Poin Penting:
- Berteman dengan lawan jenis di kantor tidak otomatis berarti melewati batas.
- Yang perlu diperhatikan adalah konteks, intensitas, transparansi, dan kerahasiaan interaksi.
- Komunikasi terbuka dengan pasangan dan batas profesional membantu menjaga kepercayaan.
Bacaini.ID, KEDIRI – Berteman dengan lawan jenis di kantor (rekan kerja), utamanya sudah memiliki pasangan, sedang jadi perbincangan di media sosial. Sementara pekerjaan membuat orang berkomunikasi, berdiskusi, makan bersama, bahkan sesekali saling membantu di luar tugas utama.
Ada pasangan yang keberatan ketika suaminya memberi tumpangan kepada teman perempuan di kantor. Ada pula yang merasa tidak nyaman melihat percakapan antara pasangan dan bawahannya yang menggunakan sapaan akrab seperti ‘Mas’, meskipun percakapan tersebut sebenarnya berkaitan dengan pekerjaan.
Persoalannya bukan sekadar cemburu, tapi ada sikap profesionalisme yang dipertanyakan. Ada etika berteman dengan lawan jenis. Ada batas pertemanan lawan jenis.
Akrab dengan Rekan Kerja Lawan Jenis Tidak Selalu Berarti Melewati Batas
Memiliki teman dekat di kantor bukan berarti seseorang otomatis melakukan sesuatu yang salah. Lingkungan kerja memang memungkinkan hubungan profesional berkembang menjadi pertemanan.
Menurut American Psychological Association (APA), hubungan interpersonal yang sehat membutuhkan batas atau boundaries, yaitu batas mengenai perilaku, waktu, informasi pribadi, dan tingkat kedekatan yang dianggap nyaman dalam sebuah hubungan.
Dalam lingkup pekerjaan, batas tersebut menjadi lebih penting karena hubungan profesional memiliki tujuan utama menyelesaikan pekerjaan. Rekan kerja bisa saja saling bercanda, makan siang bersama, berdiskusi di luar jam kerja, atau saling membantu selama semuanya masih berada dalam konteks yang wajar.
Karena itu, satu tindakan tidak bisa langsung dijadikan ukuran bahwa seseorang telah melewati batas. Misalnya, memberikan tumpangan kepada rekan kerja perempuan tidak otomatis berarti ada hubungan khusus. Begitu pula penggunaan sapaan atau panggilan tertentu belum tentu menunjukkan kedekatan romantis. Di banyak lingkungan kerja, sapaan tersebut memang merupakan kebiasaan komunikasi yang dibangun untuk menumbuhkan kekompakan tim.
Yang perlu dilihat adalah keseluruhan pola interaksinya. Apakah komunikasi tersebut memang berkaitan dengan pekerjaan? Apakah dilakukan secara terbuka? Apakah ada percakapan yang sengaja disembunyikan dari pasangan? Apakah kedekatan tersebut mulai melibatkan persoalan pribadi dan emosional secara intens? Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih relevan daripada hanya melihat satu bentuk interaksi.
Kapan Pertemanan dengan Teman Kantor Mulai Terlalu Personal?
Masalah biasanya muncul ketika hubungan profesional perlahan berubah menjadi hubungan yang terlalu personal. Misalnya, rekan kerja mulai menjadi orang pertama yang selalu dicari ketika sedang memiliki masalah pribadi. Percakapan pekerjaan berkembang menjadi komunikasi rutin mengenai kehidupan pribadi.
Pertemuan berdua semakin sering dilakukan tanpa kebutuhan pekerjaan yang jelas, atau seseorang merasa perlu menghapus percakapan tertentu agar tidak diketahui pasangannya. Penelitian tentang ’emotional infidelity’ atau perselingkuhan emosional menunjukkan bahwa pelanggaran batas hubungan tidak selalu berbentuk kontak fisik.
Salah satu persoalan yang dibahas dalam literatur psikologi hubungan adalah ketika seseorang membangun kedekatan emosional yang sangat intens dengan orang lain di luar hubungan romantisnya, terutama jika kedekatan tersebut melibatkan kerahasiaan atau mengurangi keintiman dengan pasangan.
Setiap pasangan memiliki batasan yang berbeda. Ada pasangan yang menganggap makan berdua dengan rekan kerja sebagai hal biasa. Pasangan lain mungkin merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut. Karena itu, standar yang sehat tidak selalu bisa ditentukan hanya berdasarkan kebiasaan orang lain, atau standar media sosial.
Yang lebih penting adalah kesepakatan dan transparansi dalam hubungan. Jika seseorang merasa perlu menyembunyikan interaksi tertentu dari pasangan karena khawatir pasangan akan mengetahuinya, hal tersebut patut menjadi bahan evaluasi.
Bukan karena setiap interaksi rahasia otomatis merupakan perselingkuhan, tetapi karena kebutuhan untuk menyembunyikan hubungan dapat menjadi tanda bahwa batas dalam hubungan perlu dipertanyakan.
Cara Menjaga Profesionalisme dengan Rekan Kerja Lawan Jenis
Menjaga batas bukan berarti perempuan maupun laki-laki harus menjaga jarak berlebihan dengan semua rekan kerja lawan jenis. Dalam dunia kerja, sikap seperti ini justru tidak selalu realistis, bahkan bisa menjadi penghambat kinerja.
Yang lebih memungkinkan adalah menjaga beberapa prinsip dasar:
• Bedakan urusan pekerjaan dan kedekatan pribadi. Tidak semua komunikasi harus berubah menjadi percakapan personal. Jika pekerjaan memang membutuhkan komunikasi di luar jam kantor, pembahasannya tetap bisa dibuat proporsional.
• Perhatikan konteks dan intensitas. Sekali makan bersama karena pekerjaan tentu berbeda dengan kebiasaan bertemu berdua setiap hari tanpa kebutuhan profesional.
• Jangan menjadikan pasangan sebagai alasan untuk mengontrol seluruh pertemanan. Rasa tidak nyaman dalam hubungan sebaiknya dibicarakan, bukan otomatis diterjemahkan menjadi larangan berteman dengan lawan jenis.
Sebaliknya, orang yang sudah memiliki pasangan juga perlu memahami bahwa status ‘teman kantor’ bukan berarti semua perilaku otomatis bebas dari pertimbangan. Menjaga perasaan pasangan bukan berarti kehilangan kebebasan, melainkan bagian dari membangun kepercayaan dan kesepakatan dalam hubungan.
• Hindari kedekatan yang sengaja dibuat ambigu. Jika sebuah candaan, pesan, perhatian, atau pertemuan dapat dengan mudah disalahartikan sebagai pendekatan romantis, ada baiknya mempertimbangkan kembali cara berinteraksi.
Etika berteman dengan rekan kerja yang sudah memiliki pasangan, yang lebih penting adalah mengetahui batas profesional dan memastikan bahwa hubungan profesional tidak mengarah pada kedekatan personal.
Seseorang tetap bisa memiliki teman dekat di kantor setelah menikah atau berpasangan. Tetapi semakin dekat sebuah hubungan, semakin penting pula transparansi, komunikasi, dan penghormatan terhadap batas yang telah disepakati dengan pasangan. (bl/sa)




