• Login
Bacaini.id
Thursday, April 16, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Jejak Agresi Militer Belanda di Pujon

ditulis oleh Editor
25 February 2023 18:20
Durasi baca: 2 menit
Garis Status Quo di jalur Pujon-Batu. Foto: Bacaini/A.Ulul

Garis Status Quo di jalur Pujon-Batu. Foto: Bacaini/A.Ulul

Bacaini.id, MALANG – Pengendara yang biasa melintasi jalur Pujon-Batu pasti tidak asing dengan sebuah tugu bertuliskan Statuz Quo Lijn atau Garis Status Quo. Tahukah kamu jika tugu penanda bercat warna hijau itu menyimpan historis panjang dalam perjuangan kemerdekaan RI.

Tugu penanda yang juga disebut Garis Van Mook itu tepat berada di Jalan Brigjen Abdul Manan Wijaya, Kecamatan Pujon. Diketahui, sebutan itu diambil dari nama Gubernur Jenderal Belanda pada masa itu.

Tugu tersebut dibangun sebagai batas garis demarkasi wilayah kekuasaan Belanda pasca Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Jadi, lebih tepatnya, bangunan itu bukanlah sebuah tugu penanda maupun garis batas desa.

Perjanjian Renville sendiri merupakan inisiasi PBB untuk menghentikan gencatan senjata antara kedua belah pihak, Indonesia dan Belanda ketika Agresi Militer. Dalam perjanjian itu, lahir kesepakatan terkait pembagian daerah kekuasaan, termasuk di wilayah Pujon.

Sejarawan Malang, Dwi Cahyono mengatakan, pembagian wilayah kekuasaan dari hasil Perjanjian Renville dimulai dari garis batas itu. Di mana wilayah Pujon ke barat, Kasembon, Ngantang hingga Yogyakarta ditetapkan sebagai wilayah Republik Indonesia.

”Sebaliknya, Pujon ke timur (termasuk Malang hingga Jawa Timur – Banyuwangi) merupakan daerah kekuasaan Belanda,” kata Dwi, Sabtu, 25 Februari 2023.

Secara geografis, garis batas itu sekarang terletak di Jalan Brigjen Abdul Manan Wijaya, Desa Pandesari yang saat itu masuk wilayah kekuasaan Belanda. Sebagian bangunan dengan arsitektur Belanda kuno masih ada, bahkan terjaga dengan baik hingga saat ini.

Meski sudah ada Perjanjian Renville, aksi saling serang antar pejuang Indonesia yang juga diperkuat Arek-arek Pujon dengan Belanda di garis batas itu masih terjadi. Gencatan senjata berujung pertempuran, banyak putera Indonesia gugur di sana.

Sampai akhirnya Belanda benar-benar hengkang pada tahun1948, garis batas itu menjadi saksi bisu pertumpahan darah para pejuang. Seperti Brigjen Abdul Manan Wijaya bersama Letnan Soemadi dan Mayor Sunandar.

Selain Brigjen Abdul Manan Wijaya yang menjadi pemimpin rakyat pada masa itu, nama-nama pejuang bangsa lain yang tercatat gugur saat itu diantaranya Kopral Kastawi, AP III Katjoeng Permadi dan Soejadi serta Serma Soewarno Yudho yang bertugas berjaga di garis batas tersebut.

Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur pada pertempuran di garis batas, dibangunlah monumen pejuang dan patung Brigjen Abdul Manan Wijaya, AP III Katjoeng Permadi sedang menggotong rekan pejuang yang gugur. Bangunan itu berada di seberang garis Van Mook.

Tulisan pada monumen, tepat di bawah Mobil Jeep Willys (kenangan terhadap AP III Katjoeng Permadi) juga cukup membekas bagi siapapun yang membacanya “Coba renungkan, kematianku untuk siapa”.

Penulis: A.Ulul
Editor: Novira

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: agresi militer belandaGaris Van Mookjalur batu-pujonsejarah kemerdekaan
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Kegiatan outdoor ramah anak (taman, hutan kota)

Stop Jadi Orang Tua FOMO: Demi Konten, Anak Bisa Jadi Korban

Konferensi internasional “Communication for Prosperity" di kampus UAI Jakarta.

UAI Gelar Konferensi Internasional, Bahas Komunikasi dan Ketahanan Ekonomi Digital

Ilustrasi kekerasan kepada anak. Foto: istimewa

Balita Meninggal Penuh Luka, Polisi Periksa Orang Tua dan Nenek

  • Petani di Ponorogo mengelola lahan pertanian sebagai bagian dari upaya swasembada pangan nasional

    Ponorogo dan Panggilan Sejarah: Dari Daerah Agraris Menuju Penyangga Kedaulatan Pangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wasiat Yai Mim yang Membuat Keluarga di Blitar Tidak Diam, Dimakamkan Sesuai Keinginan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pj. Sekda Kota Kediri Segera Diganti, Ditunjuk dari Pemkot Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemblokiran TPA Klotok Picu Krisis Sampah di Kota Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waktunya Jual Emas! Harga Antam Hari Ini Tembus Rp2,89 Juta per Gram, Rekor Tertinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In