“Kenapa Kota Kediri nggak seperti Yogya?”
Pertanyaan semacam ini mungkin sederhana. Tapi coba buka Instagram, TikTok, atau grup WhatsApp warga Kota Kediri. Kita akan menemukan versi lain yang kurang lebih sama.
“Kenapa tempat nongkrong di Kediri begini?”
“Kenapa kotanya tidak seperti Surabaya?”
“Kenapa di kota lain ada ruang publik seperti itu, di sini tidak?”
Dulu, warga mungkin hanya membandingkan Kediri dengan kota-kota yang pernah mereka kunjungi. Sekarang, perbandingan itu bisa terjadi setiap hari, bahkan tanpa meninggalkan rumah.
Cukup membuka ponsel. Dalam beberapa menit, seseorang bisa melihat taman kota di Surabaya, tempat nongkrong di Malang, trotoar di Bandung, festival malam di Yogyakarta, sampai ruang publik di kota-kota kecil yang sedang viral.
Setelah itu, ia melihat kembali kotanya sendiri. Lalu muncul pertanyaan, “Kok kita tidak seperti mereka?”
Di situlah persoalannya menjadi menarik. Barangkali warga Kota Kediri memang sedang menjadi semakin banyak tuntutan. Tetapi bisa jadi bukan karena mereka semakin sulit puas. Mereka hanya semakin tahu bahwa ada sesuatu yang bisa diminta dari sebuah kota.
Dulu Warga Membandingkan Harga, Sekarang Membandingkan Pengalaman
Ada perubahan besar dalam cara orang memandang kota. Dulu, ukuran kota yang nyaman mungkin sederhana. Jalan tidak terlalu macet, pasar tersedia, sekolah mudah dijangkau, rumah sakit ada, dan kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi.
baca halaman selanjutnya…………




