Poin Penting:
- Puluhan kader PDIP dan masyarakat menggelar doa tahlil memperingati 40 hari wafat Guruh Soekarnoputra di Wisma Aspirasi, Srengat, Kabupaten Blitar.
- Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Blitar Supriadi mengenang kebersamaan dan perjuangan Guruh bersama kader di Blitar Raya.
- Guruh pernah menjadi anggota DPR RI dari Dapil VI Jawa Timur pada periode 1999–2004, 2004–2009, dan 2019–2024.
Bacaini.ID, BLITAR – Empat puluh hari setelah wafatnya Guruh Soekarnoputra, kenangan tentang putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno itu masih melekat di kalangan kader PDI Perjuangan (PDIP) Kabupaten Blitar. Puluhan kader bersama masyarakat menggelar doa tahlil 40 hari Guruh Soekarnoputra di Wisma Aspirasi, Kecamatan Srengat, Kamis malam (5/11/2026). Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang mengenang pengabdian dan perjuangan putra Bung Karno tersebut selama berkiprah bersama kader di Blitar Raya.
Supriadi atau biasa disapa Kuwat, Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Blitar yang juga Ketua DPRD Kabupaten Blitar, mengaku memiliki banyak kenangan bersama Guruh Soekarnoputra di Blitar. Utamanya di dalam membersamai perjuangan kader sekaligus mengarungi dinamika politik di wilayah Blitar Raya.
Pada periode 1999-2004 dan 2004-2009, almarhum Guruh Soekarnoputra merupakan anggota DPR RI dari Dapil VI Jawa Timur yang meliputi wilayah Blitar, Kediri dan Tulungagung. Setelah mewakili Dapil I Jawa Timur (Surabaya dan Sidoarjo) pada periode 2009-2014 dan 2014-2019, almarhum kembali terpilih di Dapil VI pada periode 2019-2024.
“Kami sangat kehilangan Mas Guruh. Beliau memiliki banyak kenangan bersama para kader PDI Perjuangan, khususnya di Blitar Raya. Perjuangan dan pengabdian beliau menjadi inspirasi bagi kami untuk terus melanjutkan apa yang telah dirintis,” tutur Supriadi Kamis malam (5/11/2026).
Kepergian Guruh Soekarnoputra diharapkan tidak membuat semangat perjuangan para kader PDIP turut surut. Justru, nilai-nilai positif yang pernah dicontohkan almarhum, kata Supriadi harus menjadi warisan moral yang terus dirawat dalam organisasi maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat. Apa yang pernah diperjuangkan almarhum tidak berhenti menjadi cerita dan kenangan.
“Semangat, kebersamaan, serta nilai pengabdiannya harus terus diteruskan oleh generasi kader berikutnya. Kami ingin perjuangan itu tetap hidup melalui kerja nyata dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” tambahnya.
Ketua DPC PDIP Kabupaten Blitar Guntur Wahono mengatakan, momentum 40 hari wafatnya almarhum menjadi ruang bagi para kader partai untuk kembali mengingat nilai-nilai perjuangan yang pernah ditanamkan. Di mata para kader, sosok Guruh Soekarnoputra memiliki tempat tersendiri. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar partai.
Kendati demikian ada nilai pengabdian, pengalaman, dan keteladanan yang harus terus dijaga untuk melanjutkan perjuangan organisasi. Semangat perjuangan yang pernah ditunjukkan hendaknya jadi pengingat seluruh kader agar tetap menjaga soliditas, kesetiaan terhadap nilai-nilai perjuangan, serta konsistensi dalam menjalankan tugas organisasi.
“Genap 40 hari wafatnya tokoh panutan kami. Semoga arwah beliau diterima di sisi kemuliaan Allah SWT. Seluruh kebajikannya mendapatkan balasan dan kelapangan, sedangkan segala kekhilafannya mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT,” ujar Guntur.
Sementara bagi keluarga besar PDIP Kabupaten Blitar, doa bersama memiliki makna lebih dari sekadar peringatan 40 hari wafatnya seorang tokoh. Ada pesan pentingnya menghargai perjalanan pengabdian seseorang, sekaligus menjaga kesinambungan perjuangan lintas generasi.
Profil Guruh Soekarnoputra, Putra Bungsu Bung Karno
Lahir 13 Januari 1953 di Jakarta dengan nama Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra, Guruh Soekarnoputra tutup usia pada 26 September 2026. Almarhum merupakan putra bungsu Bung Karno dengan Fatmawati.
Guruh sejak kecil menyukai seni, terutama tari tradisional Jawa, Sunda, Bali dan Minang. Juga sangat menggemari musik di mana pada masa masih duduk di sekolah dasar kerap tampil di TVRI dengan grup musik yang dibentunya.
Almarhum menempuh pendidikan formal di SD dan SMP Perguruan Cikini. Selepas SMA ia pernah kuliah di jurusan arkeologi selama tiga tahun (1971-1974) di Universitas Amsterdam Belanda. Cintanya pada dunia kesenian diperlihatkan dengan mendirikan organisasi pemuda Swara Maharddhika.
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RS Siloam Semanggi Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, bersebelahan dengan makam Taufan Soekarnoputra, dan masih satu area dengan makam Fatmawati, ibunya. (sa/edt)




