Poin Penting:
- Perempuan lebih rentan mengalami migrain setelah pubertas, salah satunya berkaitan dengan perubahan hormon.
- Fluktuasi estrogen dapat memengaruhi migrain, terutama menjelang menstruasi dan pada fase perubahan hormonal seperti perimenopause.
- Migrain tidak hanya disebabkan hormon; faktor genetik, kurang tidur, stres, dehidrasi dan pemicu lain juga berperan
Bacaini.ID, KEDIRI — Mengapa migrain lebih sering dialami perempuan ketimbang laki-laki? Polanya ternyata berubah mengikuti perjalanan biologis tubuh, mulai dari pubertas, menstruasi, kehamilan hingga perimenopause. Salah satu petunjuk penting migrain perempuan yang diteliti adalah perubahan hormon estrogen.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut migrain sebagai salah satu gangguan neurologis yang paling umum. Migrain ditandai dengan sakit kepala berulang yang dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari dan sering kali disertai mual, muntah serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
Menurut American Migraine Foundation, sekitar tiga dari empat orang yang mengalami migrain adalah perempuan. Perbedaan tersebut tidak terlihat dengan pola yang sama sejak masa kanak-kanak. Risiko migrain pada anak laki-laki dan perempuan relatif serupa sebelum pubertas, kemudian meningkat pada perempuan setelah memasuki masa pubertas. Pola tersebut jadi salah satu petunjuk penting dalam penelitian mengenai hubungan antara migrain dan hormon seks perempuan, terutama estrogen.
Mengapa Migrain Lebih Banyak Dialami Perempuan?
Migrain merupakan kondisi neurologis kompleks. Penyebabnya tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. Genetik, aktivitas sistem saraf, lingkungan, pola tidur, stres dan berbagai pemicu lain dapat berperan terhadap munculnya serangan migrain. Namun, perbedaan angka kejadian antara perempuan dan laki-laki menunjukkan adanya faktor biologis tambahan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah perubahan hormon.
Perbedaan risiko migrain mulai terlihat setelah pubertas, ketika tubuh perempuan mengalami perubahan besar pada produksi hormon seks. Siklus menstruasi kemudian membuat kadar hormon tersebut kembali mengalami perubahan secara berkala.
Estrogen menjadi salah satu hormon yang paling banyak diteliti dalam kaitannya dengan migrain. Bukan berarti kadar estrogen yang tinggi secara otomatis menyebabkan migrain.
Sebaliknya, perubahan atau penurunan kadar estrogen secara cepat diduga dapat memengaruhi sistem saraf yang berkaitan dengan munculnya serangan migrain pada sebagian perempuan. Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa sebagian perempuan mengalami migrain pada waktu tertentu dalam siklus menstruasi. Pola ini juga menjadi alasan mengapa migrain pada perempuan tidak selalu sama sepanjang hidup. Frekuensi dan intensitasnya dapat berubah ketika terjadi perubahan besar pada sistem hormonal, seperti kehamilan, setelah melahirkan, perimenopause dan menopause.
Mengapa Migrain Bisa Muncul Menjelang Menstruasi?
Salah satu pola yang paling banyak diteliti adalah menstrual migraine atau migrain yang berkaitan dengan menstruasi. Serangan migrain dapat terjadi selama periode menstruasi atau beberapa hari di sekitar awal menstruasi. Pada sebagian perempuan, serangan ini dapat terasa lebih berat dan berlangsung lebih lama dibandingkan migrain pada waktu lain dalam siklus.
Salah satu penjelasan yang banyak dibahas adalah penurunan estrogen menjelang menstruasi. Menjelang menstruasi, kadar estrogen mengalami perubahan setelah sebelumnya meningkat pada fase tertentu dalam siklus. Pada perempuan yang sensitif terhadap perubahan hormonal tersebut, fluktuasi estrogen diduga dapat memicu rangkaian perubahan pada sistem saraf yang kemudian berujung pada serangan migrain.
Namun, hormon bukan satu-satunya faktor. Periode menjelang menstruasi juga dapat disertai perubahan tidur, stres, nafsu makan, pola konsumsi makanan dan berbagai perubahan tubuh lainnya. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi pemicu tambahan pada seseorang yang memang memiliki kerentanan terhadap migrain.
Karena itu, tidak semua perempuan yang mengalami menstruasi akan mengalami migrain, dan tidak semua migrain pada perempuan berkaitan dengan siklus menstruasi.
American Migraine Foundation mencatat bahwa migrain yang berkaitan dengan menstruasi dapat menjadi lebih sulit ditangani pada sebagian perempuan. Karena karakteristiknya berbeda, dokter dapat mempertimbangkan pola waktu serangan ketika melakukan evaluasi.
Mencatat kapan sakit kepala muncul dalam kaitannya dengan siklus menstruasi juga dapat membantu melihat apakah terdapat pola tertentu.
Bagaimana Kehamilan Memengaruhi Migrain?
Kehamilan kembali menunjukkan betapa eratnya perubahan hormonal dan migrain dapat saling berkaitan. Pada sebagian perempuan yang sebelumnya mengalami migrain, frekuensi serangan dapat berkurang selama kehamilan. Kondisi tersebut terutama dilaporkan pada perempuan yang mengalami migrain tanpa disertai gejala aura, yaitu gejala sementara akibat gangguan saraf yang biasanya muncul sebelum atau saat serangan migrain.
Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah perubahan kadar hormon yang menjadi lebih stabil selama kehamilan dibandingkan fluktuasi yang terjadi dalam siklus menstruasi. Namun, pengalaman setiap perempuan berbeda. Sebagian tetap mengalami migrain selama kehamilan, sementara sebagian lainnya justru dapat mengalami perubahan pola sakit kepala.
Hal yang penting diperhatikan adalah sakit kepala baru atau perubahan pola sakit kepala selama kehamilan tidak boleh langsung dianggap sebagai migrain biasa. Kehamilan dapat meningkatkan risiko sejumlah kondisi medis yang juga dapat menyebabkan sakit kepala, termasuk preeklamsia. Karena itu, sakit kepala yang berat, tiba-tiba, berbeda dari biasanya atau disertai gejala tertentu membutuhkan evaluasi medis.
Setelah melahirkan, kondisi kembali berubah. Kadar hormon mengalami perubahan cepat, sementara ibu juga menghadapi kemungkinan kurang tidur, perubahan jadwal makan, kelelahan dan stres. Berbagai faktor tersebut dapat menjadi pemicu migrain pada perempuan yang memang rentan.
Perimenopause Bisa Mengubah Pola Migrain
Perubahan hormon juga menjadi bagian penting ketika perempuan memasuki perimenopause, yaitu periode transisi menuju menopause. Pada fase ini, kadar estrogen dapat berfluktuasi secara lebih tidak teratur. Akibatnya, perempuan yang sebelumnya mengalami migrain dapat mengalami perubahan frekuensi atau intensitas serangan.
American Migraine Foundation menyebut migrain pada sebagian perempuan dapat menjadi lebih sering atau lebih berat selama perimenopause. Namun, setelah menopause dan kadar hormon menjadi lebih stabil, sebagian perempuan mengalami perbaikan. Meski demikian, menopause tidak otomatis menghilangkan migrain. Sebagian perempuan tetap mengalami migrain setelah menopause. Faktor lain seperti riwayat migrain, penggunaan terapi hormon, kondisi kesehatan dan pemicu individual dapat memengaruhi pola tersebut.
Hubungan ini juga menunjukkan bahwa fluktuasi hormon kemungkinan lebih penting daripada sekadar jumlah hormon yang dimiliki tubuh. Perempuan tidak mengalami migrain hanya karena memiliki estrogen. Justru perubahan kadar hormon pada waktu tertentu diduga menjadi salah satu faktor yang dapat memicu serangan pada perempuan yang rentan.
Hormon Bukan Satu-satunya Penyebab Migrain pada Perempuan
Meskipun hubungan antara estrogen dan migrain cukup kuat untuk diteliti, migrain tetap merupakan gangguan neurologis yang kompleks.
Faktor genetik memiliki peran penting. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat migrain dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Selain itu, berbagai faktor dapat memicu serangan pada orang yang sudah memiliki kerentanan terhadap migrain. Pemicu tersebut dapat berbeda antara satu orang dan lainnya. Kurang tidur, stres, dehidrasi, terlambat makan, perubahan jadwal tidur, cahaya terang, suara tertentu hingga perubahan cuaca dapat menjadi pemicu pada sebagian penderita.
Karena itu, menganggap migrain sebagai ‘masalah hormon perempuan’ saja dapat memberikan gambaran yang keliru. Hormon lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari mekanisme yang membuat perempuan memiliki risiko migrain lebih tinggi, terutama selama periode kehidupan ketika terjadi perubahan hormonal yang besar.
Kapan Sakit Kepala Perlu Diperiksakan?
Migrain umumnya dapat dikenali melalui pola sakit kepala yang berulang. Namun, tidak semua sakit kepala merupakan migrain.
Sakit kepala yang muncul secara tiba-tiba dan sangat berat, mengalami perubahan pola yang signifikan, muncul setelah cedera kepala, atau disertai gejala neurologis tertentu membutuhkan pemeriksaan medis. Demikian pula sakit kepala baru selama kehamilan atau setelah melahirkan sebaiknya tidak langsung diasumsikan sebagai migrain.
Menurut WHO, migrain merupakan salah satu kondisi neurologis yang dapat menyebabkan disabilitas dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, serangan yang berulang dan mengganggu pekerjaan, tidur atau aktivitas sehari-hari layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Bagi perempuan, mencatat waktu munculnya sakit kepala juga dapat membantu. Informasi mengenai hubungan antara serangan dengan menstruasi, perubahan tidur, stres, makanan atau faktor lain dapat memberikan gambaran mengenai pola migrain masing-masing.
Pada akhirnya, lebih tingginya angka migrain pada perempuan tidak dapat dijelaskan oleh satu penyebab. Perubahan hormon, terutama fluktuasi estrogen, menjadi salah satu petunjuk penting yang membantu peneliti memahami perbedaan tersebut.
Pola migrain yang berubah setelah pubertas, selama menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan hingga perimenopause menunjukkan bahwa perjalanan migrain pada perempuan dapat berkaitan dengan berbagai fase perubahan biologis sepanjang hidup. (bl/sa)




