Bacaini.ID, KEDIRI – Akuisisi media digital Narasi milik Najwa Shihab oleh Grup Djarum melalui PT Global Digital International (GDI) pada awal September 2026 menambah deretan media massa yang diambilalih konglomerasi.
Pengambilalihan ini disetujui seluruh pemegang saham dan telah tercatat di Kementerian Hukum RI. Meski nilai transaksi tidak diumumkan, publik langsung menyoroti dampaknya terhadap independensi editorial Narasi yang selama ini dikenal kritis terhadap isu politik dan pemerintahan.
Narasi dan Figur Najwa Shihab
Didirikan pada 2018, Narasi tumbuh sebagai salah satu media digital paling berpengaruh dengan gaya jurnalisme independen. Najwa Shihab, melalui program Mata Najwa dan Narasi Talks, kerap mengangkat isu sensitif mulai dari korupsi, demokrasi, hingga kebebasan pers.
Masuknya Grup Djarum, konglomerasi yang dikenal lewat bisnis rokok, perbankan, dan teknologi digital, menimbulkan pertanyaan besar. Apakah Narasi akan tetap menjadi watchdog atau berubah menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang lebih jinak?
Pola Akuisisi Media oleh Konglomerasi
Fenomena akuisisi Narasi bukan hal baru. Sejak satu dekade terakhir, konglomerasi besar di Indonesia agresif masuk ke media digital:
2011–2012
CT Corp mengakuisisi Detikcom, memperluas pengaruh Chairul Tanjung di media daring.
2014–2016
EMTEK Group mengambil alih KapanLagi Networks (KLN) dan memperkuat portofolio digitalnya dengan Liputan6.com.
2017–2019
Kumparan mendapat investasi besar dari Emtek Digital Ventures.
2020–2022
IDN Media menerima dukungan dari investor global termasuk Northstar Group.
2026
Grup Djarum melalui GDP Venture resmi menguasai Narasi.
Masuknya Grup Djarum ke dalam kepemilikan Narasi membawa konsekuensi ganda bagi masa depan media digital di Indonesia. Dari sisi positif, dukungan finansial dan teknologi yang dimiliki konglomerasi besar seperti Djarum bisa menjadi dorongan signifikan bagi Narasi untuk memperluas distribusi konten, memperkuat infrastruktur digital, serta membuka peluang monetisasi yang lebih stabil.
Dengan jaringan GDP Venture yang sudah mapan di sektor teknologi dan startup, Narasi berpotensi menjangkau audiens lebih luas dan mengintegrasikan kontennya ke dalam ekosistem digital yang lebih besar.
Namun, di balik peluang tersebut, muncul kekhawatiran serius mengenai independensi editorial. Narasi selama ini dikenal sebagai salah satu media yang berani bersuara kritis terhadap pemerintah dan isu publik.
Publik khawatir, dengan masuknya kepemilikan konglomerasi, ruang kebebasan itu akan tereduksi. Risiko homogenisasi narasi publik juga mengintai, di mana media yang sebelumnya beragam dan kritis bisa berubah menjadi lebih jinak, mengikuti kepentingan bisnis maupun politik pemilik modal.(htw/edt)




