Bacaini.ID, BLITAR — Jarang ada bakso memakai kuah soto, dan mungkin satu-satunya di Kota Blitar, Jawa Timur. Persisnya di sebelah Selatan Makam Proklamator Soekarno yang sejak 15 Agustus 2026 oleh Pemkot Blitar dibuka 24 jam, rombong jualan dengan ‘coretan’ frasa Bakso Unik itu biasa mangkal.
Buka mulai pukul 1 siang, dan habis tidak habis tutup jam 5 sore, Suparman alias Cak Ni mengoperasikan usahanya secara mandiri. Termasuk mendorong pulang pergi rombong bakso dari tempat tinggalnya di Jalan Borobudur Sananwetan yang berjarak lumayan, ia kerjakan seorang diri.
“Termasuk belanja ke pasar dan meracik bumbu bakso juga saya lakukan sendiri. Semua yang terkait dengan usaha, terutama memasak, saya lakukan sendiri,” tuturnya kepada Bacaini.id sebelum perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI Senin ini (17/8/2026).
Bakso Unik Cak Ni Blitar Punya Kuah Soto Resep Madura
Bisa dikatakan laris. Belum lama rombong Bakso Unik Cak Ni mangkal di tempatnya, pelanggan datang silih berganti. Satu datang, dua pergi. Tiga datang, satu pergi dan kebanyakan dibungkus. Orang Jawa mengistilahkannya lumintu.
Kuah bakso Cak Ni memang beda. Warnanya kekuningan. Aromanya soto. Ada rajangan sayuran sawi bercampur kecambah mirip kecambah tahu campur Lamongan. Cita rasa kuahnya sedap. Begitu juga dengan gorengan dan pentol dagingnya. Oke.
“Alhamdulillah. Setiap hari rata-rata terjual 40 porsi. Kalau hari Sabtu dan Minggu bisa sampai 60 porsi,” kata Suparman sembari meracik bakso pesanan.
Gagasan membuat bakso berkuah soto tidak datang ujug-ujug. Ide itu, kata Suparman berawal dari kegagalan. Sebelumnya ia pernah dagang soto bening. Mungkin karena cita rasanya kurang sip, sotonya cenderung kurang laku.
Hingga suatu hari dirinya bertemu orang Madura. Entah kenapa, yang bersangkutan tiba-tiba memberinya resep soto Madura berbahan herbal, dan oleh Suparman langsung dicobanya. “Jadi bakso berkuah soto ini resepnya dari Madura,” kenangnya.
Jualan Bakso Sejak 1988 di Sekitar Makam Bung Karno
Suparman yang akrab disapa Cak Ni memiliki lima anak dengan enam cucu. Salah satu anaknya yang sudah berkeluarga menetap di Banyuwangi. Sementara anak dan cucunya yang lain tinggal bersamanya di Jalan Borobudur Kota Blitar.
Suparman mengaku jualan bakso di sebelah kompleks Makam Bung Karno sejak tahun 1988. Sejak harga per porsi 15 rupiah hingga sekarang Rp10 ribu. Awalnya mangkal di sebelah Utara makam. Kemudian sejak dibangun city walk (2017-2018) bergeser ke Selatan sampai sekarang.

Sebelum menekuni mata pencaharian sebagai pedagang kuliner di komplek makam Bung Karno, Suparman sempat tinggal di daerah Bunul Malang, bekerja di kantor Catatan Sipil dan kemudian pulang ke Blitar.
Ia sempat banting stir menjadi kondektur bus. Selama 19 tahun menjelajahi jalanan, dengan trayek Blitar – Malang, Trenggalek hingga Banyuwangi. Saat itu terminal bus di Kota Blitar masih di belakang Pasar Legi.
Saat mengenang masa itu, ingatan Suparman masih menyimpan nama-nama bus yang pernah dikondekturinya. Disebutnya satu-satu. “Tentrem, Pembaruan, Sinar Jaya dan terakhir ikut Harapan Jaya,” kenangnya. (sa/edt)




