Poin Penting:
- Perempuan yang sulit menolak permintaan di kantor berisiko menanggung pekerjaan tambahan di luar tanggung jawab utamanya.
- Ekspektasi gender dapat membuat perempuan lebih sering mendapat pekerjaan pendukung yang kurang diperhitungkan dalam penilaian kinerja.
- Menetapkan batasan, memperjelas pembagian tugas, dan mengomunikasikan prioritas membantu menjaga kerja sama tanpa mengorbankan kepentingan sendiri.
Bacaini.ID, KEDIRI — Menjadi karyawan yang ringan tangan dan mudah membantu rekan kerja di kantor sering dianggap sebagai sikap positif. Namun, ketika terlalu sulit menolak permintaan, perempuan di lingkungan kerja justru berisiko ketiban pekerjaan tambahan yang bukan tanggung jawabnya alias diplokotho. Kebiasaan perempuan sulit menolak ini berkaitan dengan people-pleasing di tempat kerja, ekspektasi gender, dan pekerjaan pendukung yang kerap luput dari penilaian kinerja.
Biasanya ini dialami oleh mereka yang mudah gak enakan. Mereka yang ringan tangan dan sulit menolak permintaan, bahkan untuk tugas yang bukan tanggung jawabnya. Awalnya mungkin terlihat sebagai bentuk kepedulian dan kerja sama yang baik. Namun, lama-kelamaan, kebaikan tersebut justru berisiko membuat beban kerja makin berat, sementara penghargaan yang diterima belum tentu sebanding.
Situasi ini dapat dialami siapa saja. Namun, penelitian mengenai pembagian kerja dan bias gender di kantor atau tempat kerja menunjukkan bahwa perempuan menghadapi persoalan tersendiri, terutama ketika mereka lebih sering diharapkan mengambil peran pendukung, menjaga keharmonisan tim, dan membantu pekerjaan yang tidak selalu diperhitungkan dalam penilaian kinerja.
Sulit Menolak Permintaan di Kantor karena Takut Dianggap Tidak Kooperatif
Sebagian karyawan menerima pekerjaan tambahan bukan karena memiliki waktu luang, melainkan karena merasa tidak nyaman menolak. Mereka khawatir dianggap egois, tidak kompak, kurang kompeten, atau tidak memiliki semangat kerja sama.
Dalam psikologi, kecenderungan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain sering disebut people-pleasing. Istilah ini bukan diagnosis klinis, melainkan sebutan untuk pola perilaku ketika seseorang terlalu mengutamakan penerimaan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan atau batas dirinya sendiri.
Di lingkungan kerja, pola tersebut dapat muncul dalam bentuk sederhana. Seperti membantu teman menyelesaikan laporan, sementara tugasnya sendiri belum selesai. Atau mengambil alih pekerjaan orang lain yang bukan job desk-nya karena merasa tak enak menolak permintaan tekan kerja.
Masalahnya, keinginan menjaga hubungan baik bisa membuat seseorang mengabaikan konsekuensi jangka panjang. Waktu istirahat berkurang, pekerjaan utama tertunda, dan energi habis untuk memenuhi permintaan orang lain.
Jika berlangsung terus-menerus, situasi ini dapat memicu stres kerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa kelelahan kerja atau burn-out berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Kondisi tersebut ditandai oleh kelelahan, meningkatnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.
Tentu, tidak semua orang yang sulit menolak akan mengalami burn-out. Namun, kebiasaan mengambil beban berlebihan tanpa batas yang jelas dapat menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai.
Bias Gender Membuat Perempuan Lebih Sering Mendapat Pekerjaan Tambahan
Pekerjaan tambahan tidak selalu muncul karena seseorang sulit menolak. Dalam sejumlah situasi, pembagian tugas di kantor juga dipengaruhi oleh ekspektasi mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap.
