
Bahkan beberapa jam sebelum pelantikan, ketika ditanya wartawan mengenai kehadirannya di Istana, Rocky menjawab singkat, “Ini gua lagi ada acara radical break.”
Ia tidak menjelaskan maksud pernyataan tersebut sebelum masuk ke kompleks Istana.
Mengkritik Dari Dalam
Secara kelembagaan, Wantimpres memiliki tugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. Nasihat tersebut diberikan baik diminta maupun tidak diminta.
Karena itu, posisi Rocky berbeda dengan posisinya sebagai pengamat politik. Sebagai pengamat, ia memiliki kebebasan menyampaikan analisis dan kritik di ruang publik. Sebagai anggota Wantimpres, ia memiliki tanggung jawab kelembagaan sebagai bagian dari lembaga penasihat Presiden.
Apakah ini berarti Rocky berhenti menjadi pengkritik? Belum tentu.
Sebagai Wantimpres, Rocky Gerung berada dalam posisi yang memungkinkan gagasan dan kritik disampaikan sebelum sebuah keputusan dibuat atau ketika sebuah kebijakan sedang dievaluasi.
Tentu saja publik tidak akan dapat melihat seluruh proses tersebut.
Undang-undang mengatur bahwa Wantimpres tidak dibenarkan memberikan keterangan atau menyebarluaskan isi nasihat dan pertimbangannya kepada pihak lain. Karena itu, efektivitas Rocky sebagai pengkritik dari dalam justru tidak mudah diukur melalui pernyataan-pernyataan publik.
Ukuran utamanya mungkin bukan seberapa sering Rocky muncul mengkritik pemerintah di televisi. Melainkan seberapa jauh gagasannya dapat memengaruhi kualitas keputusan yang keluar dari Istana.
Ada perbedaan penting antara mengkritik dari luar dan mengkritik dari dalam. Orang di luar kekuasaan dapat mengatakan sebuah kebijakan salah. Orang di dalam kekuasaan dituntut menjelaskan mengapa kebijakan itu salah, apa alternatifnya, bagaimana alternatif tersebut dijalankan dan apa konsekuensinya bagi pemerintahan.
Di sinilah posisi baru Rocky akan diuji.
Selama ini kekuatan Rocky terletak pada kemampuannya mempertanyakan asumsi-asumsi yang dianggap sudah mapan. Ia kerap membawa persoalan politik ke wilayah gagasan, konstitusi, demokrasi dan akal sehat. Di dalam Wantimpres, kemampuan itu justru dapat menemukan ruang baru.
Ia dapat menjadi semacam “alarm dari dalam” yang mengingatkan ketika kekuasaan mulai terlalu nyaman dengan dirinya sendiri. (htw/edt)



