
Circle yang Sehat Bukan yang Selalu Sepakat
Punya circle yang sehat bukan berarti memiliki teman-teman yang selalu membenarkan semua keputusan kita. Justru sebaliknya.
Teman yang baik bisa mengatakan bahwa kita keliru tanpa membuat kita merasa direndahkan. Mereka bisa memberikan kritik tanpa menjatuhkan. Mereka juga bisa ikut bahagia ketika kita mendapatkan sesuatu yang baik tanpa merasa tersaingi.
Di tengah budaya membandingkan kehidupan, yakni siapa yang lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih cepat menikah atau lebih dulu memiliki rumah, pertemanan yang sehat menjadi semakin penting.
Sebab, teman seharusnya bukan tambahan tekanan. Teman semestinya menjadi tempat untuk bertumbuh.
Tidak Harus Banyak, yang Penting Nyaman
Semakin dewasa, jumlah teman biasanya justru semakin sedikit. Teman sekolah mulai sibuk dengan pekerjaan. Teman kuliah punya keluarga dan kesibukan masing-masing. Lingkaran pertemanan pun berubah.
Itu bukan sesuatu yang harus disesali.
Perempuan tidak membutuhkan puluhan teman untuk merasa memiliki komunitas. Kadang dua atau tiga orang yang benar-benar bisa dipercaya jauh lebih berarti daripada banyak orang yang hanya hadir ketika semuanya menyenangkan.
Yang penting bukan seberapa banyak orang yang ada di dalam circle, tetapi apakah kita bisa menjadi diri sendiri di dalamnya. Bisa tertawa tanpa dibuat-buat. Bisa menangis tanpa malu. Bisa bercerita tanpa takut ceritanya menjadi bahan pembicaraan orang lain. Dan yang paling penting, bisa berkembang tanpa merasa harus mengecilkan diri sendiri.
Perempuan Butuh Perempuan Lain
Ada pengalaman tertentu yang hanya bisa benar-benar dipahami oleh perempuan lain.
Tentang perubahan tubuh. Tentang menjadi ibu. Tentang tekanan sosial. Tentang karier. Tentang hubungan. Tentang memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang.
Karena itu, membangun pertemanan antarsesama perempuan bukan sekadar mencari teman untuk menghabiskan waktu luang, tetapi bisa menjadi bentuk support system.
Bisa dimulai dari hal sederhana. Mengajak teman berjalan pagi. Mengikuti kelas yoga. Ngopi sambil berbicara dari hati ke hati. Bergabung dengan komunitas. Atau sekadar menyempatkan diri bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Dari pertemuan-pertemuan sederhana itu, hubungan bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berarti.
baca halaman selanjutnya………….



