Poin Penting:
- Fenomena awan pelangi viral dijelaskan secara ilmiah sebagai cloud iridescence akibat difraksi cahaya matahari
- Dalam budaya Jawa, fenomena langit dimaknai melalui ilmu titen dan Primbon sebagai tanda tertentu
- Pelangi (kluwung) dianggap sebagai simbol harapan, rezeki, dan pesan spiritual dari leluhur
Bacaini.ID, KEDIRI – Fenomena awan pelangi yang sempat viral di wilayah Jabodetabek menarik perhatian publik karena tampilannya yang unik dan berwarna-warni. Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai cloud iridescence atau iridesensi, yakni proses difraksi cahaya matahari oleh kristal es atau tetesan air di awan yang berpotensi menimbulkan hujan lokal.
Baca Juga:
Sains menjelaskan secara ilmiah berbagai fenomena langit yang bisa dilihat dari bumi. Namun, budaya lokal bisa memaknainya melalui keyakinan spiritual yang menghubungkan kejadian alam dengan nasib manusia atau peristiwa besar. Masyarakat Jawa, secara turun temurun memiliki ‘Ilmu Titen’, menandai setiap fenomena yang terjadi dengan peristiwa-peristiwa khusus yang diprediksi akan terjadi.
Pengetahuan ini tertuang dalam Primbon Jawa yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat adat Jawa sebagai rujukan mengetahui ‘pesan tersirat’ dari fenomena alam. Meskipun masyarakat modern mulai meninggalkan mitos-mitos tradisional, nyatanya kini mulai berkembang berbagai penelitian sains modern yang berakar pada keyakinan atau kearifan lokal.
Berikut beberapa fenomena langit dan maknanya menurut Primbon dan kepercayaan spiritual Jawa:
Makna Candikolo dalam Kepercayaan Jawa
Candikolo berasal dari kata ‘sandya kala’, waktu peralihan. Dalam berbagai kepercayaan spiritual, waktu peralihan seperti siang ke malam, dianggap sebagai waktu yang sakral. Pertemuan dari dua hal yang saling bertolak belakang, seringkali dianggap sebagai sesuatu yang memiliki energi ‘magis’ tersendiri.
Baca Juga:
Dalam kearifan lokal masyarakat Jawa, candikolo dianggap sebagai waktu yang ‘wingit’. Waktu yang rawan terutama untuk anak-anak karena waktu peralihan ini memunculkan energi negatif. Mitos ini sejalan dengan keyakinan beberapa agama yang memperingatkan sakralnya waktu senja, saat jin atau makhluk halus mulai keluar dari ‘sarangnya’.
Candikolo yang berwarna merah menyala atau kuning merata, dalam kosmologi Jawa dianggap sebagai tanda ketidakseimbangan antara alam semesta dan alam kehidupan manusia. Candikolo yang berwarna terang seperti ini biasanya dikaitkan dengan akan adanya wabah atau konflik sosial.
Lintang Kemukus, Pertanda dari Kemunculan Komet
Secara ilmiah, kemunculan komet memiliki pola yang bisa dihitung. Pola kemunculan komet tergantung pada jenis orbitnya mengelilingi matahari. Ada komet periodik yang memiliki orbit elips yang tetap hingga kemunculannya dapat diprediksi, maupun komet non-periodik yang kemunculannya sulit bahkan tidak dapat diprediksi.
Dalam budaya Jawa, komet disebut sebagai lintang kemukus dan diyakini membawa pesan tertentu dalam kemunculannya. Pesan ini ‘dibaca’ melalui arah kemunculannya. Jika muncul dari arah timur, pertanda ada pemimpin sedang bersedih atau terjadi chaos di kalangan pejabat.
Jika muncul dari barat, menjadi pertanda baik yang melambangkan kemakmuran, harga pangan murah dan kepemimpinan yang membahagiakan rakyat. Lintang kemukus dari arah utara atau selatan, seringkali dikaitkan dengan datangnya masa sulit, perselisihan atau wabah penyakit.
Awan Pelangi dalam Perspektif Spiritual Jawa
Primbon Jawa tidak menyebutkan secara khusus tentang makna dari fenomena awan pelangi. Namun, pelangi yang secara tradisional disebut sebagai ‘kluwung’, dianggap sebagai simbol keajaiban dan harapan.
Hadirnya pelangi menjadi pertanda baik sebagai pesan dari semesta akan terkabulnya harapan. Ia juga disebut sebagai ‘jembatan spiritual’ yang membawa pesan damai. Pelangi juga dimaknai sebagai tanda rindu dari para leluhur, datangnya rezeki, serta menjadi simbol masa transisi dari sulit menjadi tenang dan harmonis.
Fenomena langit dalam Primbon Jawa merupakan bentuk kearifan lokal yang mengajak untuk peka terhadap tanda-tanda alam dan menjaga keselarasan hidup. Meskipun ilmu pengetahuan modern telah mampu menjelaskan proses fisika dibaliknya, nilai-nilai spiritual dan pesan moral yang terkandung dalam ‘ilmu titen’ ini tetap menjadi pengingat bagi manusia untuk selalu waspada, bersyukur dan rendah hati di hadapan semesta.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





