Bacaini.ID, KEDIRI – Generasi Z yang lahir dan tumbuh bersama media sosial menghadapi tantangan serius dalam cara berpikir dan menyerap informasi. Paparan konten pendek, viral, dan sering kali tidak akurat di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts terbukti memengaruhi pola kognitif mereka.
Sejumlah penelitian terbaru mengungkapkan dampak yang mengkhawatirkan, yakni penurunan kemampuan fokus, meningkatnya kecemasan, hingga distorsi persepsi sosial.
Studi yang dirilis medRxiv pada 2025 berjudul The Impact of Short-Form Video Use on Cognitive and Mental Health menunjukkan bahwa konsumsi video berdurasi singkat memicu dopamine loop yang membuat pengguna terbiasa dengan gratifikasi instan.
“Gen Z lebih sering bereaksi cepat terhadap tren ketimbang melakukan analisis mendalam,” tulis laporan tersebut.
FOMO dan Bahasa Viral
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga memperkuat perilaku impulsif. Kajian Caught in the Scroll: A Psycholinguistic Exploration of FOMO and Viral Language (2024) menyoroti bagaimana bahasa viral (slang), meme, dan singkatan telah mendorong Gen Z untuk terus mengikuti arus tanpa verifikasi.
“Bahasa viral memperkuat tekanan sosial. Anak muda merasa harus selalu update agar tidak tertinggal,” ujar Dr. Kamraju, peneliti komunikasi digital.
Penelitian Wired but Weary: Gen Z’s Complex Relationship with Online Content yang dimuat di Acta Informatica Malaysia (2025) menemukan bahwa Gen Z mengalami identity fragmentation. Mereka membangun persona berbeda di tiap platform, sering kali demi validasi sosial berupa likes dan shares.
“Interaksi digital lebih banyak bersifat performatif ketimbang autentik. Hal ini berisiko menurunkan empati sosial,” jelas Prof. Siti Aminah, pakar psikologi sosial Universitas Malaya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan demokrasi digital jika generasi muda lebih terbiasa dengan konten viral ketimbang informasi akurat. Komnas Pendidikan Media menekankan perlunya literasi digital yang menekankan critical consumption, yakni kemampuan menilai sumber, konteks, dan motif konten.
“Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga kesadaran kritis untuk memilah informasi,” kata Ketua Komnas Pendidikan Media, Dr. Arif Budiman.
Tantangan ini menuntut kolaborasi antara akademisi, pemerintah, media, dan masyarakat untuk memastikan generasi muda tetap kritis dan berdaya di era digital.
Penulis: Hari Tri Wasono




