Poin Penting:
- Peneliti yang melibatkan BRIN resmi mempublikasikan spesies flora baru Rhododendron yombuwurii dari Sulawesi Tengah
- Tanaman epifit berbunga jingga ini pertama kali ditemukan hidup di pekarangan warga dekat Air Terjun Saluopa
- Nama spesies diberikan untuk menghormati Pendeta Yombu Wuri atas dedikasinya menjaga lingkungan Danau Poso
Bacaini.ID, KEDIRI – Indonesia kembali menambah daftar kekayaan hayatinya setelah tim peneliti lintas lembaga yang melibatkan BRIN mengumumkan penemuan spesies flora baru bernama Rhododendron yombuwurii. Tanaman berbunga jingga yang ditemukan di Sulawesi Tengah ini tidak hanya menarik perhatian karena bentuk dan warnanya yang unik, tetapi juga karena kisah penyelamatan oleh warga lokal yang tanpa sadar merawat spesies yang belum pernah tercatat dalam dunia sains.
BACA JUGA: Penemuan Rafflesia Hasseltii Bikin Ilmuwan Histeris, Ada Apa?
Kehadiran tanaman ini tidak hanya menambah panjang daftar keanekaragaman hayati endemik Nusantara, namun juga menyimpan cerita unik mengenai upaya penyelamatan lingkungan oleh masyarakat lokal.
Ciri Unik Bunga Jingga yang Berbeda dari Rhododendron Lain
Secara morfologi, Rhododendron yombuwurii memiliki karakteristik yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kerabat dekatnya yang sudah lebih dulu dikenal, seperti Rhododendron celebicum.
Jika sebagian besar varietas lokal di kawasan tersebut didominasi oleh kelopak bunga berukuran besar dengan gradasi warna merah atau merah muda, spesies baru ini justru tampil mencolok dengan mahkota bunga berukuran kecil yang memancarkan warna jingga atau oranye terang.
BACA JUGA: Katak Bertaring Spesies Baru Temuan BRIN di Kalimantan
Tanaman ini tumbuh dengan cara menempel pada pohon lain atau bersifat epifit. Bentuk fisiknya didukung oleh struktur daun yang cenderung lebih kecil dan kompak. Selain itu, susunan kelompok bunganya tumbuh dengan arah semi-tegak, berbeda dari jenis Rhododendron pegunungan lain yang biasanya tumbuh menjuntai ke bawah akibat bobot kelopak yang berat.
Ciri-ciri inilah yang menjadi kunci utama bagi para ahli taksonomi untuk memisahkannya sebagai spesies tersendiri dalam jurnal ilmiah internasional Taiwania. Di balik peresmian namanya di dunia sains, ada kisah menarik mengenai bagaimana tanaman ini pertama kali ditemukan oleh para peneliti.
Awal Penemuan Berasal dari Tanaman yang Dirawat Warga
Spesies ini pertama kali dijumpai sebagai tanaman hidup yang dipelihara di pekarangan rumah warga, sekitar kawasan wisata Air Terjun Saluopa, Tenten, Sulawesi Tengah pada Juni 2023. Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa spesimen epifit ini aslinya berasal dari hutan pegunungan di Pegunungan Tokorondo, barat Tentena dan Danau Poso, pada ketinggian sekitar 1000–1800 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebelum akhirnya jatuh dan diselamatkan oleh warga lokal.
Warga setempat ternyata berhasil menyelamatkan sekumpulan tanaman liar yang jatuh dari pohon besar di wilayah pegunungan akibat cuaca atau faktor alami. Tanpa menyadari bahwa tumbuhan tersebut adalah spesies yang belum pernah tercatat oleh ilmu pengetahuan, warga merawatnya dengan baik. Di luar dugaan, tanaman epifit tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan baru di dataran yang lebih rendah, bahkan tumbuh subur dan mengeluarkan bunga jingga yang indah hingga akhirnya menarik perhatian para ilmuwan yang sedang melakukan eksplorasi.
Penghormatan kepada Pendeta Yombu Wuri dan Semangat Konservasi
Nama ilmiah ‘yombuwurii’ yang disematkan pada belakang rumpun Rhododendron ini bukanlah tanpa alasan. Nama tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri.
Beliau dikenal luas oleh masyarakat sebagai salah satu tokoh agama sekaligus tokoh adat Suku Pamona yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati di sekeliling Danau Poso. Melalui penamaan ini, para peneliti berharap semangat konservasi yang diwariskan oleh sang tokoh adat dapat terus hidup dan menginspirasi generasi muda.
Meskipun contoh spesimen berhasil diidentifikasi dan dibudidayakan secara swadaya oleh masyarakat, habitat asli dari Rhododendron yombuwurii di alam liar masih menyisakan banyak teka-teki. Tanaman ini diperkirakan tumbuh di kawasan hutan pegunungan dalam, khususnya di Pegunungan Tokorondo yang membentang di sebelah barat Tentena dan Danau Poso, pada rentang ketinggian antara 1.000 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Hingga kini, para peneliti belum dapat melakukan observasi populasi secara menyeluruh langsung di habitat aslinya karena medan geografis pegunungan Sulawesi Tengah yang sangat curam dan sulit dijangkau. Oleh karena itu, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) melalui pertimbangan para ahli menetapkan status konservasi spesies ini sebagai Data Deficient (Kekurangan Data).
Status ini menegaskan perlunya eksplorasi lanjutan guna memetakan sebaran populasi asli tanaman tersebut demi menyusun strategi perlindungan yang tepat di masa depan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Penyelundupan 624 Pil Koplo di Lapas Blitar Terbongkar Lewat Kemaluan dan artikel lainnya di Rubrik TEKNO & SAINS




