Poin Penting:
- Kerusuhan meluas di lima negara Eropa, yakni Prancis, Italia, Albania, Belgia, dan Portugal, dengan bentrokan serta perusakan fasilitas di sejumlah kota.
- Biaya hidup tinggi menjadi salah satu pemicu utama demonstrasi, bersama persoalan layanan publik, korupsi, lapangan kerja, dan perumahan.
- Gejolak tersebut mengingatkan pada Nepal pada akhir 2025, tetapi penyebab dan perkembangan masing-masing peristiwa perlu dibandingkan berdasarkan fakta.
Bacaini.ID, PRANCIS – Biaya hidup tinggi atau semakin mencekik, buruknya layanan publik, dan persoalan korupsi menjadi pemicu demonstrasi besar-besaran di sejumlah negara Eropa. Demonstrasi Prancis, Italia, Albania, Belgia, hingga Portugal berujung dengan bentrokan antara demonstran dan aparat serta perusakan sejumlah fasilitas atau kerusuhan. Gelombang kemarahan tersebut mengingatkan pada kerusuhan Nepal pada akhir 2025, termasuk di Indonesia meski latar belakang dan dinamika masing-masing peristiwa berbeda.
Bentrokan massa demonstran dengan aparat dan meluas menjadi aksi penjarahan terjadi di Italia, Albania dan Belgia. Sementara kerusuhan Prancis yang dimulai 18 Oktober 2026 telah melebar di berbagai kota, dan mengakibatkan balai kota bersejarah di Limoges luluh lantak terbakar. Demo besar-besaran memperlihatkan kemarahan rakyat atas kondisi ekonomi yang sulit, mahalnya harga kebutuhan pokok, dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak.
Dihimpun Bacaini.ID dari berbagai sumber, berikut kerusuhan Italia, demonstrasi Albania, kerusuhan Belgia, protes Portugal yang dimulai dari gelombang demonstrasi besar-besaran di Prancis.
Italia: Demonstrasi Berujung Bentrokan di Sejumlah Kota
Dipicu mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik, demonstrasi besar-besaran di Italia meluas ke sejumlah kota dan berujung dengan kerusuhan. Pada Minggu 18 Oktober 2026, massa demonstran di Milan bentrok dengan aparat kepolisian setempat.
Di sekitar Piazza Duomo, pusat kota, kaca-kaca pertokoan pecah dilempari batu dan tempat sampah dibakar. Bentrokan juga terjadi di Bologna, Brescia, Bergamo dan Turin. Gas air mata dan meriam air ditembakkan untuk membubarkan massa dan 28 orang ditangkap.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut. Pemerintah menjadwalkan pertemuan pada Senin untuk membahas langkah penanganan situasi, di tengah persiapan menghadapi pemilu tahun depan.
Albania: Massa Tuntut Perdana Menteri Mundur
Dimulai demonstrasi besar-besaran selama enam hari berturut-turut, massa demonstran menuntut Perdana Menteri Albania Edi Rama mengundurkan diri. Kemarahan massa dipicu persoalan ekonomi, yakni minimnya lapangan kerja, buruknya standar pendidikan dan maraknya kasus korupsi.
Demonstrasi di ibu kota Tirana dan meluas di beberapa kota berubah menjadi bentrokan dan kerusuhan. Gedung pemerintah dan bank dibakar massa demonstran. Kaca-kaca pertokoan dipecahi. Batu paving dicabut dan dipakai massa untuk menyerang polisi.
Perdana Menteri Albania Edi Rama menolak tuntutan mengundurkan diri. Juga ditegaskan demonstrasi bukan mengancam pemerintahannya, tapi digerakkan ambisi Albania bergabung dengan Uni Eropa (UE). Dalam kerusuhan ini 388 orang dikenai dakwaan pidana.
Belgia: Protes Biaya Hidup Berujung Bentrokan
Demonstrasi besar-besaran di Brussel dan Liege pada 17 Oktober 2026 dipicu oleh biaya hidup yang tinggi dan berujung dengan bentrokan antara massa demonstran dan polisi. Massa dibubarkan dengan gas air mata dan meriam air.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin mengecam keras kekerasan yang terjadi. Aksi yang terjadi sebelumnya didahului oleh demonstrasi pelajar sekolah menengah di Belgia yang dipicu kenaikan biaya pendidikan.
Portugal: Warga Tuntut Upah dan Perumahan Lebih Layak
Sementara demonstrasi besar-besaran di Portugal dipicu oleh masalah biaya hidup dan perumahan. Afiliasi Serikat pekerja dengan konfederasi CGTP dan kelompok pejuang hak perumahan menggelar aksi di Porto, Coimbra, dan Lisbon. Kenaikan upah, pensiun yang lebih baik, serta layanan publik yang memadai jadi tuntutan utama.
Juru bicara CGTP mengatakan kepada SIC Notícias, kenaikan biaya hidup membuat harga kebutuhan sehari-hari menjadi sangat mahal. Sekretaris Jenderal CGTP Tiago Oliveira juga menyoroti lonjakan harga rumah dan memburuknya kualitas layanan publik. Wali Kota Lisbon mengingatkan seluruh demonstrasi tetap berlangsung sesuai hukum. (sa/edt)




