Poin Penting:
- Santan tidak mengandung kolesterol karena berasal dari tumbuhan, bukan produk hewani
- Kandungan lemak jenuh dan asam laurat dalam santan memiliki pengaruh yang lebih kompleks terhadap profil kolesterol
- Konsumsi santan tetap perlu dibatasi sebagai bagian dari pola makan seimbang
Bacaini.ID, KEDIRI — Santan sering dicurigai sebagai pemicu naiknya kolesterol yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung. Sementara di Indonesia santan tidak terpisahkan dalam kuliner sehari-hari.
Baca Juga:
Dari makanan rumahan hingga jajanan tradisional, santan menjadi salah satu bahan makanan yang diandalkan untuk menciptakan rasa gurih dan menciptakan tekstur kental.
Lama dipercaya mengandung kolesterol tinggi, faktanya secara ilmiah santan sebenarnya tidak mengandung kolesterol sama sekali. Para ahli gizi dan peneliti justru melihat santan sebagai bahan pangan yang memiliki sisi positif meskipun juga perlu diwaspadai.
Fakta: Santan Tidak Mengandung Kolesterol
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang santan adalah anggapan bahwa santan mengandung kolesterol dalam jumlah tinggi. Menurut USDA FoodData Central, kolesterol hanya ditemukan pada produk hewani seperti daging, telur, susu, dan turunannya.
Karena berasal dari tumbuhan, santan secara alami tidak mengandung kolesterol. Kelapa, bahan dasar santan, tidak menghasilkan kolesterol sebagaimana produk hewani.
Meski demikian, santan memang mengandung lemak jenuh dalam jumlah yang cukup tinggi. Inilah yang menjadi sumber utama kekhawatiran para ahli kesehatan selama puluhan tahun.
Dalam 100 gram santan kental, kandungan lemak jenuhnya bisa mencapai lebih dari 20 gram. Angka tersebut tergolong tinggi dibanding banyak bahan pangan lainnya.
Sejak sekitar tahun 1970-an hingga 1990-an, berbagai organisasi kesehatan di dunia gencar mengampanyekan pengurangan konsumsi lemak jenuh karena dianggap berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.
Lemak jenuh diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) yang sering disebut sebagai ‘kolesterol jahat’. Kadar LDL yang tinggi berkaitan dengan pembentukan plak pada pembuluh darah dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena santan kaya akan lemak jenuh, bahan makanan ini pun ikut terkena dampak dari kampanye tersebut. Lambat laun muncul persepsi bahwa santan identik dengan kolesterol tinggi dan penyakit jantung.
Namun penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa hubungan antara lemak jenuh dan kesehatan ternyata lebih kompleks daripada yang dulu diperkirakan.
Santan mengandung berbagai jenis asam lemak, salah satunya adalah asam laurat (lauric acid). Asam laurat merupakan komponen utama lemak pada kelapa dan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding beberapa jenis lemak jenuh lainnya.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Nutrition Reviews menyebutkan bahwa produk kelapa menunjukkan efek yang lebih kompleks terhadap profil kolesterol darah dibanding anggapan lama bahwa semua lemak jenuh memiliki dampak yang sama.
Penelitian lain menunjukkan bahwa asam laurat memang dapat meningkatkan kadar LDL. Namun pada saat yang sama, asam laurat juga cenderung meningkatkan kadar HDL (high-density lipoprotein) atau yang dikenal sebagai ‘kolesterol baik’.
Kolesterol baik ini berperan membantu mengangkut kolesterol berlebih dari pembuluh darah kembali ke hati untuk diproses. Karena itu, sebagian peneliti berpendapat bahwa efek kelapa dan santan tidak bisa disamakan begitu saja dengan sumber lemak jenuh lainnya.
Meskipun demikian, para ahli masih menekankan perlunya penelitian lebih lanjut karena hasil studi yang ada belum sepenuhnya memberikan kesimpulan yang seragam.
Mengapa Konsumsi Santan Tetap Perlu Dibatasi?
Meskipun santan tidak mengandung kolesterol, bukan berarti bahan makanan ini bisa dikonsumsi tanpa batas. Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebut bahwa makanan tinggi lemak jenuh tetap perlu dikonsumsi secara moderat sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Alasannya sederhana: asupan lemak jenuh yang berlebihan masih berpotensi meningkatkan faktor risiko penyakit jantung pada sebagian orang. Selain itu, santan juga tergolong padat kalori. Dalam jumlah besar, konsumsi santan dapat meningkatkan total asupan energi harian. Jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang memadai, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
Itulah mengapa, di beberapa negara Asia seperti Korea atau Tiongkok, seringkali seorang atlit diketahui mengonsumsi santan sebelum bertanding. Namun bagi individu yang sudah memiliki riwayat kolesterol tinggi, penyakit jantung, diabetes, atau gangguan metabolik tertentu, pengaturan konsumsi makanan bersantan tetap perlu diperhatikan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Salah satu alasan mengapa santan mendapat reputasi buruk adalah karena secara umum, ia jarang dikonsumsi sendirian. Santan biasanya hadir dalam makanan yang juga mengandung bahan lain dengan kandungan kalori dan lemak yang tinggi.
Santan ada dalam rendang, opor, lodeh dan makanan pendampingnya seperti kerupuk, gorengan dan lainnya. Akibatnya, ketika seseorang mengalami kenaikan kolesterol atau berat badan, santan sering menjadi tersangka utama.
Padahal secara ilmiah, kondisi kesehatan seseorang dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, bukan satu bahan makanan semata. Para ahli gizi modern semakin menekankan pentingnya melihat pola makan secara keseluruhan daripada menyalahkan satu jenis makanan tertentu.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




