Bacaini.ID, KEDIRI — Malam hari, ribuan orang rela begadang demi menyaksikan pertandingan sepak bola. Kedai kopi penuh ketika tim nasional bertanding. Media sosial berubah menjadi arena diskusi. Strategi pelatih diperdebatkan, susunan pemain dikritik, hingga perayaan kemenangan yang terkadang absurd.
Antusiasme serupa juga terlihat ketika atlet Indonesia berlaga di cabang sepak bola, bulu tangkis, voli, atau olahraga lainnya. Stadion bisa mendadak penuh. Demikian pula nama atlet menggeser selebiritis di ruang-ruang komunikasi massa.
Indonesia tampaknya memang mencintai olahraga. Atau setidaknya sangat gemar menonton olahraga.
Namun apakah kegemaran menyaksikan pertandingan otomatis menjadikan masyarakat Indonesia gemar berolahraga? Jawabannya belum tentu.
Sebab, ada perbedaan besar antara menjadi penonton yang antusias dan menjadi individu yang aktif bergerak. Kita bisa hafal statistik pemain sepak bola, mengikuti klasemen liga, bahkan rela membeli jersey klub kesayangan. Namun belum tentu kita memiliki kebiasaan berjalan kaki, berlari, bersepeda, atau meluangkan waktu secara rutin untuk menggerakkan tubuh.
Di titik inilah peringatan Hari Olahraga Nasional atau Haornas setiap 9 September memiliki arti.
Haornas memang seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang prestasi atlet, atau sekedar menggelar kegiatan olahraga massal. Peringatan ini semestinya menjadi pertanyaan besar, “Sudahkah olahraga benar-benar menjadi budaya hidup masyarakat Indonesia?”
Menjadi Konsumen Olahraga
Kemajuan teknologi membuat masyarakat semakin mudah menikmati olahraga tanpa harus bergerak sedikit pun. Pertandingan bisa ditonton dari televisi, telepon genggam, hingga layar besar di kafe. Informasi tentang atlet tersedia setiap saat. Media sosial membuat penggemar merasa dekat dengan klub dan pemain idolanya.
Di sinilah olahraga kemudian menjadi tontonan dan hiburan, bahkan identitas.
Kita bisa menghabiskan berjam-jam membahas pertandingan. Tetapi pada saat yang sama, tubuh kita justru menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk.
Duduk di kendaraan saat berangkat bekerja. Duduk di kantor atau ruang kuliah. Duduk di depan layar komputer. Pulang ke rumah dan kembali duduk sambil memainkan telepon genggam.
Jempol bergerak aktif, namun tubuh justru semakin pasif.
Fenomena inilah yang menunjukkan bahwa kecintaan terhadap olahraga belum tentu berbanding lurus dengan budaya berolahraga. Kita semakin banyak menjadi konsumen olahraga, tetapi belum tentu menjadi pelaku olahraga.
Bangga pada Atlet, Lupa Menggerakkan Diri Sendiri
Tidak ada yang salah dengan menjadi penggemar olahraga. Dukungan masyarakat kepada atlet bahkan menjadi bagian penting dalam perkembangan olahraga nasional.
Masalahnya muncul ketika kecintaan terhadap olahraga berhenti di layar.
Kita begitu bangga ketika atlet Indonesia membawa pulang medali. Kita merayakan kemenangan tim nasional. Kita berharap lahir lebih banyak atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama bangsa.
Namun apakah kita juga membangun budaya yang memungkinkan masyarakat biasa untuk hidup aktif dan sehat?
Membangun budaya olahraga tidak cukup dengan mengadakan kegiatan setahun sekali. Tidak cukup pula hanya dengan mengajak masyarakat untuk rajin berolahraga. Budaya membutuhkan kebiasaan. Dan kebiasaan membutuhkan ruang, waktu, fasilitas, serta lingkungan yang mendukung.
Masyarakat akan sulit diminta rutin berolahraga jika ruang publik untuk bergerak semakin terbatas. Anak-anak akan sulit bermain jika lapangan berubah menjadi bangunan. Pekerja juga sulit memiliki pola hidup aktif jika sebagian besar waktunya habis untuk bekerja dan perjalanan.
Karena itu, Haornas seharusnya juga menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap olahraga. Olahraga bukan hanya urusan Kementerian Pemuda dan Olahraga, atlet, pelatih, atau organisasi olahraga.
Olahraga sangat berkaitan dengan bagaimana kota dirancang, bagaimana ruang publik disediakan, bagaimana masyarakat bekerja, dan bagaimana pendidikan membentuk kebiasaan hidup. (htw/edt)