Perempuan kerap diharapkan lebih ramah, telaten, komunikatif, dan mampu menjaga hubungan baik. Karakter tersebut memang dapat menjadi kelebihan dalam pekerjaan. Namun, ketika ekspektasi itu berubah menjadi tuntutan, perempuan bisa lebih sering mendapat tugas yang berkaitan dengan kebutuhan tim, meskipun tugas tersebut tidak tercantum dalam tanggung jawab utamanya alias diplokotho.
Misalnya, karyawan perempuan diminta mencatat hasil rapat, mengatur konsumsi acara kantor, mengingatkan anggota tim tentang tenggat, atau membantu karyawan baru beradaptasi. Sementara itu, rekan lain dapat lebih leluasa berfokus pada pekerjaan yang berkaitan langsung dengan target dan pencapaian profesional mereka.
Fenomena ini dikenal sebagai office housework, yaitu pekerjaan pendukung yang membantu kelancaran operasional kantor, tetapi sering kali kurang terlihat atau kurang dihargai dibandingkan pekerjaan yang menghasilkan pencapaian konkret.
Laporan Women in the Workplace yang diterbitkan McKinsey and LeanIn.Org, menyoroti ketimpangan gender dalam pengalaman kerja, termasuk perbedaan kesempatan memperoleh dukungan dan peluang pengembangan karier.
Pekerjaan pendukung tentu tetap dibutuhkan. Mencatat rapat, membimbing karyawan baru, dan mengoordinasikan kegiatan tim bukan pekerjaan yang tidak penting. Persoalannya muncul ketika tugas-tugas tersebut dibagikan secara tidak seimbang, tidak diakui, atau justru mengurangi kesempatan seseorang mengerjakan proyek strategis.
Jika seorang perempuan selalu menjadi orang yang mengurus pekerjaan tambahan, ia mungkin terlihat sibuk dan produktif. Namun, kesibukan itu belum tentu mendekatkannya pada promosi atau pengembangan keterampilan yang dibutuhkan untuk naik ke jenjang karier berikutnya.
Cara Menolak Pekerjaan Tambahan Tanpa Merusak Hubungan Kerja
Menjadi rekan kerja yang suportif bukan sesuatu yang perlu dihilangkan. Kemampuan bekerja sama, membantu orang lain, dan menjaga komunikasi merupakan bagian penting dari hubungan profesional. Yang perlu dibangun adalah batasan agar kebaikan tidak berubah menjadi kewajiban sepihak.
Langkah pertama adalah membedakan antara membantu sesekali dan mengambil alih tanggung jawab orang lain secara berulang. Jika rekan kerja meminta bantuan, periksa terlebih dahulu tenggat dan prioritas pekerjaan sendiri. Tidak semua permintaan harus langsung dipenuhi, terutama ketika pekerjaan utama berisiko terbengkalai.
Sampaikan batasan secara jelas tanpa harus bersikap kasar. Selain itu, biasakan meminta kejelasan mengenai tanggung jawab. Jika pekerjaan tambahan terus berulang, tanyakan apakah tugas tersebut lebih baik diambil alih secara resmi. Apabila tanggung jawab bertambah secara permanen, pembicaraan mengenai beban kerja, target, dan pengakuan atas kontribusi juga layak dilakukan.
Terakhir, jangan mengukur profesionalisme hanya dari seberapa sering seseorang bersedia membantu. Karyawan yang baik bukan berarti karyawan yang selalu tersedia untuk semua orang. Profesionalisme juga mencakup kemampuan mengelola waktu, memenuhi tanggung jawab utama, berkomunikasi secara terbuka, dan menjaga kualitas hasil kerja.
Perempuan tidak harus menjadi kurang ramah untuk menghindari pekerjaan tambahan yang tidak adil. Mereka tetap bisa peduli, kooperatif, dan dapat diandalkan tanpa harus selalu mengorbankan waktu serta kepentingannya sendiri.
Di lingkungan kerja yang adil, membantu rekan seharusnya menjadi bagian dari kerja sama, bukan alasan untuk terus membebankan pekerjaan kepada orang yang paling sulit menolak. (bl/sa)




