- Anak laki-laki boleh menangis karena menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi.
- Orang tua perlu membantu anak mengenali, memahami dan mengelola emosi, bukan sekadar menghentikan tangisannya.
- Ketangguhan emosional dibangun dengan validasi perasaan dan batas perilaku, bukan dengan melarang anak menunjukkan kesedihan.
Bacaini.ID, KEDIRI – Anak laki-laki boleh menangis. Ungkapan “cowok harus kuat” atau “jangan cengeng” masih sering digunakan dalam pengasuhan. Padahal, menangis merupakan salah satu cara anak mengekspresikan emosi. Orang tua tetap dapat mengajarkan ketangguhan tanpa membuat anak merasa bahwa sedih, takut atau kecewa adalah tanda kelemahan. Begitulah pola asuh anak laki-laki.
Dalam perkembangan anak, kemampuan mengenali, memahami dan mengatur emosi justru merupakan bagian penting dari keterampilan sosial-emosional. Persoalannya bukan apakah anak laki-laki boleh atau tidak menangis, melainkan bagaimana orang tua membantu cara mengajarkan emosi padan anak. Bagaimana memahami perasaan dan belajar mengelolanya.
Mengapa Anak Laki-Laki Sering Diajarkan Tidak Boleh Menangis?
Larangan menangis pada anak laki-laki tidak selalu muncul karena orang tua bermaksud buruk. Banyak orang tua justru menganggap pesan tersebut sebagai cara mempersiapkan anak menghadapi kehidupan. Anak laki-laki diharapkan kuat, tidak mudah menyerah dan mampu menghadapi masalah.
Pesan tersebut juga dapat terbentuk dari pola pengasuhan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Dulu, anak laki-laki mungkin lebih sering diberi tuntutan untuk tidak menunjukkan rasa takut, sedih atau sakit. Akhirnya, kalimat seperti “jangan cengeng” atau “gak boleh nangis!” dianggap sebagai bagian normal dari mendidik anak. Masalahnya, jika pesan tersebut diberikan terus-menerus, anak dapat menangkap makna yang lebih luas. Bukan hanya ‘aku harus kuat’, tetapi ‘menunjukkan kesedihan berarti aku lemah’.
American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa anak perlu dibantu untuk mengenali dan mengelola berbagai emosi. Orang tua dapat membantu anak memahami apa yang dirasakan sekaligus mengajarkan cara menghadapi emosi tersebut. Ini berbeda dengan membiarkan anak mengikuti semua emosinya tanpa batas. Anak tetap perlu belajar bahwa marah tidak berarti boleh memukul, kecewa tidak berarti boleh merusak barang, dan sedih tidak berarti boleh menyakiti orang lain. Dengan kata lain, emosinya boleh ada, tetapi perilakunya tetap perlu diarahkan.
Menangis Bukan Berarti Anak Laki-Laki Tidak Kuat
Menangis merupakan salah satu respons ketika seseorang mengalami emosi yang kuat. Anak dapat menangis ketika sakit, takut, kecewa, frustrasi, sedih bahkan ketika merasa kewalahan.
Jika orang tua langsung menghentikan tangisan tanpa membantu anak memahami penyebabnya, kesempatan untuk belajar mengenali emosi bisa terlewat.
Misalnya, anak menangis setelah kalah dalam pertandingan. Alih-alih langsung mengatakan, “Laki-laki tidak boleh menangis,” orang tua dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena kalah, ya. Wajar kalau kamu sedih.”
Validasi seperti ini tidak berarti orang tua mengajarkan anak untuk terus larut dalam kesedihan. Setelah emosi mulai lebih tenang, orang tua dapat membantu anak memikirkan apa yang bisa dilakukan berikutnya. Anak juga dapat belajar memberi nama pada perasaannya. Apakah ia sedih, kecewa, takut, malu, marah atau merasa tidak adil? Kemampuan mengenali emosi menjadi bagian dari proses regulasi emosi karena anak tidak hanya bereaksi terhadap perasaan, tetapi mulai memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Di sinilah perbedaan antara mengekspresikan emosi dan kehilangan kendali atas emosi.
Anak laki-laki boleh menangis. Tetapi ia tetap perlu belajar menenangkan diri, menyampaikan kemarahan tanpa kekerasan, menyelesaikan konflik dan menerima kekecewaan. Begitu pula anak perempuan. Kemampuan tersebut tidak ditentukan oleh jenis kelamin.
Bagaimana Mengajarkan Anak Laki-Laki Mengelola Emosi?
Orang tua tidak harus selalu langsung menghentikan tangisan anak. Langkah pertama dapat dilakukan dengan tetap hadir dan memastikan anak merasa aman.
Ketika anak menangis, orang tua dapat menggunakan kalimat sederhana seperti, “Kamu kelihatannya sedih. Mau cerita apa yang terjadi?” Jika anak belum siap berbicara, beri waktu untuk menenangkan diri. Setelah anak lebih tenang, bantu ia memahami penyebab emosinya. Orang tua juga dapat menunjukkan bahwa orang dewasa mengalami emosi yang sama. Ayah yang mengatakan, “Ayah juga pernah kecewa,” misalnya, dapat menunjukkan kepada anak bahwa merasakan emosi bukan sesuatu yang memalukan.
Namun, validasi emosi tidak berarti semua keinginan anak harus dituruti. Orang tua tetap dapat mengatakan, “Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.” Batas seperti ini penting agar anak memahami bahwa semua emosi dapat diterima, sementara tidak semua perilaku dapat dibenarkan.
Orang tua juga dapat mengajarkan cara menenangkan diri, seperti mengambil napas perlahan, menjauh sementara dari situasi yang membuat marah, berbicara ketika sudah lebih tenang, atau mencari bantuan orang dewasa. Dengan pola seperti ini, anak laki-laki tetap belajar menjadi tangguh tanpa harus percaya bahwa ketangguhan berarti menyembunyikan perasaan.
Mendidik anak laki-laki agar kuat tidak harus dilakukan dengan melarangnya menangis. Kekuatan emosional justru dapat dibangun ketika anak mengenali apa yang dirasakan, mampu mengungkapkannya dengan cara yang aman, kemudian belajar mengatur responsnya.
Anak laki-laki yang menangis bukan berarti anak yang lemah. Ia sedang mengalami emosi seperti manusia lainnya. Tugas orang tua bukan menghapus emosi tersebut, melainkan membantu anak memahami bahwa merasa sedih, takut, kecewa atau terluka adalah hal yang manusiawi, dan ia tetap bisa belajar menghadapi semua perasaan itu dengan sehat. (bl/sa)




