Bacaini.ID, KEDIRI – Media sosial dihebohkan oleh kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau atau UIN Suska Riau, Pekanbaru. Seorang mahasiswi menjadi korban penyerangan brutal yang diduga dipicu persoalan asmara dan rasa sakit hati yang tak terkendali.
Peristiwa yang viral ini bukan sekadar kisah tragis tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tetapi juga membuka ruang refleksi: bagaimana otak manusia memproses penolakan, dan mengapa emosi bisa berubah menjadi aksi nekat?
Belajar dari kasus UIN Suska Riau, para ahli menjelaskan bahwa sakit hati bukan hanya perasaan sedih biasa. Secara neurobiologis, penolakan sosial diproses di area otak yang sama dengan rasa sakit fisik, termasuk bagian penting bernama Anterior Cingulate Cortex (ACC). Ketika fungsi pengendalian emosi di area ini terganggu, seseorang bisa kehilangan “rem” untuk menahan amarah dan dorongan impulsifnya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa regulasi emosi dan kesehatan mental bukan isu sepele. Di balik viralnya video dan perdebatan warganet, ada pelajaran besar tentang bagaimana manusia seharusnya belajar mengelola sakit hati sebelum berubah menjadi tragedi.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026 dan sontak viral di media sosial. Dalam video terlihat korban terkapar berlumuran darah. Sementara pelaku penyerangan brutal berada di sebelahnya dengan kapak di tangan.
Baca Juga:
- Waspadai Kekerasan Perempuan Secara Daring: Ini Cara Mengatasi
- Viral! ‘Makanan Demit’ Disebut Lebih Bergizi dari Menu MBG Ramadan
Berdasarkan penyelidikan polisi, motif pelaku diduga karena masalah asmara. Pelaku sakit hati merasa dighosting, diberi harapan palsu (PHP). Cintanya ditolak meski telah berhubungan intens beberapa bulan terakhir.
Dalam postingan video di akun TikTok pelaku memperlihatkan kemesraannya dengan korban. Video itu sontak menyusul viral. Pandangan warganet yang sebelumnya menghujat pelaku kekerasan menjadi bergeser, bahkan ada yang memberi pemakluman.
Pelaku marah karena telah dighosting, diberi harapan palsu oleh korban. Ia sakit hati merasa dikhianati. Hal itu yang membuatnya mata gelap. Namun kekerasan tetap kekerasan yang tidak bisa ditoleransi.
Secara psikologis dan biologis, rasa sakit hati bukan sekadar perasaan sedih biasa. Dampaknya bisa sangat masif terhadap logika seseorang. Ketika seseorang merasa dikhianati, ditolak, atau dipermalukan, otak memproses rasa sakit emosional dengan rasa sakit fisik (anterior cingulate cortex).
Mengenal Anterior Cingulate Cortex, Ini Alasan Sakit Hati Bisa Gelap Mata
Meskipun tindakan nekad dapat merugikan diri sendiri terlebih orang lain saat sakit hati dan tidak dibenarkan, hal itu dapat dijelaskan melalui aspek neurobiologi.
Dikutip dari Psychiatry, Anterior Cingulate Cortex (ACC) merupakan bagian dari sistem limbik di otak yang berfungsi sebagai ‘pusat kendali’ atau jembatan antara emosi dan logika.
Perilaku agresif atau serangan nekat yang terjadi seperti kasus diatas dipengaruhi oleh hal ini.
• Fungsi Utama ACC dalam Kontrol Perilaku
ACC berperan dalam regulasi emosi. Ia membantu seseorang mengelola emosi yang tidak nyaman seperti sakit hati atau marah, dan memilih respon yang lebih adaptif daripada sekadar menyerang.
Disinilah terjadi pengendalian impuls. ACC berperan penting dalam menahan dorongan instan untuk bertindak kasar.
• Hubungan dengan Perilaku Agresif dan Kriminal
Penelitian menunjukkan adanya korelasi antara gangguan pada ACC dengan tindakan kekerasan.
Dikutip dari Science Direct, gangguan pada ACC dapat menyebabkan hipofungsi (penurunan aktivitas). Penurunan aktivitas atau volume pada ACC dikaitkan dengan peningkatan impulsivitas dan agresi.
Jika ACC tidak berfungsi optimal, seseorang sulit mengerem emosi negatifnya. Secara normal, ACC seharusnya menekan aktivitas Amigdala, pusat rasa takut dan marah.
Pada pelaku kejahatan impulsif, ‘rem’ dari ACC ini sering kali gagal bekerja, sehingga amigdala mendominasi perilaku.
Menariknya, ACC juga aktif saat seseorang merasa ditolak secara sosial atau asmara. Pada kasus di UIN Suska, rasa sakit hati akibat penolakan cinta dapat memicu aktivitas berlebih di ACC yang, jika tidak dibarengi dengan kontrol diri yang baik, bisa berujung pada aksi nekat
• Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan ACC
Ada beberapa faktor yang memengaruhi ACC yang pada akhirnya juga berpengaruh pada perilaku mereka.
Diantaranya adalah stres kronis. Paparan stres yang lama dapat merusak neuron di area ini.
Selain itu efek kurang tidur juga dapat membuat ACC menjadi lebih reaktif terhadap emosi negatif. Genetik dan lingkungan juga berpengaruh. Pengalaman trauma masa kecil juga dapat mempengaruhi perkembangan struktur otak ini.
Singkatnya, ACC merupakan bagian otak yang seharusnya mencegah seseorang melakukan tindakan membabi buta seperti penyerangan.
Disfungsi pada area ini sering kali ditemukan pada individu yang tidak mampu mengelola emosi meledak-ledak.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





