Bacaini.ID, KEDIRI – Harga sembako di Jawa Timur pada hari ini, 2 Juni 2026, memperlihatkan dinamika yang tajam. Kenaikan harga sejumlah komoditas yang diiringi penurunan harga komoditas lain menggambarkan ketidakstabilan pangan saat ini.
Beras premium berada di kisaran Rp14.893 per kilogram, sementara beras medium Rp12.952 per kilogram, keduanya relatif stabil.
Gula kristal putih juga bertahan di Rp17.236 per kilogram. Namun, minyak goreng curah naik menjadi Rp20.687 per kilogram, meningkat Rp176 atau 0,86 persen dibanding hari sebelumnya. Minyak goreng premium ikut terkerek ke Rp21.706 per liter, naik Rp107 atau 0,50 persen. Minyak goreng sederhana dan Minyakita masih bertahan di Rp18.526 dan Rp16.393 per liter.
Daging sapi paha belakang tetap tinggi di Rp124.455 per kilogram, sedangkan daging ayam ras stabil di Rp34.412 per kilogram. Daging ayam kampung justru turun ke Rp68.629 per kilogram, sebuah penurunan yang ironis karena menekan peternak kecil. Telur ayam ras bertahan di Rp25.849 per kilogram, sementara telur ayam kampung stabil di Rp45.822 per kilogram.
Komoditas hortikultura menunjukkan gejolak berbeda. Cabai merah keriting turun ke Rp52.068 per kilogram, cabai merah besar Rp54.005 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp65.258 per kilogram. Penurunan harga cabai ini tidak otomatis menguntungkan petani, karena biaya produksi tetap tinggi.
Sebaliknya, bawang merah justru naik signifikan ke Rp46.757 per kilogram, meningkat Rp637 atau 1,38 persen, sementara bawang putih stabil di Rp27.852 per kilogram.
Energi rumah tangga ikut terdampak. Gas elpiji naik ke Rp19.973, bertambah Rp91 atau 0,46 persen, menambah beban biaya hidup masyarakat miskin yang bergantung pada subsidi energi.
Kenaikan minyak goreng, bawang merah, dan gas elpiji memperlihatkan lemahnya kontrol distribusi dan dominasi oligopoli dalam rantai pasok. Penurunan harga cabai dan ayam kampung justru menekan produsen kecil, membuat mereka kehilangan margin keuntungan.
Stabilitas beras dan gula memang menunjukkan intervensi pemerintah berjalan, tetapi tidak cukup untuk menutup celah di komoditas lain yang lebih rentan.
Situasi ini menggambarkan ketahanan pangan di Jawa Timur masih rapuh. Rumah tangga miskin menghadapi dilema antara biaya energi yang naik dan kebutuhan pangan yang tetap mahal. Petani dan peternak kecil menjadi korban utama fluktuasi harga, sementara pemerintah daerah tampak lemah dalam mengendalikan distribusi.
Tanpa intervensi serius, fluktuasi ini berpotensi memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap kebijakan pangan, sekaligus mengancam legitimasi negara dalam menjamin keadilan ekonomi dan ketahanan pangan.
Penulis: Hari Tri Wasono




