• Login
Bacaini.id
Sunday, May 3, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Dibalik Kue Bulan Perayaan Imlek Terselip Kisah Kudeta, Ini Ceritanya

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
25 January 2025 15:56
Durasi baca: 3 menit
Dibalik Kue Bulan Perayaan Imlek Terselip Kisah Kudeta, Ini Ceritanya . (foto ilustrasi/Thegreencollective)

Dibalik Kue Bulan Perayaan Imlek Terselip Kisah Kudeta, Ini Ceritanya . (foto ilustrasi/Thegreencollective)

Bacaini.ID, KEDIRI – Kue Bulan atau Mooncake selalu hadir di setiap perayaan etnis Tionghoa dimanapun mereka tinggal, tak terkecuali tahun baru Imlek.

Padahal sebenarnya Kue Bulan merupakan makanan ikonik untuk Festival Pertengahan Musim Gugur.

Festival Tiong Ciu, Festival Bulan atau Festival Kue Bulan, merupakan hari raya panen sekaligus salah satu festival terpenting di China.

Festival ini dirayakan pada hari kelima belas bulan delapan Kalender Lunar Tionghoa.

Dalam kalender Gregorian, biasanya jatuh pada minggu kedua September sampai minggu kedua Oktober.

Dikutip dari The Green Collective, Kue Bulan memiliki sejarah panjang lebih dari 3000 tahun lalu.

Berdasarkan catatan sejarah, terdapat jejak awal kue bulan yang disebut ‘kue Taishi’ lebih dari 3000 tahun yang lalu pada masa Dinasti Shang dan Zhou (Abad ke-17 SM – 256 SM).

Kue ini tipis di bagian tepinya dan tebal isiannya di tengah. Dalam perjalanannya kue Taishi berkembang menjadi ‘kue Hu’.

Yakni, versi kue Taishi yang dibuat dengan biji wijen dan kenari, yang diperdagangkan dari Tiongkok bagian barat. 

Kue Bulan, Kue Kemenangan

Kue bulan versi terkini diperkenalkan pada masa Dinasti Tang (618-907 M).

Hal ini berlangsung ketika Jenderal Lijing, masa Kaisar Li Shimin dari Dinasti Tang, memimpin pasukan melawan Turki pada hari ke-15 bulan ke-8 lunar.

Sebagai tanda penghargaan, seorang pedagang Tibet menawari Li Shimin beberapa kue bundar yang kemudian ia perkenalkan kepada rakyatnya.

Kue ini dengan cepat populer dan diberi nama ‘kue bulan’, yang disantap pada hari ke-15 bulan ke-8 penanggalan lunar.

Kue Bulan Sandi Spionase

Dalam sejarahnya, kue bulan juga ikut andil menggulingkan pemerintah, yang terkenal dengan sebutan ‘Pemberontakan Kue Bulan’.

Pada akhir Dinasti Yuan (1271 – 1368 M), para pemberontak memanfaatkan kue bulan untuk berkumpul dan mengorganisir gerakan kudeta melawan penguasa yang sewenang-wenang.

Zhu Yuanzhang, pendiri Ming, sebuah kelompok pemberontak, menyatukan berbagai kekuatan perlawanan untuk mempersiapkan pemberontakan.

Namun mereka mengalami kesulitan menyampaikan pesan kepada pasukan secara rahasia.

Untuk mengatasi masalah ini, mereka akhirnya memasukkan catatan ke dalam isian kue bulan dan mendistribusikannya di antara pasukan Ming.

Pemberontak berhasil, dan kue bulan menjadi salah satu bentuk penghargaan yang diserahkan untuk para pejuang. 

Festival Kue Bulan

Kue bulan identik dengan segala jenis perayaan di China. Festival Kue Bulan sendiri digelar untuk menghormati musim panen.

Bulan purnama di musim gugur melambangkan keberhasilan penyelesaian panen, menjadikannya waktu yang ideal untuk bersyukur kepada para dewa dan alam.

Pada masa Dinasti Zhou (1046–256 SM), pemujaan bulan diresmikan sebagai bagian dari ritual panen musim gugur.

Orang-orang akan mempersembahkan makanan dan pengorbanan ke bulan, berdoa agar panen membuahkan hasil dan kemakmuran di tahun mendatang. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: imlekkudetapemberontakanperayaan imlek
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan simbol kebebasan berekspresi dan aktivitas jurnalis

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026: Tema Perdamaian hingga Tantangan Kebebasan Media di Indonesia

Hamparan bunga liar berwarna-warni di Namaqualand saat musim semi

Wisata Bunga Liar Mendunia: Alternatif Selain Sakura, Ini Destinasi Terbaiknya

Ilustrasi Gojek. Foto: istimewa

Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Gojek-Grab, Ini Perhitungannya

  • Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

    Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAI Daop 7 Madiun Kembangkan Bisnis Non-Core, Hadirkan Lounge dan Integrasi Transportasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In