjaan dan sepeda adalah modal dasar untuk mencari pacar. Muda-mudi yang punya pasangan akan membonceng pacar masing-masing ke Pasar Minggu atau Bogor. Hal yang tak bisa dilakukan A Kwie.

Dia terlalu takut jika perempuan yang didekati akan menanyakan kondisi keuangannya. A Kwie juga khawatir pacarnya akan mengajukan banyak permintaan. Hal itulah yang membuatnya bertahan untuk melajang.

Sampai suatu saat A Kwie melihat seorang gadis yang bekerja di Divisi Perakitan Batu Baterei tempatnya bekerja. Di divisi itu pekerjaan yang dilakukan macam-maca. Mulai menjadi tukang sorder, menguji resistor atau kapasitor, hingga mengemas radio.

“Di sanalah saya melihat gadis itu. Tenggelam di antara radio-radio yang telah jadi dan siap diuji,” kata A Kwie.

Gadis itu tidak terlampau cantik. Juga tidak atraktif. Namun diamnya itulah yang membuat A Kwie penasaran. “Kami hanya bertatapan satu detik, selanjutnya dia kembali tekun mengerjakan tugasnya. Tak menoleh lagi,” lanjut A Kwie.

Gadis itu adalah Tan Lie Tjen, gadis tukang colok kabel penguji radio. Makin hari ketertarikan A Kwie kepada Tan Lie makin besar. Setiap selesai kerja A Kwie bergegas keluar dan menuntun sepedanya. Berdiri di jalan masuk keluar pabrik demi melihat Tan Lie pulang.

Sayang upaya itu bertepuk sebelah tangan. Tan Lie tetap cuek dan berjalan menuju arah pulang. Meninggalkan A Kwie yang mematung sendirian.

Hingga suatu hari keberanian A Kwie menggumpal untuk menawarkan mengantar pulang. “Mau pulang bareng? Saya bisa memboncengimu,” katanya.

Lie Tjen tersenyum dan mengangguk. Itulah momen saat A Kwie seperti mendapat bongkahan emas. Malam itu A Kwie mengayuh sepeda kuat-kuat.

Tahun 1968 menjadi tahun yang penting bagi kehidupan A Kwie. Dimana dia mendapat dua hal sekaligus, pengalaman bekerja dan cinta.

Penulis: Hari Tri Wasono

Tonton video:

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: alfamartdjoko susanto
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Salah satu KDMP di Jombang. Foto: bacaini/Syailendra

Belum Beroperasi, Sejumlah Karyawan KDKMP Mengundurkan Diri

Defi Sugiarto, peternak ayam petelur di Desa Ngulankulon, Pogalan, Trenggalek. Foto: bacaini/Aby

Harga Telur Turun Saat Pakan Naik, Peternak Ayam di Trenggalek Kelimpungan

Muh Samanhudi Anwar memberikan pernyataan akan mundur saat pelantikan Ketua KONI Kota Blitar di tengah polemik dana hibah olahraga dan konflik pemilihan KONI

Samanhudi Anwar Akan Mundur Saat Pelantikan Ketua KONI Kota Blitar

  • Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menjelaskan skema dana hibah KONI Kota Blitar

    Sinyal Tegas Wali Kota Blitar soal Dana Hibah KONI, Problem Hukum Samanhudi Jadi Kajian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Samanhudi Anwar Akan Mundur Saat Pelantikan Ketua KONI Kota Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Teror Pocong Masuk Jawa Timur, Mengingatkan Publik pada Ninja hingga Kolor Ijo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In