Bacaini.ID, JAKARTA – Pemerintah Iran dikabarkan berencana menaikkan tarif untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi recovery pascakonflik. Tindakan ini akan menyebabkan perlambatan ekonomi dunia, dan memberikan tekanan tidak langsung kepada Amerika dan sekutunya.
Pakar Geopolitik Timur Tengah dari Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Syaroni Rofii, mengatakan jika dinamika konflik Iran-Amerika Serikat saat ini telah memasuki fase kritis. “Iran kehilangan banyak dalam perang ini dan butuh pendanaan untuk membangun kembali negara. Selat Hormuz diharapkan menjadi sumber pendapatan dari kapal tanker yang melintas,” kata Syaroni kepada Bacaini.ID, Rabu, 23 April 2026.
Menurut dosen Hubungan Internasional ini, rencana tarif Iran memiliki argumen yang kuat mengingat kerugian besar yang dialami negara tersebut selama konflik berlangsung. Namun, implementasinya akan menghadapi tantangan hukum internasional yang kompleks.
Syaroni menjelaskan bahwa pola konflik saat ini menunjukkan Amerika dengan superioritas militer berusaha mencapai target-targetnya, sementara Iran melakukan perlawanan survival dengan perang asimetris. “Hormuz menjadi titik kritis bagi keberlangsungan Iran. Tanpa Hormuz, Amerika dapat menyelesaikan operasinya dengan mudah,” tegasnya.
Mengulang pernyataannya yang disampaikan di Stasiun Televisi TV One, Iran terbukti efektif memblokade Hormuz dengan menginstal ranjau laut, yang berdampak pada gangguan ekonomi global dan kenaikan harga minyak. “Iran mengancam akan menembus blokade Amerika jika terus diblokade, didukung infrastruktur militer yang masih eksis,” tambah Syaroni.
Eskalasi konflik di Selat Hormuz telah memicu respons diplomatik dari berbagai negara. Amerika berusaha memblokade Hormuz dari bagian luar untuk memotong sumber pemasukan Iran, namun sekutu Amerika di kawasan mulai menunjukkan kekhawatiran karena konflik mengganggu ekonomi mereka.
Syaroni mencatat bahwa 30 negara yang dipimpin Inggris dan Prancis telah membangun framework di luar Amerika untuk membuka Hormuz dengan pendekatan diplomasi. “Macron memimpin upaya pendekatan damai untuk mengamankan Hormuz, sementara Amerika berjalan sendiri dengan pendekatan militer,” jelasnya.
Aspek Hukum Internasional
Terkait rencana tarif Iran, Syaroni membandingkannya dengan precedent Selat Bosporus di Turki yang diatur Montreux Treaty. “Turki tidak boleh menarik tarif dari kapal yang melintas berdasarkan perjanjian pascaperang. Hormuz bisa mengikuti pola serupa tergantung kesepakatan para pihak,” ujarnya.
Namun, dalam situasi perang, banyak aturan hukum internasional diabaikan. Iran telah melakukan pencegatan dan penyitaan kapal yang dianggap sekutu Amerika sebagai bagian strategi perang, termasuk instalasi yang seharusnya dilindungi seperti kilang minyak dan bandara.
Deadline Trump dan Golden Time Iran
Syaroni menyoroti tekanan waktu yang dihadapi Presiden Trump dengan deadline 60 hari untuk menyelesaikan konflik. “Iran menganggap 60 hari ini sebagai ‘golden time’ untuk mempertahankan diri baik di meja perundingan maupun pertempuran,” katanya.
Meskipun ronde pertama perundingan belum menghasilkan kesepakatan, Syaroni optimis diplomasi masih bisa memulai dan mengakhiri perang. “Para pihak sedang mencari cara mengakhiri perang melalui solusi damai. Perundingan tahap kedua masih mungkin terwujud,” tambahnya.
Struktur Pemerintahan Iran Masih Eksis
Berbeda dengan prediksi awal Amerika, struktur pemerintahan Iran dengan presiden dan parlemen masih eksis sebagai otoritas yang mewakili rakyat. Iran memiliki delegasi resmi yang dipimpin Galiab dan Arakchi untuk perundingan internasional.
“Iran merasa Amerika melakukan sabotase dengan memblokade Hormuz setelah Iran memenuhi permintaan Amerika,” ungkap Syaroni, menjelaskan perspektif Iran dalam konflik ini.
Dengan situasi yang terus berkembang dinamis, rencana tarif Selat Hormuz menjadi salah satu kartu yang dapat dimainkan Iran dalam strategi jangka panjangnya, meskipun implementasinya akan sangat bergantung pada hasil perundingan dan kondisi geopolitik regional yang terus berubah.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri Wasono





