Bacaini.ID, JEMBER – Sekitar 2.000 warga dari 15 RW di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, tumpah ruah menggelar Pawai Kunang-Kunang Kebudayaan di Jalan Branjangan, Minggu (27/9/2026).
Aksi seni budaya tanpa pengeras suara berdaya tinggi (sound horeg) ini dihadirkan sebagai bentuk respons dan solusi atas fenomena karnaval yang selama ini kerap meresahkan masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan (PEKA) yang diinisiasi oleh Yayasan Nara Bestari dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan LPDP, mengusung semangat “Seni yang Ramah Bumi.”
Pengelola Yayasan Nara Bestari, Hadi Purnomo, menyampaikan bahwa pergelaran ini lahir dari keresahan masyarakat terhadap degradasi nilai-nilai budaya pada karnaval belakangan ini.
Pawai ini dirancang untuk mengembalikan jati diri karnaval sebagai ajang hiburan publik yang edukatif dan menginspirasi.
“Ini adalah respons dari para penggiat budaya di Festival Peka untuk memfasilitasi inisiatif masyarakat yang sangat antusias melaksanakan karnaval, namun tetap memahami dan memegang nilai-nilai budaya itu sendiri,” ujar Hadi.
Ia menegaskan, karnaval kali ini memadukan kesenian, kreativitas, serta kesadaran ekologi secara beriringan. Selain menonjolkan tradisi lokal, pergelaran ini menjadi wadah kampanye pelestarian lingkungan hidup, salah satunya melalui spanduk dan poster berisi pesan-pesan edukatif yang dibawakan oleh para peserta anak-anak.
Di sepanjang rute pawai, anak-anak dengan kostum bertema alam tampak ceria membawa poster bernomor yang menyerukan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan kebudayaan.
Pesan-pesan yang diusung di antaranya bertuliskan “Saat Alam Bernapas, Budaya Menari, dan Masa Depan Menyala,” serta “Dari Pekarangan, dari Kampung, dari Kebudayaan yang Hidup—Kita Menanam Masa Depan Bersama.”
Pesan tersebut menjadi ajakan langsung bagi masyarakat untuk menjaga alam dan merawat tradisi demi generasi mendatang.
Dalam pergelaran ini, kunang-kunang diangkat menjadi simbol utama. Kehadirannya melambangkan ekosistem yang relatif sehat sekaligus mengingatkan bahwa alam dan kebudayaan sama-sama membutuhkan ruang hidup untuk tumbuh dan diwariskan. Lewat pendekatan partisipatif, warga kampung ditempatkan sebagai pelaku utama seni, bukan sekadar penonton.
Melibatkan sekitar 40 kafilah dari 15 RW dan 68 RT se-Kelurahan Bintoro, pawai ini menampilkan beragam kesenian tradisional khas Jember, mulai dari musik patrol, glundeng, gamelan, pencak silat, tarian tradisional, jaranan, hingga penari kunang-kunang.
Selain menghidupkan kembali nilai tradisi dan menjaga lingkungan, hadirnya ruang ekspresi budaya di ruang publik ini terbukti memberikan dampak ekonomi positif (multiplier effect).
Kerumunan warga yang memadati jalur pawai turut menggerakkan perekonomian lokal dengan hadirnya para pelaku UMKM dan pedagang kecil.
Melalui sinergi kampanye ekologi, pelestarian tradisi, dan pemberdayaan ekonomi warga, Festival Peka berharap pola pergelaran ramah lingkungan ini dapat menjadi acuan baru dalam merawat kebudayaan di tengah masyarakat. (meg/adv)




