Bacaini.ID, PARIS — Kemarahan para pelajar Prancis bermula dari persoalan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kekurangan guru, ruang belajar yang tidak layak, kelas yang padat, dan beban belajar yang dianggap terlalu berat.
Dalam waktu kurang dari dua pekan, keresahan itu berubah menjadi gelombang protes nasional. Blokade sekolah menjalar ke berbagai kota, bentrokan terjadi dengan aparat, sejumlah gedung sekolah dibakar dan puluhan tenaga pendidikan terluka.
Gerakan yang bermula di wilayah Créteil, pinggiran Paris, pada 21 September 2026 itu telah berkembang menjadi salah satu krisis sosial paling serius yang dihadapi pemerintah Prancis. Pada 1 Oktober, Kementerian Dalam Negeri mencatat aksi telah berdampak pada 1.027 sekolah menengah, dengan 222 di antaranya diblokade.
Polisi juga telah melakukan hampir 2.000 penangkapan. Pemerintah khawatir lantaran sebagian aksi berubah menjadi kekerasan.
Kota Nantes, misalnya, gedung Lycée Nelson-Mandela mengalami kebakaran. Di sejumlah kota lain terjadi perusakan fasilitas sekolah dan bentrokan dengan polisi. Hingga 2 Oktober, Menteri Pendidikan Édouard Geffray mengatakan 65 anggota staf pendidikan terluka, termasuk 40 kepala sekolah. Lebih dari 100 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Lebih dari 400 lycée masih ditutup pada 2 Oktober karena kerusakan fasilitas atau demi melindungi para guru dan kepala sekolah.
Berawal dari satu sekolah di Créteil
Gerakan tersebut bermula di Lycée Antoine-de-Saint-Exupéry, Créteil, kawasan di sebelah tenggara Paris. Sejumlah guru, orang tua dan pelajar sebelumnya telah memprotes kekurangan tenaga pendidikan di sekolah itu.
Pada awal tahun ajaran, sejumlah posisi penting belum terisi. Di antaranya wakil kepala sekolah, beberapa guru, perawat, pekerja sosial, hingga tenaga pendamping bagi siswa berkebutuhan khusus.
Pada 21 September, para pelajar bergabung dalam aksi yang sebelumnya digerakkan oleh guru dan orang tua. Tuntutannya sederhana, pemerintah menyediakan tenaga yang dibutuhkan agar kegiatan belajar dapat berjalan normal.
Dari Créteil, keresahan tersebut menemukan resonansi di tempat lain. Sekolah-sekolah yang menghadapi persoalan serupa mulai melakukan blokade dan aksi protes.
Media sosial kemudian mempercepat penyebarannya. Video mengenai pintu sekolah yang diblokade, kondisi bangunan, aksi para pelajar, hingga bentrokan dengan aparat beredar luas dan mendorong sekolah lain ikut bergerak.
Dalam hitungan hari, persoalan yang semula bersifat lokal berubah menjadi gerakan nasional.
baca halaman selanjutnya……..




