Bacaini.ID, KEDIRI — Istilah forest bathing atau shinrin-yoku pertama kali diperkenalkan di Jepang pada awal 1980-an sebagai respons atas meningkatnya stres masyarakat perkotaan.
Secara harfiah, forest bathing berarti ‘mandi hutan’, namun praktik ini tidak berkaitan dengan aktivitas fisik berat atau terapi medis tertentu.
Forest bathing adalah kegiatan menghabiskan waktu di lingkungan hutan dengan penuh kesadaran, melibatkan pancaindra untuk merasakan suasana alam secara utuh.
Berbeda dengan hiking atau olahraga alam lainnya, forest bathing menekankan pada kehadiran mental dan ketenangan.
Untuk melakukan forest bathing, dianjurkan berjalan perlahan, mengamati pepohonan, menghirup udara hutan, mendengarkan suara alam, serta menjauh sementara dari distraksi digital.
Pendekatan ini menjadikan forest bathing lebih dekat dengan praktik relaksasi dan pengelolaan stres berbasis lingkungan.
Dalam beberapa dekade terakhir, forest bathing mulai mendapat perhatian ilmiah. Sejumlah universitas dan lembaga kesehatan di Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa meneliti dampak paparan alam terhadap kesehatan mental dan fisik.
Hasilnya, forest bathing tidak lagi dipandang sekadar aktivitas rekreasi, tetapi sebagai bagian dari pendekatan preventif untuk menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.
Baca Juga:
- Tren Celana Gajah Bangkit Lagi, Simbol Gaya Santai Gen Z di Era TikTok
- Wisata Pacitan Selain Pantai, Cocok untuk Keluarga dan Pencari Ketenangan
Manfaat Forest Bathing untuk Kesehatan Secara Ilmiah
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa forest bathing memberikan manfaat kesehatan yang nyata, meski bersifat pendukung dan bukan pengganti perawatan medis.
Salah satu temuan paling konsisten adalah penurunan tingkat stres. Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menunjukkan aktivitas forest bathing dapat menurunkan kadar hormon kortisol, memperlambat denyut jantung, serta menurunkan tekanan darah ketimbang berjalan di lingkungan perkotaan.
Efek ini berkaitan dengan aktivasi sistem saraf parasimpatik yang berperan dalam kondisi rileks.
Forest bathing juga dikaitkan dengan peningkatan fungsi sistem imun.
Penelitian yang dipimpin oleh Qing Li dari Nippon Medical School, Jepang, menemukan bahwa paparan hutan dapat meningkatkan aktivitas sel Natural Killer (NK), yaitu sel imun yang berperan dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Peningkatan ini diduga dipicu oleh fitonsida, senyawa alami yang dilepaskan pohon dan terhirup saat berada di hutan.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa efek ini bersifat sementara dan lebih relevan sebagai dukungan kesehatan umum.
Selain itu, forest bathing berdampak positif pada kesehatan mental. Meta-analisis yang dimuat dalam Frontiers in Psychology mencatat penurunan gejala kecemasan, kelelahan mental, dan depresi ringan setelah paparan alam.
Lingkungan hutan yang minim kebisingan dan rangsangan berlebih membantu otak keluar dari kondisi overstimulation yang sering dialami masyarakat urban.
Manfaat lain yang juga dilaporkan meliputi peningkatan kualitas tidur, suasana hati yang lebih stabil, serta peningkatan fokus dan kejernihan berpikir.
Meski demikian, para ahli sepakat bahwa forest bathing bukan terapi tunggal, melainkan bagian dari gaya hidup sehat yang idealnya disertai pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan manajemen stres yang baik.
Tips Forest Bathing agar Manfaatnya Optimal
Agar forest bathing memberikan dampak positif bagi kesehatan, ada beberapa prinsip sederhana yang dapat diterapkan:
• Pilih lokasi alam yang relatif tenang dan aman, seperti hutan kota, taman nasional, atau kawasan hijau yang jauh dari lalu lintas padat. Tidak harus hutan lebat, selama unsur alaminya dominan dan minim gangguan.
• Lakukan dengan tempo lambat dan tanpa target. Forest bathing bukan tentang jarak atau jumlah langkah, melainkan kualitas pengalaman. Matikan atau minimalkan penggunaan ponsel, lalu fokus pada pernapasan, suara alam, dan detail lingkungan sekitar.
• Libatkan pancaindra secara sadar. Rasakan tekstur udara, aroma pepohonan, cahaya matahari yang menembus dedaunan, serta suara angin atau burung. Pendekatan ini membantu tubuh dan pikiran masuk ke kondisi relaksasi yang lebih dalam.
• Lakukan secara berkala. Penelitian menunjukkan bahwa manfaat forest bathing tidak bersifat permanen, sehingga praktik rutin, misalnya seminggu atau dua minggu sekali, lebih dianjurkan daripada sekali dalam waktu lama.
• Pahami batasannya. Forest bathing bukan pengobatan medis dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi atau obat yang diresepkan dokter.
Aktivitas ini paling efektif sebagai pelengkap gaya hidup sehat dan sarana menjaga keseimbangan mental di tengah tekanan kehidupan modern.
Berinteraksi dengan alam dapat menjadi cara alami untuk merawat tubuh dan pikiran di tengah kehidupan yang semakin cepat.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





