Masyarakat Indonesia dibuat marah dengan perilaku Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan yang menikmati makanan berlimpah di restoran mewah saat meninjau lokasi bencana alam di Aceh. Aksi sang menteri sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang makan sambil memegang rokok itu dinilai kontradiktif dengan kondisi masyarakat Aceh yang tengah kelaparan di tengah bencana. Apalagi hal itu dilakukan tak lama dari aksi gimmick-nya memanggul beras yang kontroversial.
Dalam masyarakat kita, perilaku pejabat publik sering menjadi sorotan. Bukan hanya kebijakan yang mereka buat, tetapi juga gestur kecil yang mencerminkan karakter dan nilai yang mereka bawa. Salah satu fenomena yang mengganggu adalah gaya makan pejabat sambil memegang rokok atau cerutu, sebuah simbol yang lebih dekat dengan citra mafia ketimbang teladan seorang pemimpin Muslim.
Kepemimpinan sebagai Amanah
Islam menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang berat. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa jabatan akan menjadi kehinaan di akhirat jika tidak dijalankan dengan benar. Allah SWT pun memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan hukum ditegakkan dengan adil (QS. An-Nisa: 58). Maka, setiap perilaku seorang pejabat, sekecil apapun, adalah bagian dari amanah yang harus dijaga.
Gaya Mafia: Simbol Arogansi dan Kezaliman
Ketika seorang pejabat tampil dengan gaya intimidatif, arogan, atau bahkan bergaya mafia, ia sejatinya sedang menyalahi prinsip Islam. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong (QS. Luqman: 18), dan Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesombongan sekecil biji sawi pun dapat menghalangi seseorang masuk surga. Lebih jauh, gaya intimidatif adalah bentuk kezaliman yang jelas dilarang (QS. Hud: 113). Pemimpin yang menipu rakyatnya, kata Rasulullah, bukanlah bagian dari umat beliau.
Adab Makan dan Rokok Cerutu
Makan dalam Islam bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan ibadah yang penuh adab: membaca basmalah, menggunakan tangan kanan, dan tidak berlebihan. Namun, ketika makan disandingkan dengan rokok atau cerutu, adab itu rusak. Merokok sendiri telah difatwakan haram oleh banyak ulama, termasuk MUI, karena membahayakan diri dan orang lain. Maka, makan sambil merokok bukan hanya melanggar adab, tetapi juga mencampur ibadah dengan sesuatu yang haram.
Lebih dari itu, rokok atau cerutu di tangan pejabat saat makan adalah simbol buruk: mencampurkan kenikmatan dengan racun, menampilkan citra hedonis, dan mengabaikan kesehatan yang sejatinya amanah dari Allah. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru menunjukkan perilaku yang merusak?
Dampak terhadap Keteladanan Publik
Pejabat publik adalah qudwah, teladan bagi masyarakat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa seorang pemimpin adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. Maka, ketika pejabat makan sambil merokok cerutu, dampaknya bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada moral masyarakat. Generasi muda melihat dan meniru. Kepercayaan publik terkikis. Amanah kepemimpinan pun ternoda.
Pejabat publik yang bergaya mafia dan makan sambil merokok cerutu sejatinya sedang melanggar prinsip dasar kepemimpinan Islam: amanah, keadilan, integritas, dan keteladanan. Islam menuntut pemimpin untuk menjaga akhlak dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal sederhana seperti makan. Karena pada akhirnya, setiap perilaku akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Penulis: Danny Wibisono





