Bacaini.ID, TRENGGALEK – Menjelang puncak Hari Jadi ke-832 Trenggalek, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek kembali menghidupkan tradisi jamasan pusaka di Pendopo Manggala Praja Nugraha.
Sebanyak 14 pusaka peninggalan masa lalu dibersihkan melalui prosesi adat Jawa. Jamasan tidak sekadar menjadi ritual membersihkan benda-benda pusaka.
Di balik tombak, payung, hingga peninggalan bersejarah lainnya, tersimpan pesan moral dari leluhur yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat dan kepemimpinan saat ini.
Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, mengatakan setiap pusaka memiliki filosofi tersendiri. Salah satunya adalah tombak Korowelang yang menyimpan pesan tentang tanggung jawab seorang pemimpin kepada rakyat.
“Pusaka namanya tombak kita itu Korowelang, itu mengandung filosofi, mengandung pesan dari para leluhur kita, pendiri Trenggalek bahwa seorang pemimpin rakyat itu harus memperhatikan dua perkara,” kata Doding.
Ia menjelaskan, kata “koro” dimaknai sebagai perkara atau persoalan, sedangkan “welang” berarti piwulang atau pembelajaran.
Filosofi tersebut mengandung pesan bahwa pemimpin tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pemimpin juga harus memberikan pembelajaran serta pelayanan yang baik, termasuk dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
“Sebagai pemimpin di Trenggalek kita harus bisa benar-benar bekerja menyelesaikan permasalahan yang ada di Trenggalek,” ujarnya.
Pesan kepemimpinan juga tercermin dalam payung Songsong Tunggal Hawa Bawono. Bagi Doding, payung tersebut menggambarkan kewajiban seorang pemimpin untuk memberikan perlindungan dan menaungi seluruh kemaslahatan masyarakat.
“Seorang pemimpin harus memayungi seluruh kemaslahatan Trenggalek, baik secara kehidupan rakyatnya, secara ekonomi, secara kesehatan, secara alam,” jelasnya.
Selain pusaka, dalam rangkaian jamasan juga terdapat Prasasti Kamulan yang memiliki nilai sejarah penting bagi Trenggalek. Keberadaannya menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan perjalanan panjang daerah serta akar leluhurnya.
“Semua mengandung filosofi bahwa kita tidak boleh lupa dengan sejarah, akar leluhur kita,” katanya.
Tradisi jamasan tahun ini menjadi semakin bermakna karena digelar dalam rangkaian Hari Jadi ke-832 Trenggalek yang mengusung tema “Hambeging Bumi”.
Tema tersebut mengajak masyarakat untuk kembali memahami hubungan dengan bumi, menjaga lingkungan, sekaligus mempertahankan jati diri daerah.
Bagi Doding, pesan yang diwariskan melalui pusaka bukan sekadar cerita masa lalu. Nilai tersebut merupakan pedoman moral yang perlu terus dijaga oleh generasi saat ini.
“Ini adalah pesan moral yang ditinggalkan oleh para leluhur kita yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.(abi/adv)




