Selamat malam kak Elim Tyu Samba
Sebelumnya mohon maaf kalau malam-malam masih menulis surat untuk kakak. Saya tahu, sejak memutuskan macung sebagai bakal calon Ketua Umum KONI Kota Blitar 2026-2031, kak Elim Tyu Samba lebih sering begadang sepanjang malam. Semakin banyak kehilangan waktu tidur. Betul kan kak? Karenanya meski sudah malam, surat ½ terbuka ini tetap ditulis.
Saya buka dengan all everything about KONI. Karena semua yang dilakukan kak Elim Tyu Samba saat ini tentu tidak jauh-jauh dari seputar KONI Kota Blitar. Bener kan? Itu mudah ditebak. Apa-apa tentang KONI. Mau makan ingat KONI. Mau mandi ingat KONI. Mau tidur dan bangun tidur, ingat KONI. Apalagi acara inti Musorkotlub sudah berada di depan hidung (22 September 2026). Jangan lupa jaga kesehatan ya kak.
Kenapa perlu menjaga kesehatan? Ya karena tentu jam tidur kak Elim semakin tidak teratur. Momen-momen rileks tentu sudah tergusur dengan obrolan politik kontestasi Ketum KONI Blitar. Lebih banyak diisi dengan komunikasi dan konsolidasi pemenangan. Menghadiri pertemuan sana-sini. Menjawab telpon sana-sini. Balas WA sini-sana. Seolah yang fana itu waktu, dan KONI itu abadi.
Kemudian ditambah lagi adanya reaksi massa saat rapat pleno Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) pada Kamis malam 17 September 2026. Yang meminta nama kak Elim Tyu Samba dicoret dari bakal calon Ketum KONI 2026-2031 karena menurut mereka pernah tersangkut perkara hukum (pidana atau perdata). Kak Elim tentu semakin susah tidur. Jangan ya kak. Tetap jaga kesehatan ya.
Leiden is lijden. Kak Elim tahu kan artinya? Memimpin adalah menderita. Ungkapan Belanda itu kerap disitir oleh KH Agus Salim, pahlawan kita semua, bangsa Indonesia. Memimpin adalah jalan menderita. Berjuang adalah jalan menderita. Kemarin seusai menyerahkan syarat bacalon Ketum KONI Kota Blitar, kak Elim menyinggung soal perjuangan.
Berada di tengah massa pada 7 September 2026. Berdiri di barisan depan dan berorasi dengan lantang menuntut pencairan dana hibah KONI Kota Blitar Rp2,8 miliar, kakak katakan sebagai jalan berjuang. Saat kemudian dilaporkan ke Polres Blitar Kota karena diduga mengeksploitasi anak-anak, kak Elim bilang lika-liku perjuangan.
Maaf ya kak Elim. Sebagai teks memang tidak keliru. Namun ketika dihadapkan pada konteks, pesan yang kakak sampaikan terdengar klise dan juga naif. Berjuang untuk siapa? Untuk kesejahteraan pengurus KONI Kota Blitar? Berjuang untuk 30 persen dana hibah Rp2,8 miliar? Yang selama ini dipakai untuk operasional (belanja rutin) pengurus.
Tentu akan beda kalau sebelum berargumentasi kak Elim lebih dulu memberi prolog: jika terpilih akan mereformasi dana operasional hibah dari 30 persen menjadi 10 persen. Kemudian pangkasannya ditambahkan kepada 45 cabang olahraga (cabor) yang selama ini paling berkeringat dalam meraih prestasi.
Ya, Ratih Dewi Indarti, satu-satunya kompetitor kak Elim dalam kontestasi pemilihan Ketum KONI Kota Blitar 2026-2031 mengucapkan itu. Ia tegas mengatakan sebagai bagian visi-misinya. Mungkin karena berpengalaman memimpin cabor, yakni sejak 2019 hingga sekarang, Ratih memahami visi misi KONI: pembinaan dan prestasi.
Sekali lagi mohon maaf. Mungkin karena kak Elim belum berpengalaman. Belum pernah memimpin cabor, dan menjadi Plt Ketum KONI Kota Blitar juga karena faktor keberuntungan. Wajar kalau narasi visi misi yang kakak sampaikan terdengar makro dan klise. Tidak setegas dan sejelas Ratih Dewi Indarti.
Kesan yang muncul di permukaan saat ini, kak Elim Tyu Samba dalam Musorkotlub Kota Blitar lebih mewakili kepentingan pengurus yang berisi orang-orang lama. Sedangkan Ratih Dewi Indarti mewakili kepentingan cabor dan atlet, yang menawarkan reformasi atau perubahan lebih baik. Namun semua tahu pemilihan adalah lain soal. Yang hasilnya seringkali absurd sekaligus anomali.
By the way soal dana hibah KONI Rp2,8 miliar. Kenapa kak Elim tidak berkomunikasi langsung dengan Mas Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin? Toh, ruangan kerja kakak dan Mas Ibin juga bersebelahan. Tidak perlu pakai demo-demo. Tidak perlu pakai ribut-ribut. Sehingga musorkotlub KONI Kota Blitar berjalan teduh dan semua terlihat sae (bagus). Kenapa ya kak?
*) Penulis adalah penyuka pecel punten dan soto sor ceri Kota Blitar sekaligus Elim Tyu Samba admirer




