Bacaini.ID, JEMBER – Bacaini.id, Jember- Ada yang berbeda dari verifikasi data kemiskinan di Jember tahun 2026 ini. Bukan hanya soal angka yang diperbarui, tapi juga upaya “mengirim” para ASN untuk berhadapan langsung dengan realitas hidup warga miskin. Sesuatu yang selama ini sering hanya mereka lihat di atas kertas.
Pemerintah Kabupaten Jember mengerahkan sekitar 22 ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melakukan verifikasi dan validasi (verval) warga miskin kategori Desil 1. Total, ada sekitar 97 ribu warga yang menjadi sasaran pembaruan data.
Namun, di balik skala besar itu, ada tujuan lain yang ingin dicapai yakni membangun kepekaan sosial para ASN.
Penjabat Sekretaris Daerah Jember, Akhmad Helmi Luqman, menyebut kegiatan ini bukan semata urusan akurasi data. Ia melihat verval sebagai cara untuk “mendekatkan” birokrasi dengan realitas masyarakat.
“Kalau hanya data, bisa selesai di meja. Tapi dengan turun langsung, ASN bisa melihat sendiri kondisi warga yang selama ini hanya berupa angka,” ujarnya Senin (20/4/2026)
Setiap ASN ditugaskan memverifikasi tiga hingga lima warga. Mereka berasal dari berbagai level, mulai dari PPPK paruh waktu hingga pejabat tinggi.
Distribusi tugas pun tidak selalu mengikuti domisili. Sejumlah ASN harus bekerja di luar wilayah tempat tinggalnya. Selain untuk pemerataan, kondisi ini juga membuka kesempatan melihat wajah kemiskinan dari sudut yang berbeda.
Helmi, misalnya, mendapat lokasi tugas di Sumberjambe meski tinggal di kawasan kota. “Di kota sudah penuh, jadi saya ke sana,” katanya.
Hal serupa dialami Lurah Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Teguh Tri Laksono. Ia mendapat jatah lima warga yang tersebar di Kecamatan Mumbulsari, Pakusari, dan Silo.
Baginya, penugasan lintas wilayah justru menjadi pengalaman penting. “Kita jadi benar-benar melihat kondisi warga di lapangan, bukan sekadar membaca laporan,” ujarnya.
Dari pengalaman itu, Teguh menilai ada dampak yang tak tertulis dalam laporan resmi yakni munculnya empati dan rasa syukur.
“Kita jadi lebih paham kondisi warga. Sekaligus sadar bahwa masih banyak yang hidup jauh di bawah kita,” katanya.
Lebih jauh, ia melihat kegiatan ini sebagai pengingat fungsi dasar ASN. Bahwa pekerjaan mereka bukan hanya administratif, tetapi juga pelayanan publik.
“Turun langsung seperti ini mengingatkan lagi, bahwa tugas utama kita melayani masyarakat—terutama yang paling membutuhkan,” tambahnya.
Pelaksanaan verval berlangsung pada 18 hingga 24 April 2026 dan dimungkinkan diperpanjang. Kegiatan dilakukan di luar jam kerja, baik sepulang kantor maupun saat hari libur.
Meski fleksibel, bahkan bisa diwakilkan jika terkendala jarak, pelaporan tetap harus dilakukan oleh ASN yang bersangkutan melalui akun masing-masing.
Pada akhirnya, Pemkab Jember memang menargetkan data kemiskinan yang lebih akurat. Tapi di saat yang sama, ada harapan lain yang tak kalah penting yakni lahirnya ASN yang lebih peka, responsif, dan tidak lagi berjarak dengan masyarakat yang mereka layani. (meg/ADV)





