• Login
Bacaini.id
Tuesday, September 29, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Komunisto Phobi dan Nasakom, Penjelasan Bung Karno 4 Bulan Sebelum G30S 1965

Empat bulan sebelum G30S 1965, Bung Karno menjelaskan alasan memilih istilah “komunis” dalam Nasakom sekaligus menyinggung Komunisto Phobi, PKI, PSI, dan BPS

ditulis oleh Solichan Arif
29 September 2026 15:09
Durasi baca: 3 menit
Bung Karno menjelaskan Komunisto Phobi dan Nasakom dalam pidato tahun 1965

Bung Karno menjelaskan Komunisto Phobi dan alasan penggunaan istilah komunis dalam Nasakom pada 1965 (foto/ist)

Reporter: Solichan Arif | Editor: Editor

Poin Penting:

  • Bung Karno menjelaskan istilah “Komunisto Phobi” dalam pidatonya pada HUT ke-45 PKI di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 Mei 1965.
  • Menurut Soekarno, istilah “komunis” sengaja digunakan dalam Nasakom untuk menghadapi ketakutan dan kebencian terhadap komunisme dan PKI.
  • Dalam pidato tersebut, Bung Karno juga menjelaskan mengapa ia tidak menggunakan istilah Nasasos atau Nasamarx, serta menyinggung PSI dan BPS.

Bacaini.ID, JAKARTA – Empat bulan sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) tumpas oleh ‘operasi militer’ 30 September 1965 (G30S 1965), Presiden Soekarno atau Bung Karno berpidato soal komunisto phobi yang itu sekaligus menjelaskan alasan pemakaian terminologi komunis dalam Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis).

Kenapa tidak memakai terminologi Sos (Sosialisme), Nasasos, atau Marx (Marxisme), Nasamarx? Atau merujuk pada gagasan tahun 1926, yakni Nasionalis, Islam dan Marxisme. Tapi justru memilih menyatukan tenaga-tenaga progresif revolusioner dengan nama Nasakom.

Baca Juga: Operasi Militer di Blitar Selatan Pasca Pembunuhan 7 Jenderal

Berpidato di depan ratusan ribu massa di acara HUT ke-45 PKI di Stadion Utama Gelora Bung Karno (Senayan) Jakarta 23 Mei 1965, Bung Karno mengatakan pemilihan term komunis dalam Nasakom karena alasan masih banyak orang-orang Indonesia yang phobia dengan komunis (Komunisto phobi).

Masih banyak ditemukan komunisto phobi di kalangan orang nasionalis, di kalangan orang agama dan di kalangan orang-orang angkatan bersenjata. Bung Karno ingin membersihkan semua ketakutan atau komunisto phobi itu. Karenanya ia sengaja memakai ‘kom’ dalam penggabungan nationale revolutionaire krachten.

“Phobi kepada “Kom” artinya takut kepada “Kom”, khususnya takut kepada PKI, benci kepada PKI, hendak menghancur-leburkan PKI,” kata Bung Karno seperti dikutip Bacaini.ID dari pidato Rapat Raksasa Ulang Tahun ke-45 PKI Selasa (29/9/2026).

Alasan lain memakai term komunis dalam Nasakom adalah PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang telah dibubarkannya bersama Partai Masyumi. Bung Karno tidak ingin gagasannya dicuri oleh orang-orang PSI yang telah dicapnya sebagai golongan kontrarevolusioner.

Ia berpandangan selama ini PSI sering membanggakan diri sebagai kaum Marxis. Padahal mereka, kata Soekarno merupakan golongan revisionis (kontra marxisme). Karenanya dipilihlah term ‘kom’ atau Nasakom ketimbang ‘marx’ atau Nasamarx.

“Kalau aku memakai perkataan Nasamarx, jangan-jangan nanti orang-orang PSI juga ikut-ikut di dalam Nasamarx ini saudara-saudara. Padahal mereka adalah kontra-revolusioner, padahal mereka adalah revisionis tulen, padahal mereka adalah pencoleng Marxisme!,” tegas Bung Karno.

Baca Juga: 61 Tahun Setelah 1965, Apa yang Masih Diingat Kediri?

Bung Karno juga menyinggung soal pejuang-pejuang gadungan. Tenaga-tenaga revolusioner gadungan. Marhenis gadungan. Marxis gadungan, yang itu tidak boleh dipersatukan dalam perjuangan anti imperialisme. Menurut Soekarno, tenaga-tenaga gadungan lebih berbahaya ketimbang imperialis sendiri.

“Itulah sebabnya tempo hari saya perintahkan, bubarkan BPS (Badan Pendukung Soekarnosime) dan semua antek-antek BPS,” kata Soekarno.

Di tengah riuh tepuk tangan ratusan ribu massa, Soekarno menyitir ulang ungkapan yang pernah dilontarkannya dalam pidato di Kongres PKI ke-VI. Memperlihatkan hubungan Soekarno dan PKI. Dudu sanak, dudu kadang, yen mati aku melu kelangan. Ungkapan itu direvisi sendiri olehnya menjadi, yo sanak yo kadang, yen mati aku kelangan.

Bung Karno menegaskan, sebagai Mandataris MPR dan juga Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, semua unsur progresif revolusiner harus dirangkulnya, termasuk PKI. Ia meyakini revolusi Indonesia tidak akan bisa selesai tanpa menggabungkan seluruh kekuatan tenaga progresif revolusioner.

“Siapa bilang ini soto sembarang soto. Soto ini dari babat. Siapa bilang aku ke Tokyo. Lebih senang tinggal di kalangan rakyat,” kata Soekarno yang menyelipkan pantun yang membakar semangat di pidato Rapat Raksasa Ulang Tahun ke-45 PKI. (sa/edt)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: bung karnoG30S1965HUT ke-45 PKIkomunismekomunisto phobimarxismenasakomOperasi MiliterphobiaPKIsoekarno
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Bung Karno menjelaskan Komunisto Phobi dan Nasakom dalam pidato tahun 1965

Komunisto Phobi dan Nasakom, Penjelasan Bung Karno 4 Bulan Sebelum G30S 1965

Anak jadi pembully dan hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying

Anak Jadi Pembully, Apakah Salah Pola Asuh Orang Tua? Ini Faktanya

Perempuan memilih parfum sesuai karakter aroma floral, citrus, dan woody

Cara Memilih Parfum Sesuai Karakter, dari Floral hingga Woody

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In