Bacaini.ID, KEDIRI – Suwari, pembuat patung Macan Putih yang viral dari Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri bekerja dengan tangan kosong. Tanpa sketsa digital, tanpa printer 3D, tanpa mesin pemotong otomatis, ia mengandalkan pengalaman, naluri, dan kekuatan tubuh yang telah menemaninya sejak 1980-an.
Karyanya menjadi perbincangan nasional bukan karena tampilan yang presisi atau realistik, melainkan karena ketidaksempurnaan yang justru terasa manusiawi dan memancing senyum.
Patung Macan Putih yang ia buat seorang diri dalam waktu sekitar 18 hari dari rangka hingga pijakan, menjadi buah tangan yang lahir murni dari proses manual yang sudah jarang ditemui di era modern.
Di saat dunia seni bergerak cepat mengikuti arus otomasi, Suwari justru berjalan ke arah sebaliknya. Ketika para seniman digital membangun karya melalui layar dan algoritma, ia tetap berdiri di jalan desa, ditemani pipa, kawat, adukan semen, dan intuisi.
Artificial Intelligence (AI) mungkin dapat merender macan yang gagah dengan anatomi presisi, sementara Suwari mematung dengan ritme yang ditentukan oleh tenaga tubuh dan kesabaran. Kakek berusia 71 tahun ini menunjukkan bahwa seni tak selalu memerlukan bantuan mesin untuk mendapatkan jiwanya.
Keputusannya bertahan pada metode primitif bukan bentuk penolakan terhadap teknologi; justru ia melakukannya tanpa agenda apa pun. Jalur manual itu ia tempuh karena itulah cara yang paling ia pahami, dan itulah cara yang menurut dirinya paling alamiah.
Keunikan proses kreatif Suwari semakin terasa ketika menyingkap bagaimana ia bekerja. Kepada Bacaini.ID, ia mengaku tidak menggunakan sketsa digital, dan membuat patungnya murni dengan insting.
Namun tak ada yang pernah menggali bagaimana ia membaca proporsi. Apakah ia mengukur panjang kaki atau lebar tubuh patung dengan meteran, atau cukup mengandalkan perasaan? Bagaimana ia menentukan bagian mana yang harus diperbesar atau diperkecil? Bagaimana ia membayangkan bentuk akhir di kepalanya sebelum dicetak menjadi wujud tiga dimensi? Demikian pula dalam menentukan ekspresi wajah patung.
“Begitu dapat gambar dari pemesan, saya langsung mencetak rangka, tanpa desain dan pola. Wong saya juga tidak pernah punya ilmu membuat patung,” katanya kepada Bacaini.ID, Kamis, 5 Februari 2026.

Dari seluruh rangkaian pembuatan, ia sempat mengalami kesulitan saat mencetak kepala macan. Beberapa kali cetakan yang sudah jadi ia bongkar kembali. “Sempat kegedean ukuran kepalanya,” kata Suwari.
Namun soal “wajah” macan yang terkesan lucu dan gemoy, Suwari mengklaim menirukan contoh gambar yang dipesan. Bentuknya memang seperti itu, garis mulut yang tidak terlalu melengkung tajam, mata yang tidak menyipit agresif, dan gestur tubuh yang lebih jinak dibandingkan imajinasi umum soal macan.
Elemen-elemen ini hadir bukan karena perhitungan desain digital, tetapi karena pertimbangan sosial dan naluri estetik seorang seniman desa.
Tak kalah menarik adalah pengetahuannya sebagai seniman kampung. Ketika dunia digital mensimulasikan kekuatan bahan lewat komputer, Suwari menilai kekokohan dan tekstur patung dari tekanan jarinya sendiri. Ia memahami ritme pengerasan semen bukan dari teori, tetapi dari bertahun-tahun pengalaman.
Ia tahu seberapa kuat rangka kawat harus direntangkan agar menopang bentuk, dan ia paham kapan harus berhenti menambah adukan agar tak runtuh. Kemampuan ini tidak bisa di-download seperti file 3D, namun tinggal dalam tubuh seorang pekerja seni yang telah bekerja dengan materialnya puluhan tahun.
Ketidaksempurnaan yang terlihat pada patung Suwari, yang oleh warganet disebut mirip kuda nil atau zebra, justru menjadi alasan utamanya viral. Bentuk aneh itu memancing kejutan visual, sebuah kualitas yang sangat disukai algoritma media sosial.
Patung macan Surwari tampil berbeda di tengah ragam gambar AI yang estetis seragam, simetris, dan tanpa cacat. Ia memberi celah bagi manusia untuk merespons spontan; tersenyum, tertawa, bingung, lalu memotret.
Ekspresi macan yang dianggap “gemoy” oleh sebagian warganet membuat banyak orang datang ke Desa Balongjeruk hanya untuk berfoto. Suwari bukan hanya membuat karya seni, tapi tanpa sengaja menciptakan fenomena budaya. Karya itu viral bukan karena sempurna, melainkan justru karena tidak sempurna.
Penulis: Hari Tri Wasono





