
Ini salah satu kebiasaan yang bisa membuat Senin terasa lebih panjang bahkan sebelum Senin dimulai. Kalau memang ada sesuatu yang harus dilakukan, tuliskan. Misalnya:
Senin pagi:
- menyelesaikan laporan;
- membalas email penting;
- menyiapkan bahan rapat.
Setelah itu, tutup laptop. Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan di kepala sebelum waktunya. Minggu tetaplah Minggu.
Senin Pagi Jangan Langsung Mengejar Semuanya
Pukul 08.07. Rina sudah duduk di depan laptop. Belum sempat menyeruput kopi, sudah ada 17 email yang masuk. Grup WhatsApp kantor ramai. Ada dua pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan satu rapat menunggu.
baca ini: Gen Z Tidak Suka Baca Buku, Lalu Kenapa Mereka Tertarik Tan Malaka
Rina mulai panik. Semua terlihat penting. Padahal tidak semuanya harus selesai pagi itu. Ia kemudian mengambil kertas kecil dan menulis satu pekerjaan yang paling mendesak. “Satu ini dulu.”
Sepuluh menit kemudian pekerjaannya mulai bergerak. Kadang persoalannya memang bukan terlalu banyak pekerjaan. Kita hanya melihat semuanya sekaligus. Karena itu, Senin pagi tidak harus dimulai dengan ambisi menaklukkan seluruh dunia.
Pilih satu pekerjaan. Selesaikan. Baru pindah ke pekerjaan berikutnya.
Setidaknya, kita tahu dari mana harus mulai.
Cari Satu Hal yang Menyenangkan
Ada kebiasaan lain yang dilakukan Rina. Setiap Senin pagi, ia membeli kopi favorit sebelum masuk kantor. Bukan kopi mahal. Hanya kopi yang rasanya ia suka. “Ini hadiah karena sudah berhasil bangun,” katanya bercanda kepada teman kantornya.
baca ini: Dulu Menertawakan Pesilat, Kini Ikut Latihan
Kedengarannya sepele. Tetapi justru hal-hal kecil seperti ini bisa membuat rutinitas terasa lebih ringan. Tidak harus kopi. Bisa sarapan kesukaan, mendengarkan playlist favorit selama perjalanan, makan siang bersama teman, atau menyisihkan waktu sebentar untuk berjalan keluar kantor.
Kita tidak harus menunggu liburan untuk merasa senang. Kadang, hal kecil yang menyenangkan di tengah rutinitas sudah cukup.
Jangan Menuntut Diri Selalu Semangat
Menjelang pulang, Rina melihat kembali daftar pekerjaannya. Tidak semuanya selesai. Dulu ia mungkin merasa gagal karena itu. Sekarang ia belajar lebih realistis.
Ada hari ketika pekerjaan bisa selesai banyak. Ada hari ketika pekerjaan berjalan lambat. Ada hari ketika konsentrasi sulit didapat. Dan itu bagian dari bekerja.
Kita tidak harus bangun setiap Senin pagi dengan semangat seperti orang yang baru memenangkan undian. Kadang cukup bangun, mandi, berangkat, lalu menjalani satu per satu. Sebab pada akhirnya, Senin akan selesai juga.
Rina menutup laptop pukul 17.03. Ia memasukkan barang ke dalam tas, lalu berjalan keluar kantor. “Besok Selasa,” katanya.
Kali ini tanpa keluhan. Mungkin kita memang tidak perlu belajar mencintai hari Senin. Tidak perlu juga memaksakan diri menjadi orang paling produktif di hari pertama kerja. Cukup membuat Senin sedikit lebih ringan daripada minggu lalu. Karena barangkali yang kita benci bukan hari Seninnya. Kita hanya belum menemukan cara yang lebih ramah untuk memulainya. (htw/edt)



