Bacaini.ID, KEDIRI — Gempa yang terjadi di Jepang bisa diketahui sebelum guncangannya terasa. Jepang mengandalkan sistem Earthquake Early Warning (EEW) untuk mendeteksi gempa.
Bukan prediksi atau ramalan, melainkan teknologi canggih. Apa itu? Sebuah teknologi peringatan dini gempa yang bekerja dengan membaca sinyal awal gempa bumi sebelum guncangan kuat mencapai permukaan.
Beberapa detik sebelum gempa terasa, layar televisi mendadak menampilkan peringatan, ponsel warga di Jepang berbunyi nyaring, dan siaran langsung terhenti. Fenomena ini kerap terlihat di Jepang dan banyak ditemukan di media sosial.
Baca Juga:
- Gempa M 6,5 Guncang Pacitan Malam Jumat Wage, Getaran Terasa hingga Jatim–Jateng
- Peringatan Tsunami Gempa Jepang M 7,5 Telah Dicabut
Banyak yang mengira Jepang mampu ‘memprediksi’ gempa bumi. Padahal teknologi yang digunakan sama sekali bukan ramalan, melainkan sistem deteksi supercepat berbasis sains. Sangat ilmiah.
Sistem ini telah menjadi bagian penting dari mitigasi bencana di negara yang berada di salah satu zona seismik paling aktif di dunia.
EEW tidak memberi tahu kapan gempa akan terjadi. Sistem ini justru bekerja ketika gempa sudah terjadi, namun gelombang perusaknya belum sampai ke wilayah padat penduduk.
Bukan Prediksi, Tapi Deteksi Gempa yang Lebih Cepat
Seperti yang beberapa saat lalu banyak dirasakan warga Jawa Timur, gempa awal terasa lebih pelan, sebelum datang gempa berikutnya yang getarannya lebih kencang.
Gempa bumi menghasilkan beberapa jenis gelombang seismik. Dua yang paling utama adalah gelombang P (primary wave) dan gelombang S (secondary wave).
Gelombang P bergerak paling cepat dan pertama kali dilepaskan dari pusat gempa, namun relatif lemah dan sering kali tidak dirasakan manusia.
Sebaliknya, gelombang S bergerak lebih lambat namun membawa energi yang menyebabkan guncangan kuat dan kerusakan.
Teknologi gempa Jepang mampu mendeteksi gelombang P dalam hitungan detik, lalu memanfaatkan selisih waktu kedatangan gelombang S untuk mengirim peringatan.
Selisih ini bisa berkisar antara beberapa detik hingga puluhan detik, tergantung jarak wilayah dari pusat gempa.
Dengan kata lain, peringatan muncul bukan karena Jepang tahu gempa akan terjadi, melainkan karena sistem mereka lebih cepat ‘merasakan’ gempa dibanding manusia.
Sistem EEW Jepang ditopang oleh jaringan sensor seismik yang sangat rapat. Japan Meteorological Agency (JMA) bersama National Research Institute for Earth Science and Disaster Resilience (NIED) mengoperasikan ribuan seismometer yang tersebar di seluruh daratan Jepang, bahkan hingga dasar laut.
Sensor-sensor ini terus memantau getaran tanah secara real time. Ketika gelombang P terdeteksi oleh beberapa sensor terdekat, data langsung dikirim ke pusat komputasi untuk dianalisis secara otomatis.
Sistem akan menghitung lokasi episentrum, estimasi magnitudo awal, serta potensi kekuatan guncangan di berbagai wilayah. Seluruh proses ini berlangsung sangat cepat, dalam skala detik hingga milidetik, tanpa campur tangan manusia.
Peringatan Otomatis ke TV, Ponsel, dan Infrastruktur Vital
Jika hasil perhitungan memenuhi ambang bahaya, sistem EEW secara otomatis mengirim peringatan ke publik. Notifikasi bisa muncul di televisi, radio, ponsel, papan informasi publik, hingga sistem transportasi.
Di Jepang, teknologi ini terhubung langsung dengan kereta cepat Shinkansen, lift gedung tinggi, dan fasilitas industri.
Kereta dapat melambat atau berhenti otomatis, lift berhenti di lantai terdekat, dan proses industri berisiko tinggi bisa dihentikan sementara sebelum guncangan kuat terjadi.
Walau hanya memberi waktu 5 hingga 30 detik, jeda singkat ini terbukti cukup untuk menyelamatkan banyak nyawa dan mengurangi dampak kerusakan.
Efektivitas EEW tidak hanya bergantung pada teknologi, namun uga konsistensi kebijakan dan kesiapan masyarakat. Jepang telah mengembangkan sistem ini selama puluhan tahun, didukung investasi besar, riset berkelanjutan, serta edukasi publik sejak dini.
Masyarakat Jepang juga terbiasa merespons peringatan gempa dengan cepat dan terlatih, sehingga peringatan beberapa detik pun memiliki dampak nyata. Tanpa kesiapan sosial, teknologi secanggih apa pun tidak akan optimal.
Sementara di Indonesia menurut BMKG, sistem peringatan dini guncangan gempa seperti Jepang masih dalam tahap pengembangan dan kajian.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





