Jumlah itu menarik bukan hanya karena besar, tetapi menunjukkan sesuatu yang berubah dalam cara masyarakat mengenal tentara. Edy tidak hanya tampil sebagai seorang perwira marinir. Di media sosial, ia juga hadir sebagai pembuat konten.
Kontennya beragam. Ada pesan-pesan positif mengenai kehidupan dan motivasi, kegiatan sosial bersama masyarakat, pesan tentang menjaga lingkungan, hingga aktivitas yang memperlihatkan sisi lain kehidupan seorang marinir.
Beberapa tahun lalu, ketika jumlah pengikutnya masih sekitar 200 ribuan, media sudah menyoroti pola yang sama. Edy membagikan kegiatan sosial, motivasi, edukasi masyarakat pesisir, serta aktivitasnya sebagai penyelam dan penggemar spearfishing.
Artinya, popularitas @marinemen7 tidak muncul hanya karena satu video yang kebetulan viral. Ada cerita yang terus dibangun melalui berbagai jenis konten.
Institusi TNI sendiri telah lama memberikan perhatian terhadap perilaku prajurit di ruang digital. Pada April 2026, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mendorong prajurit menyebarkan konten positif melalui media sosial sekaligus mengingatkan agar mereka berhati-hati terhadap hoaks dan provokasi.
Di lingkungan TNI AU, persoalan ini bahkan terus menjadi bagian dari pembinaan personel. Pada Juni 2026, prajurit Lanud H. AS Hanandjoeddin kembali diingatkan agar tidak mengunggah konten yang dapat merugikan institusi atau melanggar aturan.
Sementara pada Mei 2026, prajurit Lanud Raden Sadjad di Natuna diingatkan mengenai batas penggunaan media sosial, termasuk larangan melakukan siaran langsung pada jam dinas dan menggunakan pakaian dinas untuk konten pribadi yang tidak berkaitan dengan kedinasan.
Artinya, TNI memahami bahwa setiap unggahan prajurit tidak selalu berhenti pada akun pribadi. Satu video bisa membawa nama institusi.
Mengapa kita suka melihat kehidupan tentara?
Seragam sejatinya hanyalah pintu masuk. Orang bertahan menonton karena ada cerita di baliknya, bagaimana seseorang hidup sebagai prajurit, bagaimana mereka berlatih, bagaimana mereka menjalani tugas, bagaimana mereka memperlakukan keluarga dan masyarakat, atau seperti apa kehidupan mereka ketika tidak sedang menjalankan tugas.
Media sosial membuat sisi-sisi tersebut bisa dilihat tanpa harus menunggu sebuah upacara atau berita televisi. Dalam ruang digital, tentara tidak lagi hanya hadir sebagai sosok yang berdiri tegap dalam barisan. Mereka bisa muncul sebagai ayah, ibu, anak, atlet, petani, relawan, content creator atau sekadar seseorang yang sedang menjalani hari.(htw/edt)



