• Login
Bacaini.id
Sunday, May 3, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Asal Usul Nama Jalan Guyangan di Kawasan SLG Kediri

ditulis oleh Redaksi
19 November 2025 17:35
Durasi baca: 2 menit
Jalan Guyangan di Desa Paron, Ngasem, Kediri. Foto: bacaini/AK Jatmiko

Jalan Guyangan di Desa Paron, Ngasem, Kediri. Foto: bacaini/AK Jatmiko

Bacaini.ID, KEDIRI – Jalan Guyangan di kawasan monumen Simpang Lima Gumul sedang mengalami penataan besar-besaran. Jalan yang memiliki kesamaan nama dengan lokalisasi di Nganjuk ini menyimpan kisah-kisah leluhur dan mitos air yang membentuk identitas lokal.

Jalan Guyangan terletak di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Kawasan ini berada di sekitar Simpang Lima Gumul, ikon wisata dan pusat aktivitas masyarakat Kediri.

Sejak Agustus 2025, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri memulai pembangunan jalur pedestrian baru dan Ruang Terbuka Hijaudi sisi barat Sungai Paron. Proyek ini ditargetkan selesai pada Desember 2025, dan akan dibuka untuk publik pada awal 2026.

Penataan ini bertujuan memperindah wajah kawasan SLG, meningkatkan kenyamanan wisatawan, dan menyediakan ruang publik yang ramah lingkungan.

Di tengah geliat pembangunan kawasan itu, nama “Guyangan” kembali mencuat sebagai bagian penting dari lanskap budaya dan sejarah Kediri. Jalan Guyangan, yang kini menjadi jalur pedestrian dan ruang terbuka hijau, menyimpan kisah-kisah leluhur dan mitos air yang membentuk identitas lokal.

Berikut tiga versi asal-usul nama Guyangan yang beredar di masyarakat.

Mbah Mo Joyo: Pembuka Hutan dan Penjaga Punden

Versi pertama menyebut nama Guyangan berasal dari jejak Mbah Mo Joyo, seorang pelarian bangsawan Majapahit yang membuka hutan belantara di wilayah Paron. Ia mendirikan pemukiman pertama dan menjadi tokoh spiritual yang dihormati. Hingga kini, makamnya dianggap sebagai punden dan menjadi tempat nyekar serta selamatan warga setempat.

Mbah Surodilogo dan Kuda Gagak Ireng

Versi kedua mengisahkan Mbah Surodilogo, tokoh kepercayaan Kadipaten Bojanegara, yang dipercaya menyimpan pusaka dan merawat kuda kesayangan adipati bernama Gagak Ireng. Di sebuah mata air, kuda itu dimandikan secara rutin. Suara guyang-guyang (mandi atau berendam dalam bahasa Jawa) diyakini menjadi asal nama “Guyangan.”

Tradisi guyang kuda ini menjadi simbol hubungan antara manusia, hewan, dan alam dalam budaya Jawa.

Ratu Mursiyah dan Mimpi Banjir Kerajaan Serang

Versi ketiga datang dari legenda Raden Diah Ayu Mursiyah, ratu bijaksana dari Kerajaan Serang. Dalam mimpi ulang tahunnya yang ke-39, sang ratu melihat kerajaannya tenggelam akibat tanggul jebol.

Nama “Guyangan” dikaitkan dengan banjir besar yang menghanyutkan kerajaan, berasal dari kata guyangan yang berarti genangan atau limpahan air. Air dalam cerita ini bukan hanya bencana, tapi simbol pembaruan dan spiritualitas.

Saat ini, Jalan Guyangan bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga ruang publik yang sedang ditata ulang oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri. Penataan ini membuka peluang baru bagi warga untuk mengenang, merayakan, dan melestarikan warisan budaya Guyangan.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: asal usulguyangan
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan simbol kebebasan berekspresi dan aktivitas jurnalis

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026: Tema Perdamaian hingga Tantangan Kebebasan Media di Indonesia

Hamparan bunga liar berwarna-warni di Namaqualand saat musim semi

Wisata Bunga Liar Mendunia: Alternatif Selain Sakura, Ini Destinasi Terbaiknya

Ilustrasi Gojek. Foto: istimewa

Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Gojek-Grab, Ini Perhitungannya

  • Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

    Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAI Daop 7 Madiun Kembangkan Bisnis Non-Core, Hadirkan Lounge dan Integrasi Transportasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In